Dari kitab Al Mar’ah karya Dr. M. sa’id Romdlon Al Buthi
Atas bimbingan dan pengarahan dari Bpak K.H. Muhammad Wafi Maimoen

PENDAHULUAN

Hukum tentang wanita telah diatur sejak datangnya agama Islam. Diantara hukum -hukum tersebut telah termaktub dalam Al qur’an surat Annisa’ :

Hukum keluarga, ayat 1-6 Pokok-pokok hukum warisan, ayat 7-14 Cara bergaul dengan istri, ayat 19-21 Hukum-hukum perkawinan, ayat 22-18

Pada awal permulaan Islam orang-orang Barat masih dalam keterbelakangan, sehingga mereka belum mampu dalam mengkritisi hukum-hukum Islam. Mereka hanya memikirkan bagaimana cara mereka keluar dari keadaan tersebut. Berbeda dengan sekarang, di saat kemajuan ada dipihak mereka maka timbul keinginan-keinginan untuk menghancurkan Islam lewat aqidah dan akhlak, sehingga mereka melakukan penelitian dengan mencari sela-sela yang dapat dimasuki dengan mudah untuk dijadikan senjata dalam penghancuran Islam.

Dengan adanya kesempatan seperti itu, kemudian para pemimpin Barat menemukan pemikiran bahwa masalah pendidikan adalah senjata ampuh untuk memporak-porandakan hukum-hukum Islam dan wanita merupakan unsur yang paling dominan untuk merealisasikan tujuan mereka karena wanita mempunyai peran penting dalam masalah pendidikan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang- orang Barat akan menjadikan wanita sebagai senjata dalam menghancurkan Islam, bahkan mereka telah mengakui bahwa dengan adanya sekolah-sekolah yang khusus perempuan,itu menguntungkan mereka karena dengan mudah mereka dapat memasukkan budaya dan pemahaman-pemahaman barat,sehingga ketika para wanita telah terdidik dengan unsur-unsur barat maka secara otomatis mereka akan melahirkan generasi-generasi yang berpola pikir dan berbudaya barat dan akhirnya misi-misi barat akan tertanam dalam kehidupan generasi-generasi muslim.

Adapun usaha yang dilakukan orang-orang Barat untuk menentang undang-undang Islam yaitu dengan memberikan komentar-komentar terhadap kedudukan wanita dalam Islam. Mereka beranggapan bahwa Islam mengekang kehidupan wanita muslimah dan tidak menjaga harkat, derajat dan martabatnya serta mereka menuntut adanya persamaan hak antara wanita dan laki-laki (Emansipasi wanita).

Adanya pendapat-pendapat yang tidak bertendensi seperti diatas merupakan suatu kepedihan. Tetapi kepedihan yang parah terjadi pada sikap sebagian muslimin yang membela posisi wanita muslimah karena berbelas kasihan.

Tipe orang muslim seperti ini terbagi menjadi 2 golongan :

Islam sebagai tradisi

Mereka berbangga diri dengan budaya-budaya barat dan ketika ada anggapan bahwa wanita terdiskriminasi maka dia mendukung sepenuhnya (100%).

Benar-benar Islam

Mereka berposisi sebagai tertuduh dan dia menyanggah tuduhan-tuduhan tersebut atas nama dari dirinya sendiri dan meminta bantuan untuk terbebas dari tuduhan tersebut.

hal ini tidak sesuai dengan;

?ˆ???„???„?‘???‡?? ?§?„?’?¹???²?‘???©?? ?ˆ???„???±???³???ˆ?„???‡?? ?ˆ???„???„?’?…???¤?’?…???†?????†?? ?ˆ???„???ƒ???†?‘?? ?§?„?’?…???†???§?????‚?????†?? ?„?§ ?????¹?’?„???…???ˆ?†?? [?§?„?…?†?§???‚?ˆ?†: 8]

Artinya :”Kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Utusan Allah dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang munafiq itu tidak mengatahui.”

?°???„???ƒ?? ?ˆ???…???†?’ ?????¹???¸?‘???…?’ ?´???¹???§?¦???±?? ?§?„?„?‘???‡?? ?????¥???†?‘???‡???§ ?…???†?’ ?????‚?’?ˆ???‰ ?§?„?’?‚???„???ˆ?¨?? [?§?„?­?¬:32]

Artinya :”Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya timbul dari ketaqwaan hati.”

