|
KUNJUNGAN SBY KE PP. AL-ANWAR
Reporter ISMAH 5 hari untuk 1 jam 26 menit Kamis (4/6) lalu, Mesir mendapat kunjungan dari tamu agung, pemimpin negeri Adidaya, Barrack Obama. Presiden AS Pertama dari kalangan kulit hitam tersebut menyampaikan pidato sejumlah 6.000 kata di depan ratusan kaum muslim. Sikap pro-Israel yang dimiliki seniornya, tampaknya tidak dijadikan pedoman. Pidato - yang menawarkan sebuah visi perdamaian AS-dunia muslim setelah bertahun-tahun didera ketidakcocokan dan hubungan yang saling mencurigai - sangat ditunggu-tunggu sekitar 1 milliar umat Islam, khususnya Timur Tengah. Agaknya dia menginginkan transformasi demi perdamaian AS-Islam tersebut. Pada hari Selasa (9/4), giliran Rembang yang kedatangan tamu agung. Namun, bukan Presiden AS yang berkunjung, melainkan Presiden Republik Indonesia, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau datang dalam rangka kunjungan kerja selama 3 hari di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sekaligus silaturrahmi tokoh masyarakat dan ulama'. Dan di antara tujuan utama beliau adalah mbah KH. Maimoen Zubair. Kabar mengenai kunjungan pak SBY itu diterima sekitar 1 minggu sebelum hari H. Dan baru mendapat kepastiannya pada hari Jum'at (5/6). "Kami memperoleh kepastian dari istana pada hari Jum'at tanggal 5 Juni," ungkap Sekda Rembang, bapak Hamzah saat ditemui reporter Mading-Mu di pon. pes. Al-Anwar 2 desa Gondanrejo. Setelah mendapat kepastian tersebut, Bupati Rembang langsung mengadakan rapat pembentukan panitia. Bapak Hamzah juga menegaskan bahwa kunjungan Presiden ke Rembang ini sama sekali bukan termasuk agenda politik beliau. Meskipun masa kampanye telah dibuka setelah tanggal 2 Juni 2009. Adapun penentuan nomor urut capres dan cawapres dilakukan pada tanggal 30 Mei 2009. Kunjungan Presiden ke enam dan Presiden pertama yang dipilih secara langsung ini menjadi gawe besar bagi aparat kepolisian. Mengenai pengamanan, Kabag OPS Polres Rembang, Kompol Tri Kartono, sebagaimana dikutip dari radio R2B Rembang, menurunkan 387 orang anggota untuk memperlancar jalur darat dari Kaliori sampai dengan Sarang. Aparat Kepolisian menginginkan agar truk-truk pengangkut sembako yang memadati jalur pantura, tetap berjalan lancar dan tidak akan terganggu akibat kunjungan orang nomor satu di negeri ini. Sebelum berkunjung ke Mbah Moen, tepatnya Senin pagi (8/6), beliau bertolak menuju Solo. Dari Solo, Presiden yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono menuju Asrama Haji Donohudan Boyolali untuk membuka jambore Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) padi, jagung dan kedelai. (Jakarta, Cybernet). Kemudian Presiden menuju kota Lunpia, Semarang, melalui jalan darat untuk bermalam di sana. Selasa pagi (9/6), pak SBY meresmikan IKIP PGRI Semarang. Dan siangnya menuju kota Pati untuk melakukan silaturrahmi dengan kyai Sahal. Dan kunjungan terakhir pak SBY di Jawa Tengah adalah silaturrahmi dengan KH. Maimoen Zubair. Persiapan juga dilakukan dari pihak Pon. Pes. Al-Anwar pusat dan Al-Anwar 2. Karena lokasinya yang lebih luas dan tidak begitu berpotensi mengganggu arus jalan Pantura, acara yang dijaga super ketat itu diselenggarakan di Al-Anwar 2 Gondanrejo. Persiapan tersebut sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya. Dan mulai difokuskan dalam pemasangan tratak, panggung yang tingginya setengah meter, penataan kursi dan persiapan-persiapan lainnya pada Senin malam. SENYUM-SAPA-SALAM Setelah dilakukan pensterilan kurang-lebih setengah jam lamanya, lokasi acara siap dipakai dan para tamu undangan sudah diperbolehkan masuk, tepatnya hari Selasa, pukul 15.30 WIB. Demi kelancaran dan keamanan acara, saat hendak masuk lokasi, para undangan diharuskan melewati alat detektor