Anda berada di halaman: Syaikhuna » Biografi » Biografi Syaikhuna
Silakan Login

Username
Password
Update Terakhir
Kamis, 29 Jul 2010
Halaman:  Hikmah
Jumat, 23 Jul 2010
Halaman:  Hikmah
HIKMAH KE-57 DUA GOLONGAN YANG DISELAMATKAN DARI 'UJUB
Oleh: KH. Muhammad Wafi MZ. Lc, MSI
Selasa, 06 Jul 2010
Halaman:  Ragam
POUZING VS ROKOK
Oleh: Hamzah "Mahesa"
Selasa, 06 Jul 2010
Halaman: 
HIKMAH 143 HALIAH SANG ZAHID DAN SANG 'ARIF KETIKA DIPUJI
Oleh: KH. Muhammad Wafi MZ, Lc. MSI
Selasa, 06 Jul 2010
Halaman: 
HIKMAH 118 Ikhlas
Oleh: KH. Muhammad Wafi MZ, Lc. MSI
Selasa, 06 Jul 2010
Halaman:  Hikmah
HIKMAH 117 KHUSUSIYAH SHOLAT
Oleh: KH. Muhammad Wafi MZ, Lc. MSI
Selasa, 22 Jun 2010
Halaman:  Info Singkat
Selamat untuk Gus Abdul Ghofur MZ
Oleh: tim website Al-Anwar
Selasa, 22 Jun 2010
Halaman:  Berita
Rabu, 26 Mei 2010
Halaman:  Berita
TAMU ISTIMEWA DARI BUMI BANI UMAYYAH
Oleh: reporter ppalanwar.com
Rabu, 26 Mei 2010
Halaman:  Berita
"KAMI MENCINTAI SYEKH MAIMUN"
Oleh: reporter ppalanwar.com
Info Singkat
Selasa, 22 Jun 2010
Pengirim: tim website Al-Anwar
Selasa, 16 Peb 2010
Pengirim: arwan61@yahoo.co.id
 

Biografi Syaikhuna dari Berbagai Sudut

Print this page Generate PDF
Senin, 22 Peb 2010

PESANTREN, Place for Transfer of the Knowledge


Kaitannya dengan pesantren yaitu bahwa pesantren merupakan wadah untuk menempa seseorang agar menegakkan syari’at yang dibawanya, agar meneruskan perjuangan nabi, dan menjadi pewaris risalah-nya di muka bumi ini.

Bukan hal yang berlebihan jika kita menempatkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai makhluk yang paling mulia. Bahkan dalam sebuah hadits Qudsy, Allah subhanahu wa ta'ala bagaikan berfirman, "Seandainya tidak karenamu (Muhammad), Aku (Allah) tidak menciptakan cakrawala."

Itulah keistimewaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada makhluk yang lebih sempurna melebihinya. Tidak ada makhluk yang paling mulia darinya. Toh begitu, masih saja ada sekelompok orang yang agaknya kurang sejalan dengan hadits tersebut. "Apa tidak berlebihan apabila Allah menegaskan seperti itu?"

Seorang tokoh dari kalangan sunni yang merupakan dzurriyyah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan penjelasan yang menarik tentang hadits Qudsy di atas. Dengan tafsiran yang indah, beliau menjelaskan bahwa terdapat pembuangan kata dalam kalimat "Seandainya tidak karenamu (Muhammad)". Kalimat tersebut diartikulasikan menjadi "Seandainya tidak karena(kepentingan Syari'at)-mu (Muhammad)". Tokoh yang dimaksud di sini ialah Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin ‘Alawy al-Maliky al-Hasany, Sang Mutiara dari tanah Haram Makkah.

Penafsiran ulama' - yang mendapatkan gelar profesor dari Islamic Studies at the Ummul Qura University Mekkah pada tahun 1970 ini - sejalan dengan ayat al-Qur'an Surah adz-Dzariyat:56 yang menyatakan bahwa manusia dan jin diciptakan tidak lain hanyalah untuk beribadah. Lantas, apakah bisa dikatakan sebuah ibadah apabila tanpa diiringi kesesuaian (muwafaqah) dengan syari'at?

Oleh sebab itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kita untuk meniru bagaimana Beliau melakukan shalat. Artinya, kita melakukan shalat (beribadah) harus sesuai dengan ajaran Nabi (Syari'at). Ibadah yang tidak dilakukan dengan syari'at justru bisa menjerumuskan kita kepada sesuatu yang terlarang.

Misalnya, kita rajin shalat. Saking rajinnya, setelah shalat ‘Ashar kita melakukan shalat sunnah ba'diyyah, atau mungkin ba'diyyah sehabis Shubuh. Satu sisi kita diperintah mendirikan shalat. Di sisi lain, syari'at memberikan batas dan waktu tertentu di dalamnya. Jadi, ibadah tanpa syari'at adalah sesat. Di sinilah pentingnya mempelajari syari'at.