?§?„?§?³?„?§?… ???¹?„?ˆ ?ˆ?„?§ ???¹?„?‰ ?¹?„???‡

Islam itu luhur (unggul) dan tidak terkalahkan (diungguli).

Termasuk kepedihan yang besar jika kita menganggap bahwa wanita barat hidup dalam kebebasan dan kebahagiaan serta berbelas kasihan terhadap kedudukan wanita muslimah. Anggapan yang demikian adalah salah karena dalam kenyataannya wanita barat hanya sebagai permainan dan kesenangan bagi kaum laki-laki dan kebebasan yang diberikan hanya sebuah fatamorgana (hayalan).

Diantara musibah lagi yaitu ketika ada pencuri yang berbelas kasihan terhadap korban pencuriannya apalagi jika ada orang yang membenarkan ucapan si pencuri.

Dr. Muhammad Sa’id Romdlon Al Buthi akan membahas kedudukan wanita muslimah dengan keagungan dalam Islam, bukan sebagai tertuduh dan beliau ingin menyelamatkan wanita-wanita barat yang terjerumus dalam undang-undang yang mereka buat.

Adapun hak-hak yang diberikan kepada para wanita barat hanya merupakan sebuah teori tidak ada aplikasinya sama sekali, sehingga dapat diibaratkan “Tong kosong berbunyi nyaring”

Beliau akan memperlihatkan kedudukan wanita dalam pandangan Islam sehingga beliau tidak bisa membela kebiasaan jahiliyah yang berkembang dalam masyarakat Islam karena beliau membela Islam bukan membela orang Islam.

Dr. Sa’id berharap agar sesuatu yang ditulis dan yang disiarkan di televisi Arab Suria setiap hari Rabu dapat dijadikan sebuah karya tulis.

SUMBER HAK DAN KEWAJIBAN WANITA DALAM SYARI’AT ISLAM DAN MASYARAKAT BARAT

PENDAHULUAN

Suatu komponen masyarakat mempunyai tugas yang harus dilakukan (kewajiban) dan mempunyai sesuatu yang untuk dimiliki dan dinikmati (hak). Hal ini tergantung pada tradisi masyarakat itu sendiri, sehingga hak dan kewajiban individu masyarakat berbeda-beda. begitu juga dengan wanita, dalam islam mereka juga mempunyai hak dan?  kewajiban seperti: kewajiban menutup aurat, mendidik anak dan berhak untuk mempunyai harga diri, hak memiliki dan lain-lain.

Dalam pembahasan makalah ini, akan dibahas tentang perbandingan antara hak dan kewajiban wanita dalam perspektif islam dan perspektif barat, dalam arti sesuai realita yang terjadi dalam masyarakat barat, bukan sesuai dengan undang-undang yang dicantumkan di negara barat. karena disana tidak mengikuti UU tapi hanya mengikutii dorongan hawa nafsu dan kebendaan (materi). Sedangkan dalam islam undang-undang dipegang teguh untuk ditaati, sehingga keadilan, kenyamanan, kebahagiaan bisa terwujud.

SUMBER HAK DAN KEWAJIBAN WANITA DALAM SYARI’AT ISLAM.

Kewajiban wanita yang diatur oleh Islam itu bersumber dari segi bahwa wanita adalah termasuk hamba Allah, sehingga mereka diberi kewajiban yang bermacam-macam. Beribadah kepada Allah merupakan kewajiban yang paling utama, oleh karena itu kaum laki-laki dan wanita ditaklif sama.

Adapun natijahnya yaitu: ” Apapun kewajiban yang diberikan Allah kepada kaum laki-laki itu juga diwajibkan kepada kaum wanita “. Diantara ibarat yang menjelaskan tentang hal ini adalah hadist yang diriwayatkan oleh muslim dari hadistnya Mu’adz :

?‚?§?„ ?±?³?ˆ?„ ?§?„?„?‡ ?µ?„?‰ ?§?„?„?‡ ?¹?„???‡ ?ˆ?³?„?…: ” ???§ ?…?¹?§?° ?£???¯?±?? ?…?§ ?­?‚ ?§?„?„?‡ ?¹?„?‰ ?§?„?¹?¨?§?¯ ?? ?‚?§?„: ?§?„?„?‡ ?ˆ?±?³?ˆ?„?‡ ?£?¹?„?… . ?‚?§?„: ?§?† ???¹?¨?¯ ?§?„?„?‡ ?ˆ?„?§ ???´?±?ƒ ?¨?‡ ?´?????Œ ?‚?§?„ ?§???¯?±?? ?…?§?­?‚?‡?… ?¹?„???‡ ?§?°?§ ???¹?„?ˆ?§?°?„?ƒ?? ???‚?§?„ : ?§?„?„?‡ ?ˆ?±?³?ˆ?„?‡ ?§?¹?„?… . ?‚?§?„:?§?† ?„?§???¹?°?¨?‡?… (?±?ˆ?§?‡ ?…?³?„?… )