logam. Setelah itu, tamu dipersilakan menempati tempat duduk yang telah disediakan. Malam itu, tempat duduk tamu dibagi menjadi dua. Yakni, tempat duduk untuk para undangan khusus yang bertempat di depan panggung, dan tempat duduk untuk para santri Al-Anwar di sekelilingnya. Dan pada pukul 17.00 WIB, santri sudah mulai memenuhi kursi. Jadwal kedatangan yang semestinya adalah pada pukul 19.00 WIB. Namun dikarenakan banyaknya masyarakat yang ingin menyapa Presiden mereka di pinggir jalur darat Kaliori-Sarang, perjalanan sedikit terganggu. Hingga pada pukul 20.15 WIB, figur penuh wibawa kelahiran 9 September 1949 di Pacitan Jawa Timur yang meraih pangkat jenderal pada tahun 2000 itu akhirnya tiba. Marching Band Al-Anwar yang telah siap-siaga langsung menyambut kedatangan bapak negara dengan lantunan merdunya. Sesampai di halaman pintu masuk MTs. Al-Anwar Gondanrejo, beliau yang diikuti rombongannya langsung disambut hangat oleh KH. Abdullah Ubab MZ beserta istri. Setelah sebentar bersalaman, pak SBY mengucapkan salam sambil mengedarkan pandangan kepada para wartawan dan tamu-tamu yang ikut menyambut pak Presiden tersebut, termasuk salah satu reporter Mading-Mu, Oky Agbas. Beliau langsung dipersilakan menuju ke kediaman putra kyai Maimoen tersebut. Di depan ndalem itulah Presiden disambut Mbah Moen kemudian memasuki tempat ramah-tamah. Ramah-tamah yang diadakan di kediaman mbah Ubab itu berlangsung sekitar 15 menit. Pukul 20.30 WIB pak SBY keluar dari ndalem dan berjalan beriringan dengan mbah Moen menuju tempat acara, melewati karpet merah yang terpasang sepanjang kediaman KH. Ubab sampai depan panggung. Di atas panggung, pak Presiden duduk berdampingan dengan mbah KH. Maimoen Zubair. Acara malam itu semakin istimewa dengan hadirnya tokoh-tokoh negara. Di antaranya, meninkominfo, bapak M. Nuh yang duduk di sebelah Barat Mbah Moen, dan Surya Dharma Ali besama istri. Acara tersebut juga berjalan menarik dengan kehadiran Bapak Gubernur Jawa Tengah, H. Bibit Waluyo beserta istri, dan juga Bupati Rembang, Salim bersama istri. URGENSI PERSATUAN BANGSA Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang berlangsung selama 10 menit. Susunan acara setelah itu adalah tausiah oleh KH. Maimoen Zubair. Dilanjutkan sambutan bapak Presiden. Kemudian ditutup dengan do'a bersama. "Bangsa Indonesia mendapatkan anugerah yang sangat besar. Yaitu berupa kesatuan negara," jelas mbah Moen pada tausiahnya. Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, menurut beliau adalah sebuah anugerah besar yang diberikan Allah untuk bangsa Indonesia. Sebab, bangsa Arab yang terdiri dari berbagai suku tidak dapat disatukan dan mengalami perpecahan. Berbeda dengan Indonesia. Meskipun tersusun dari berbagai pulau yang terpisah, berbagai suku bangsa dan budaya, bahkan berbagai suku agama, negara yang memiliki hasil bumi yang baik ini bisa disatukan sebagai sebuah negara. Negara Republik Indonesia. "Oleh karena itu, kita harus bersyukur atas semuanya yang diberikan kepada bangsa kita ini," mbah Maimoen menjelaskan. Beliau juga sempat mengisahkan kunjungan Bung Karno ke Rembang setelah proklamasi. Pak Karno menyitir sebuah ayat Qur'an dalam surat Ar-Rum. Dalam ayat itu Allah mengabarkan tentang kekalahan kerajaan besar Romawi oleh bangsa Arab (Islam, red) yang tergolong masih kecil. Kekalahan bangsa Romawi tersebut lebih disebabkan oleh tidak adanya persatuan dan kesatuan di dalam tubuh kerajaan Romawi. Kemudian Mbah Moen mengungkapkan ketakjubannya atas Presiden pertama sekaligus proklamator kemerdekaan RI. Bagaimana bisa Bung Karno menghafal ayat yang panjang itu. "Oleh karena itu, janganlah bertakabbur. Takabbur itu sama sekali tidak boleh. Meskipun kita menjadi seorang kyai," papar beliau yang