Kaitannya dengan pesantren yaitu bahwa pesantren merupakan wadah untuk menempa seseorang agar menegakkan syari'at yang dibawanya, agar meneruskan perjuangan nabi, dan menjadi pewaris risalah-nya di muka bumi ini.

"Sungguh Ulama' itu merupakan pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Karena itu, siapa saja yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat besar." (HR. Abu Dawud, Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi dan Ibn Hibban).

Belum ada tempat yang begitu serius memperjuangkan syari'at laiknya pesantren. Jika kita mau merunut sejarah, perjuangan pesantren sebenarnya telah dimulai sejak tahun 20 Hijriyyah. Islam tidak dapat dipisahkan dari tempat yang orang-orang di dalamnya dikenal sebagai santri.

Santri merupakan julukan untuk sekelompok orang yang dipersiapkan secara khusus untuk memperdalam ilmu agama. Setelah nantinya selesai, diharapkan mampu melanjutkan proses inzal dan da'wah. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika pesantren disebut-sebut sebagai tempat bersumbernya ilmu agama.

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

"Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (Q.S. at-Taubah: 122)

Ada tiga bekal utama yang diberikan pesantren. Pertama, memberikan ruang prioritas untuk hal-hal yang bersifat Fardlu ‘Ain. Kedua, baik dalam hubungan dengan Sang Khaliq. Dan yang Ketiga, baik dalam hubungan dengan sesama makhluk.

Ketiga karakter inilah yang harus dimiliki para santri. Dan kesemuanya itu telah ditanamkan saat di pesantren, yang menjadikan pesantren itu tidak hanya sebagai wadah transfer of knowledge, tetapi sekaligus sebagai pencetak karakter pewaris nabi (ulama').

Perbandingan Ilmu Agama dan Umum

Pusaka suci yang diwariskan para nabi adalah ilmu. Mereka tidak mewariskan dinar dan dirham. Yang dimaksud ilmu di sini adalah ilmu agama. Ilmu yang dibawa oleh nabi. Ilmu yang akan mengantarkan kita agar lebih mengenal Sang Creator alam semesta yang maha dahsyat.

Tidak bermaksud menyatakan sebuah dikotomi antara keduanya. Namun, banyak nash-nash yang menunjukkan bahwa keutamaan ilmu agama atas ilmu umum. Misalnya, dalam al-Qur'an Surah adl-Dluha ayat 4. Dalam ayat tersebut kurang lebih menegaskan bahwa akhirat adalah lebih baik dari para dunia.

Bukankah ada ayat al-Qur'an yang mengajarkan kita untuk memohon kebaikan (hasanah) di dunia dan juga akhirat. Apa dengan dasar ayat ini kita bisa mengartikan bahwa ilmu agama yang berorientasi akhirat adalah sebanding dengan ilmu kita Apakah ini tidak bertentangan dengan pernyataan di atas?

ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة

Perlu diketahui bersama bahwa dalam tafsirnya, hasanah yang pertama dalam ayat di atas dimaksudkan ilmu. Sedangkan hasanah yang kedua, diartikan surga.

Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa kandungan ayat tersebut seakan berkata bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang orientasinya adalah surga. Ilmu yang akan mengantarkan kita kepada surga Allah.

Tazkiyatun Nufus

Pada dasarnya, jiwa kita adalah suci. Hanya saja kitalah yang telah mengotorinya. Sehingga yang awalnya tanpa noda sedikitpun, bercak-bercak semakin membesar dan menutupi kesucian jiwa.

Untuk itu, sangat perlu dilakukan penyucian kembali jiwa manusia. Dan inilah yang dibutuhkan masyarakat dewasa ini. Pesatnya perkembangan zaman, memaksa manusia semakin sibuk mengurusi dunianya. Hingga tidak terurus perkara akhirat kecuali sedikit.

Agar menjadi seorang mukmin yang berkarakter dibutuhkan sebuah jiwa yang benar-benar bersih. Sehingga mampu mencapai tingkatan di mana al-Qur'an menyifatinya sebagai orang yang bergetar karena takut saat disebut di hadapannya ayat-ayat Allah dan menjadikan bertambahnya iman.

Sifat mukminin yang dituturkan dalam al-Qur'an tersebut sangat bertentangan dengan keadaan kebanyakan mukminin saat ini. Di saat ayat-ayat Allah dan tanda-tanda kekuasaan-Nya mulai bermunculan, manusia justru semakin menjauh darinya.

Hal tersebut disebabkan oleh pekatnya kabut dosa yang menutupi jiwa. Hingga akhirnya menyebabkan ketidakmampuan manusia menangkap nur Allah. Di sinilah peran pentingnya tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) dengan cara bertaubat kemudian beristiqomah dalam beramal. (Oq)

Disarikan dari mau'idhoh habib Abu Bakar As-Segaf Pasuruhan dalam acara Maulid Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan harlah PP. Al-Anwar ke-43

Penulis: Tim Website
Kembali Cetak
Komentar

Komentar

13 + 8 =
Nama * :
Email * :  
Komentar * :  
 

''