Dari hadist diatas di jelaskan bahwa kewajiban seorang hamba kepada Allah adalah menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dan ketika seorang hamba dapat menjalankan kewajibannya maka dia berhak untuk tidak mendapatkan siksa dari Allah.

Penggunaan lafadz ” ?¹?¨?§?¯ ” pada hadist tersebut menunjukkan suatu keumuman ?¹?„?‰ ?·?±???‚ ?§?„?????„???¨) ) yang mencakup kaum laki-laki dan wanita. Sehingga hak dan kewajiban yang diberikan Allah itu sama antara laki-laki dan wanita.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah :” Mengapa kaum laki-laki dikhitobi suatu kewajiban tertentu (yang bersifat khusus laki-laki) sedang kaum wanita tidak? dan begitu juga sebaliknya mengapa kaum wanita dikhitobi dengan kewajiban tertentu (yang bersifat khusus perempuan)? sedang kaum laki-laki tidak?

Seperti contoh : kaum laki-laki mempunyai kewajiban memberi nafkah pada keluarga dan melakukan shalat jum’at sedangkan kaum wanita diwajibkan untuk merawat anak dan menutupi tempat- tempat fitnah, padahal mereka sama-sama ‘ibadullah?

Jawaban dari pertanyaan diatas adalah : perbedaan seperti ini tidak timbul dari ini orang laki-laki dan ini orang perempuan, tetapi karena adanya faktor ekstern yang berhubungan dengan kemaslahatan ( hikmah ). Adapun kemaslahatan bagi kaum laki-laki yaitu fitroh keluar ( ekstern ), sedang kemaslahatan bagi kaum perempuan yaitu fitroh kedalam ( intern ).

Shalat jum’at yang disyari’atkan untuk persatuan umat islam dan menyatukan kalimatul muslimin, diwajibkan ketika tidak mengorbankan sesuatu untuk melakukan kemaslahatan ini. Jadi ketika ada sesuatu yang dikorbankan untuk melakukan kemaslahatan maka shalat jum’at tidak diwajibkan.

Contoh: Seorang laki-laki yang mempunyai ayah yang sakit dan tidak ada yang merawatnya kecuali dia maka kewajiban dia untuk melakukan shalat jum’at gugur dan yang menjadi kewajibannya adalah merawat sang ayah, begitu juga dengan seorang wanita yang datang untuk melakukan shalat maka dia akan menghilangkan kemaslahatan ( ?£?‡?„ ?§?„?…?µ?„?­?© ) yaitu menjaga anak-anaknya dan mengurus rumah tangga, sehingga tidak wajib untuk melakukan shalat jum’at.

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa orang perempuan yang datang melakukan shalat jum’at sebagaimana orang laki-laki maka shalat jum’atnya sah. Sebagaimana qoidah ?ƒ?„ ?…?† ?µ?­?? ?¸?‡?±?‡ ?µ?­?? ?¬?…?¹???‡ dan ketika ada udzur ( ?§?‡?…?„ ?§?„?…?µ?„?­?© ) maka kewajiban shalat jum’at itu gugur.

Adapun kewajiban memberi nafaqoh kepada keluarga ( istri dan anak ) marupakan kewajiban kaum laki-laki karena sudah menjadi fitroh ( sunnatullah ) bahwa kaum laki-laki yang mendatangkan rizqi. Sebab, jika seorang wanita dipaksa mencari rizqi maka dia akan meninggalkan tugas suci ( mendidik anak dan mengurusi rumah tangga ) dan profesi ini tidak bisa digantikan oleh seorang ayah.