kemudian disambut dengan tepuk tangan para hadirin. INTERAKSI ULAMA' DAN UMARA' "Beliau (Kyai Maimoen, red) adalah pelaku sejarah pejuang," tegas pak SBY yang malam itu mengenakan batik hijau dengan celana dan sepatu hitam. Beliau sangat setuju dengan apa yang telah disampaikan mbah Moen. Yaitu sinergi antara ulama' sebagai tiang agama, dan umara' sebagai tiang Negara. Kesatuan dan persatuan bangsa ini merupakan nikmat yang besar. "Oleh karena itu, persatuan yang diperjuangkan oleh pendahulu kita haruslah dihormati setinggi-tingginya. Pak SBY mengapresiasi negara kita sebagai negara yang sedang terus membangun untuk hari esok yang lebih baik. Namun, bukan berarti pembangunan itu tanpa ada hambatan. Kemudian beliau mencontohkan bahwa pada zaman dulu, kita pernah mengalami krisis moneter yang berimbas kepada beberapa aspek, termasuk aspek sosial dan keamanan. Untuk itu, perlu diadakan langkah agar pembangunan ini bisa terus berjalan. Langkah itu disebut-sebut sebagai transformasi. Kalau Presiden Barrack Obama menawarkan transformasi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menawarkan transformasi. Akan tetapi transformasi itu bukan mengenai perdamaian dunia, melainkan transformasi pembangunan yang mulia menuju kehidupan masyarakat dan negara Indonesia yang lebih baik. Lebih lanjut Presiden SBY mengajak - di zaman yang penuh cobaan ini - agar tetap sabar, tegar, tawakkal dan terus berikhtiar. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam telah mencontohkan sebuah transformasi yang gemilang. Yaitu mengentaskan masyarakat dari zaman kegelapan manuju zaman yang dipenuhi cahaya iman. "Dalam memimpin, beliau (Nabi Muhammad, red) sabar, tegar, tawakkal dan terus berikhtiar," papar Presiden RI yang pada pemilu 9 Juli besok, beliau menyunting bapak Boediono sebagai Calon Wakil Presidennya. Beliau lalu mengingatkan bahwa untuk membangun masyarakat yang unggul dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul pula. SDM yang unggul ditandai dengan akhlaq, budi pekerti yang baik dengan sesama, termasuk dalam bertutur-kata. "Dari pondok pesantren Al-Anwar ini dapat mencetak masyarakat yang unggul dan berdaya saing tinggi, itu harapan dan ajakan saya," ungkap penggemar baca dengan koleksi 15.000 buku di perpustakaan pribadinya. Acara malam itu ditutup dengan do'a yang digemakan oleh KH. Hakim Masduqi. Di antara rangkaian do'a yang dipanjatkan adalah memohon kepada Allah agar pemimpin negara ini, bapak Susilo Bambang Yudhoyono dijadikan pemimpin yang adil dan amanah. Ditinggikan derajat serta kewibawaannya. Usai acara, pak SBY turun dari panggung dan langsung menuju mobil kePresidenan bernomor polisi "1" yang tepat di atasnya terdapat tulisan "Indonesia". Saat keluar lokasi, tampak Ibu Negara, Ibu Ani Yudhoyono melambaikan tangan kepada para penduduk sekitar. Marching Band Al-Anwar mengiringi happy ending cerita kunjungan kerja Presiden RI di kabupaten Rembang. Menurut info yang kami dapat, dari Rembang Presiden melalui jalan darat akan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya yang diperkirakan menempuh waktu sekitar empat jam. Di Surabaya Rabu (10/6) pagi, Presiden akan meresmikan penggunaan jembatan Suramadu, jembatan sepanjang 5,348 km, lebar 30 meter yang menghubungkan Surabaya dengan Pulau Madura. Peresmian akan dilakukan di kota Bangkalan atau di sisi Madura jembatan itu. Usai peresmian jembatan, Presiden akan kembali ke Jakarta. (Oq/Arf/Frd/Jml) SAMBUTAN SYAIKHINA MAIMOEN ZUBAIR Anugrah Bangsa Indonesia Di awal taushiyahnya, pertama-tama beliau menyampaikan salam kepada Bapak Ibu Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ibu Bupati Rembang dan Muspida setempat sebagai wujud kegembiraan serta rasa syukur beliau kehadirat Allah SWT, tak lama kemudian beliau memaparkan sejarah bangsa Indonesia yang penuh kebanggaan dan menjunjung negara indonesia dengan anugrah yang diberikan oleh Allah berupa ilmu (ilmu agama), dengan banyak memunculkan ulama-ulama besar diawal tahun 1900, sepeti: KH Khotib Minangkabau, KH Mahfudz Termasy dan Syeikh Nawawi al Bantani yang mana keberadaan ulama-ulama ternama pada saat itu sangatlah penting di bawah tiang kenegaraan. Tetapi perlu diingat bahwa negara juga tidak dapat berdiri tegak di bawah kepemimpinan para ulama saja, mestinya juga harus ada umara' (ujar beliau). Jika dua unsur ini digabung maka akan terbentuk suatu negara yang berdiri tegak, seperti halnya negara Indonesia yang mampu mencetuska sumpah pemuda di bawah naungan para pemuda yang dibackingi oleh para ulama. Ditengah-tengah ceramah, beliau juga sempat menyinggung asal-usul berdirinya Nahdlatul Ulama yang berdiri pada tahun 1926 yang asal namanya adalah Nahdhatul Wathon dan berganti nama menjadi Nahdhatul Ulama, maka setelah terbentuknya wadah para ulama' (Nahdhatul Ulama'), selang beberapa tahun tepatnya pada tahun 1928 Nahdhatul Ulama menjadi besar dan dapat membentuk sebuah kongres besar, yang bertepatan dengan tercetusnya sumpah pemuda pada tanggal 28-oktober-1928, tentunya hal ini bukanlah kejadian yang dianggap biasa saja karena kejadian ini menunjukkan bahwa antara ulama' dan umara' mempunyai hubungan yang sangat erat "ungkap beliau" selain itu kita harus tahu bahwa sumpah pemuda sudah mencetuskan tiga point penting yaitu: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa yang mana salah satu dari tiga point tadi harus lebih kita syukuri yaitu satu bangsa., karena persatuan bangsa bukanlah hal yang sangat mudah untuk bisa dicapai tanpa adanya perjuangan yang keras. salah satu contoh negara besar yang terpecah belah adalah negara arab yang terdiri dari berbagai bangsa tetapi akibat persatuan yang tidak terwujud maka negara tersebut terpecah belah. Dari paparan beliau di atas yang sangat banyak mengandung anjuran tentang menjaga kesinam bungan antara ulama dan umara yang dapat menjaga persatuan negara, maka beliau flash back dan membuka ingatan beliau yang terjadi pada tahun 1946 "kata beliau " saya masih ingat tahun 1946 bung karno setelah proklamasi mampir ke Rembang dan menyinggung tentang kebanggannya kepada nama salah satu ulama' besar (ayahanda KH Maimoen) dan membahas tentang kekalahan bangsa romawi sekaligus moment kemenangan ulama'-ulama' timur tengah yang terdapat dalam awal-awal surat Ar-Rum. Keta'juban beliau(mbah maimoen) terhadap bung karno sebagai presiden pertama terlihat ketika beliau mengatakan "bagaimana mungkin bung karno bisa menghafal ayat sepanjang itu padahal dia bukan ulama, makanya jangan sampai takabbur karena takabbur tidak boleh sama sekali" pemaparan di atas membuktikan bahwa negara sebesar apapun yang tidak mampu menjaga persatuan (romawi) maka yang ia dapatkan adalah perpecahan, tidak jauh berbeda dengan keadaan bangsa indonesia pada saat dijajah oleh tiga negara adidaya: amerika, belanda, jepang dimana tiga negara ini saling serang menyerang karena ingin menguasai negara indonesia (berebut kekuasaan) yang pada akhirnya Indonesia terbebas dari belenggu para penjajah dan mereka sudah tidak bisa menguasai negara Indonesia karena persatuan bangsa yang terjaga. Sebelum akhir acara, beliau mengungkapkan banyak terima kasih kepada bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang telah hadir di pondok pesantren al-anwar II yang sederhana ini di Sarang, tetapi saya bangga bahwa tidak ada pejuang yang seteguh dan setekun pahlawan yang ada di Jawa Tengah tepatnya di Sarang. Di akhir acara beliau berpesan dan berharap kepada Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Bapak