Begitu juga dalam permasalahan kewajiban jihad. Diantara syarat wajibnya jihad yaitu: tidak meninggalkan kepentingan intern yang jauh lebih penting dari pada kepentingan ekstern. Jadi tidak menuntut kemungkinan ketika seorang laki-laki yang mempunyai kepentingan intern tidak diwajibkan untuk melakukan jihad, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist

?ˆ?¹?† ?¹?¨?¯ ?§?„?„?‡ ?§?¨?† ?¹?…?±?ˆ ?§?¨?† ?§?„?¹?§?µ ?±?¶?? ?§?„?„?‡ ?¹?†?‡?…?§ ?‚?§?„ : ?£?‚?¨?„ ?±?¬?„ ?§?„?‰ ?§?„?†?¨?? ?§?„?„?‡ ?µ?„?‰ ?§?„?„?‡ ?¹?„???‡ ?ˆ?³?„?… ???‚?§?„ : ?£?¨?§???¹?ƒ ?¹?„?‰ ?§?„?‡?¬?±?© ?ˆ?§?„?¬?‡?§?¯ ?£?¨?????? ?§?„?£?¬?± ?…?† ?§?„?„?‡ ???¹?§?„?‰ ???‡?„ ?…?† ?ˆ?§?„?¯???ƒ ?£?­?¯ ?­?? ?? ?‚?§?„ : ?†?¹?…, ?¨?„ ?‚???„ ?‡?…?§ ?‚?§?„ : ?????¨?????? ?§?„?£?¬?± ?…?† ?§?„?„?‡ ???¹?§?„?‰ ?? ?‚?§?„ : ?†?¹?…?Œ ?‚?§?„ : ???§?±?¬?¹ ?§?„?‰ ?ˆ?§?„?¯???ƒ ???£?­?³?† ?µ?­?¨???‡?…?§ ( ?±?ˆ?§?‡ ?§?„?¨?®?§?±?? ?ˆ ?§?„?…?³?„?… ).

Hadist diatas menunjukkan bahwa ketika seorang laki-laki mempunyai kepentingan intern ( menjaga kedua orang tuanya dirumah ) maka dia tidak diwajibkan untuk berjihad, begitu pula dengan wanita ketika dia berjihad maka akan meninggalkan profesi utama yaitu : sebagai pendidik anak-anaknya dan pengatur rumah tangganya.

Adapun kewajiban menutupi tempat-tempat fitnah, lebih ditekankan terhadap kaum wanita karena sudah menjadi fitroh bahwa wanita merupakan penarik fitnah yang paling dominan, dan mempunyai tabi’at ingin menampakkan diri. Tetapi jika seorang laki-laki juga menimbulkan fitnah, maka diwajibkan pula untuk menutupi dirinya (anggota diantara pusar dan lutut ).

Dalam musnadnya Imam Ahmad dan Sunahnya Nasa’i dari Umi Salamah diriwayatkan bahwa : Umi Salamah bertanya kepada Rosulullah SAW. Mengapa dalam alqur’an kita ( wanita ) tidak disebutkan sebagaimana kaum laki-laki ?, kemudian Allah menurunkan firmannya dalam surat Al-Ahzab ayat 35 ;

?¥?† ?§?„?…?³?„???† ?ˆ?§?„?…?³?„?…?§?? ?ˆ?§?„?…?¤?…?†???† ?ˆ?§?„?…?¤?…?†?§?? ?ˆ?§?„?‚?§?†?????† ?ˆ?§?„?‚?§?†???§?? ?ˆ?§?„?µ?§?¯?‚???† ?ˆ?§?„?µ?§?¯?‚?§?? ?ˆ?§?„?µ?§?¨?±???† ?ˆ?§?„?µ?§?¨?±?§?? ?ˆ?§?„?®?§?´?¹???† ?ˆ?§?„?®?§?´?¹?§?? ?ˆ?§?„?…???µ?¯?‚???† ?ˆ?§?„?…???µ?¯?‚?§?? ?ˆ?§?„?µ?§?¦?…???† ?ˆ?§?„?µ?§?¦?…?§?? ?ˆ?§?„?­?§???¸???† ???±?ˆ?¬?‡?… ?ˆ?§?„?­?§???¸?§?? ?ˆ?§?„?°?§?ƒ?±???† ?§?„?„?‡ ?ƒ?«???±?§ ?ˆ?§?„?°?§?ƒ?±?§?? ?£?¹?¯ ?§?„?„?‡ ?„?‡?… ?…?????±?© ?ˆ?£?¬?±?§ ?¹?¸???…?§ ( ?§?„?£?­?²?§?¨: 35 )

” Sungguh laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut ( nama ) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar “.

Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa Allah mengatur kaum laki-laki dan perempuan secara bersamaan dalam masalah kewajiban yaitu : penaklifan-penaklifan secara global yang disyari’atkan Allah kepada hambanya tanpa memandang ini laki-laki dan ini perempuan. Adapun hak-hak yang dimiliki kaum wanita itu timbul karena adanya sifat kemanusiaan sehingga terjadi persamaan antara laki-laki dengan perempuan, sedangakan faktor pembedanya adalah lingkungan / tabi’at mereka. Jadi sumber kewajiban yang ditaklif Allah adalah karena faktor ‘ubudiyyah, sedangkan sumber hak-hak yan dimiliki wanita karena adanya sifat kemanusiaan.

SUMBER KEWAJIBAN DAN HAK-HAK WANITA DALAM KENYATAAN MASYARAKAT BARAT.

Profesor Dr. Muhammad Said Romdlon Al-buthi mengingatkan kembali bahwa kita tidak boleh tertipu dengan syiar-syiar barat yang berisi tentang kebebasan, demokrasi dan hak-hak kemanusiaan, karena jika memandang syiar-syiar tersebut maka kebahagiaan akan berpihak pada kaum wanita. Tetapi dalam realitanya jauh berbeda antara syiar dan praktek di lapangan, sehingga wanita menjadi korban. Hal ini disebabkan karena dicengkram oleh kepentingan materi ( menuhankan materi ).

Berdasarkan dari sifat materialistis maka wanita di barat mendapatkan perlakuan yang tidak bernorma dan dituntut untuk menafaqohi / mengurusi dirinya sendiri selama mereka mampu bekerja karena dalam masalah ini orang tua dan suami mereka telah lepas tangan.

Untuk mencapai kesenangan di dunia yang tiada batasnya maka harus ada pembelian dengan harga mahal untuk mendapatkannya. Sehingga kaum wanita harus dapat mengumpulkan uang sebanyak banyaknya agar dapat berkompetisi untuk mendapatkan banyak kesenangan dan akhirnya timbil sifat egoisme dalam diri masing-masing individu masyarakat barat.

Dari falsafah ini dapat diambil beberapa natijah yaitu :

1. Keluarga hilang dan merobohkan setiap kekuatan-kekuatannya. masyarakat merupakan komponen dari sebuah keluarga sedang keluarga terbentuk ketika ada yang bertanggung jawab dan adanya sikap tolong menolong. Dalam falsafah barat masing-masing individu bertanggung jawab atas dirinya sendiri sehingga disana tidak ditemukan keluarga. 2. Wanita dihancurkan oleh undang-undang terutama dalam posisinya untuk tidak terfokus pada urusan keluarga ( menjaga dan mendidik anak-anaknya ) jika akhirnya para kaum wanita mendapat pekerjaan yang baik maka mereka cukup beruntung tetapi jika mereka tidak mendapatkan pekerjaan maka akan melakukan segala sesuatu untuk menghidupi dirinya meskipun tidak sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Jadi wanita yang bekerja bukan karena untuk berenak-enakan dan bersenang-senang tetapi karena suatu tuntutan agar mereka bisa hidup dengan mengorbankan kewanitaannya dan kehormatannya.

Profesor Dr. Muhammad Sa’id Romdlon Al-Buthi mengatakan bahwa Beliau melihat wanita-wanita Eropa bekerja sebagaimana kaum laki-laki. Dipintu air port Beliau melihat supir taxsi kemudian masuk ke bagasi, mengangkat tas besar sendirian dan ternyata subyeknya adalah seorang wanita. ( dilihat dari segi pekerjaannya, pekerjaan ini merupakan pekerjaan orang laki-laki tetapi kenyataannya dilakukan oleh seorang wanita.

Para kaum wanita mencari pekerjaan sedapatnya karena tidak ada yang mengurusnya baik orang tuanya ataupun suaminya, sehingga urusan rumah tangga terbengkalai dan anak-anak mereka dititipkan ke TK-TK, yayasan-yayasan dan panti asuhan yang mendidik anak, tetapi tempat-tempat tersebut tidak bisa menggantikan posisi keibuan mereka, karena dalam pemikiran barat hanya meterilah yang menjadi fans utama sehingga banyak sekali yang harus dikorbankan untuk mencapai fans tersebut termasuk kewanitaan, kehormatan dan anak-anak.

Adapun hak-hak wanita dalam masyarakat barat bersumber dari kewanitaannya, semakin kewanitaannya menonjol dan perannya semakin dapat dinikmati kaum laki-laki maka semakin dia berguna dan akan mendapatkan hak yang tinggi, sehingga mereka menjual kewanitaannya untuk mendapatkan hak. Pada setiap kesempatan orang-orang barat mengumandangkan bahwa wanita harus diberikan hak-haknya seperti hak politik, hak ekonomi, hak hidup, hak demokrasi dan lain sebagainya. Dan hal ini menyenangkan kaum wanita karena kebebasan terbuka lebar bagi mereka. Tetapi setelah kaum wanita bebas bergerak ternyata ini merupakan jeratan belaka, sebab mereka diperbudak oleh kaum laki-laki dan dengan bertambahnya usia pada kaum wanita menjadikan kaum laki-laki bosan terhadap mereka dan akhirnya mereka dianiaya. Jadi setelah perempuan bebas bergerak kemudian dipegang setelah itu dilepaskan lagi. Hal ini terjadi sebab kaum laki- laki mengagungkan wanita, karena kewanitaannya dan kecantikannya bukan karena rasa kemanusiaannya. Supaya wanita dapat keluar, mereka diberi suap, setelah mereka keluar dan masa mudanya hilang serta mereka tidak bisa menyenangkan kaum laki-laki maka harga diri mereka juga sirna ditelan arus kematerialistikan.

Didalam UU Barat dipaparkan secara mutlak bahwa setiap wanita baik muda / tua akan memperoleh hak kebebasan, tetapi dalam kenyataannya tidak seperti itu. Sebab ketika wanita masih muda mereka sangat diagungkan dan jika mereka sudah tua maka akan dibuang dan mencari yang lain. sehingga secara tidak langsung, UU di barat hanya berlaku sebagai suap bagi kaum wanita.

BACA JUGA :  PEREMPUAN DAN HAK UNTUK MEMILIKI

Pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat barat dilakukan dengan dua cara :

1. Perkawinan yang dilakukan di gereja.
2. Saling mencintai yang dapat di istilahkan dengan kumpul kebo.

Fenomena yang menyedihkan dalam masyarakat barat adalah semakin matinya perkawinan dan mereka lebih suka untuk kumpul kebo dengan menjalin rasa cinta dimasa muda, dan ketika wanita telah berusia tua maka sang lelaki berpindah lagi sehingga timbul permasalahan rumah tangga yang berujung dengan pertengkaran, kekerasan dan penganiayaan yang mana pada akhirnya kemenangan berpihak pada laki- laki sehingga si wanita melarikan diri dan mencari tempat pengungsian.

Di Amerika telah terdapat tempa-tempat khusus pengungsian untuk wanita yang dianiaya oleh orang laki-laki / suaminya, sehingga mereka dapat terlindungi dari cengkeraman para penganiaya.

Pada bulan januari 1993, Richard F. Jones, seorang Dosen dari Universitas Kebidanan dan Ahli Penyakit Wanita.di Amerika menulis sebuah makalah tentang penyakit-penyakit yang menjijikkan yang berjudul ” Pemerkosaan Keluarga, Biarkan Suara Kita Terdengar”.

Dalam kalimat pembukanya tertulis;” Disana ( Amerika ) terdapat penyakit yang merambah dipendengaran kita yaitu penyakit yang sangat menjijikkan dan hal ini tidak boleh disepelekan serta harus dihentikan dan negara maju tidak mungkin menerimanya”.. Kemudian si penulis berkata :” Didalam 12 detik di Amerika, wanita terkena penyakit ini, dipukul / dibentur sampai meninggal oleh suami atau teman laki-lakinya. Setiap hari kita melihat hasil pemukulan-pemukulan di kantor-kantor, kamar UGD dan rumah-rumah praktek kita dan hal ini terjadi pada wanita yang muda”.