Presiden Replubik Indonesia "untuk bisa menyatukan Bangsa Indonesia". (Oq/Arf/Frd/Jml) SAMBUTAN PRESIDEN RI SBY TEKANKAN TRANSFORMASI "Nabi Muhammad mencontohkan transformasi yang gemilang." Begitu ujar pak presiden RI. Memulai pidatonya dengan mengajak bersyukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah, pak presiden disambut hangat oleh hadirin yang lebih dari tiga ribu orang. Pidato selama 24 menit itu memaparkan tentang kesetujuan beliau pada pendapat KH. Maimoen Zubair yang menggarisbawahi perpaduan antara ulama dan umara dalam memajukan negara. Ulama sebagai tiang agama, sementara umara adalah tiang Negara. Sehingga keduanya mempunyai tanggungjawab yang sama besar terhadap persatuan bangsa. Pak presiden yang malam itu mengenakan baju batik warna hijau juga menambahkan peran umat yang tidak bisa dianggap enteng. Hal ini dikarenakan bahwa keberadaan umat sangat erat kaitannya dengan persatuan dan kesatuan bangsa. Maka umat harus pula ikut mengambil bagian dalam kerangka persatuan dan kesatuan. Bila suatu Negara dipenuhi manusia-manusia yang berkualitas, niscaya Negara tersebut akan maju dan disegani Negara-negara lain. Berbeda halnya jika bangsanya hanya terdiri dari orang-orang yang bodoh dan tidak berpotensi pastilah bangsa itu akan terpuruk dan terbelakang. "Negeri kita sedang terus membangun, sejak kemerdekaan hingga sekarang," ungkap lulusan terbaik AKABRI Darat tahun 1973. Namun dalam perjalanannya, seringkali menghadapi cobaan, ujian, tantangan dan hambatan. Untuk itu, pak SBY mengimbau agar tetap sabar, tegar dan ikhtiar. Semakin cobaan itu berat dan melelahkan maka menuntut kita untuk semakin sabar, semakin tegar dan semakin giat berikhtiar. Dengan pertolongan Allah, semua perjalanan panjang itu pasti akan menemui jawabannya. Apa yang telah dicapai bangsa Indonesia sekarang ini, patut disyukuri. Karena, di saat krisis melanda negara-negara maju, justru Indonesia mengalami perkembangan yang baik, menyusul China dan India. Prestasi ini tidak boleh membuat kita berbangga hati dulu karena masih ada seambrug pe er yang menanti kerja keras kita. 11 tahun yang lalu Indonesia mengalami krisis moneter yang berdampak pada krisis keuangan, krisis ekonomi, krisis sosial, dan krisis keamanan. Sejak saat itu, Indonesia bertekad untuk mengadakan transformasi (perubahan) besar yang akan merubah keadaan sehingga membawa kebaikan untuk bangsa. Transformasi tersebut tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Maka dari semua sektor tidak boleh ada yang lengah dalam mengemban amanat tersebut. Pada kesempatan itu, pak Susilo juga menyampaikan 4 hal yang menjadi target bangsa Indonesia. Pertama, kehidupan masyarakat yang baik. Yaitu masyarakat yang religius, rukun, menjaga tali persaudaraan, tertib, aman. damai, dan berpartisipasi dalam pembangunan. Kedua, perekonomian yang baik. Yaitu perekonomian yang adil, merata, dan menitikberatkan pada kesejahteraan rakyat. Misalnya, pembagian BLT, pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan pemberian modal kepada usaha kecil-menengah. Ketiga, politik yang baik. Yaitu politik yang berakhlak, bebas tetapi tidak absolut, saling menghormati, dan menjaga tali silaturrahim. Yang terakhir, lingkungan hidup yang baik. Lengkungan hidup sangat menentukan maju-mundurnya sebuah Negara. Sebagaimana yang terjadi saat ini, Indonesia sedang mengalami iklim yang tidak teratur. Hal ini berpengaruh pada leseimbangan masyarakat. Misalnya, kelaparan yang melanda di daerah kemarau, banjir yang membawa korban nyawa dan harta dan kerusakan-kerusakan lain yang tersebar di Indonesia. Pada bagian kedua da
|
Berita Al Anwar |
|
KUNJUNGAN SBY KE PP. AL-ANWAR
Reporter ISMAH
Reporter ISMAH










Komentar