Adapun wanita yang sudah tua, baik perawan tua / wanita yang dicerai suaminya, keadaan mereka seperti terpencil dalam masyarakat, mereka tinggal dirumah yang kecill dan sederhana tidak ada yang menghiburnya kecuali anjing kecil, pada saat mereka keluar anjingnyalah yang menemaninya,dan setelah kembali ke rumah,mereka menutup pintu rapat-rapat. agar mereka merasa aman. Mereka menikmati hari-harinya dengan kesendirian, kadang-kadang mereka dijenguk oleh saudara-saudaranya, anak-anaknya dan itupun hanya sebentar. Ketika mereka sudah lumpuh dipindah ke panti jompo dan inipun sudah beruntung karena ada yang mengurusi disaat mereka sakit, jika mereka tidak punya uang maka mereka pasrah menunggu ajal dan jika mereka kaya maka mereka masuk rumah saakit dan membayar perawat, lalu mereka dijenguk sebentar oleh saudaranya dengan membawa bunga dan mengucapkan kata-kata indah ” Semoga Lekas Sembuh ” kemudian pergi. Kehidupan individualistik seperti ini sudah terbiasa di Amerika.

Kenapa hal ini terjadi pada wanita barat ?

Ketika mereka masih muda mereka dimulyakan dan diagungkan tetapi setelah tua mereka dicampakkan begitu saja. Hal ini terjadi sebab wanita barat dihormati karena kecantikan dan kewanitaannya, kemudian setelah mereka tua yang tersisa hanya kemanusiaannya, sedangkan di Barat tidak memandang kemanusiaan. Berbeda dalam islam, semakin mereka tua semakin dimulyakan dan dihormati, semua keluarganya memohon restunya karena dalam islam yang digunakan untuk menghormati adalah jiwa kemanusiaan.

KEDUDUKAN WANITA DALAM ISLAM

Kemuliaan yang diberikan Islam terhadap wanita adalah bagian dari kemuliaan yang diberikan kepada segenap manusia, hal ini tidak lepas dari pandangan Islam terhadap wanita yaitu wanita juga termasuk bani Adam. Dan bani Adam sangat dimuliakan keberadaannya oleh Islam sebagaimana firman Allah:

?ˆ???„???‚???¯?’ ?ƒ???±?‘???…?’?†???§ ?¨???†???? ?¢?¯???…?? ?ˆ???­???…???„?’?†???§?‡???…?’ ?????? ?§?„?’?¨???±?‘?? ?ˆ???§?„?’?¨???­?’?±?? ?ˆ???±???²???‚?’?†???§?‡???…?’ ?…???†?? ?§?„?·?‘?????‘???¨???§???? ?ˆ???????¶?‘???„?’?†???§?‡???…?’ ?¹???„???‰ ?ƒ???«?????±?? ?…???…?‘???†?’ ?®???„???‚?’?†???§ ???????’?¶?????„?§ ( ?§?„?¥?³?±?§?? : 70 )

Hal ini bersumber dari sifat kemanusiaan yang dimiliki wanita begitu juga dengan laki-laki, keduanya sama dari segi kemanusiaannya, sedangkan yang membedakan kedudukan mereka di hadapan Allah adalah taqwa dan amal sholih, hal ini sesuai dengan firman Allah:

?????§ ?£?????‘???‡???§ ?§?„?†?‘???§?³?? ?¥???†?‘???§ ?®???„???‚?’?†???§?ƒ???…?’ ?…???†?’ ?°???ƒ???±?? ?ˆ???£???†?’?«???‰ ?ˆ???¬???¹???„?’?†???§?ƒ???…?’ ?´???¹???ˆ?¨?‹?§ ?ˆ???‚???¨???§?¦???„?? ?„???????¹???§?±???????ˆ?§ ?¥???†?‘?? ?£???ƒ?’?±???…???ƒ???…?’ ?¹???†?’?¯?? ?§?„?„?‘???‡?? ?£?????’?‚???§?ƒ???…?’ ( ?§?„?­?¬?±?§?? : 13 )

Dengan kedua dalil diatas maka jelas bahwa kemuliaan yang diberikan Agama serta Al Qur’an kepada manusia tidak memandang dari sisi kelaki-lakiannya atau kewanitaannya bahkan keduanya dianggap sama dan tidak ada yang lebih diistimewakan. Hanya saja yang membedakan keduanya adalah besarnya taqwa dan yang mau memuliakan Allah kemudian amal sholih yang dimiliki.

Konsekwensi Allah terhadap amal sholih manusia juga menjadikan perbedaan kemuliaan yang diberikan Allah, lagi-lagi bukan dari sifat laki-laki ataupun wanitanya

?¯ ?????§?³?’?????¬???§?¨?? ?„???‡???…?’ ?±???¨?‘???‡???…?’ ?£???†?‘???? ?„?§ ?£???¶?????¹?? ?¹???…???„?? ?¹???§?…???„?? ?…???†?’?ƒ???…?’ ?…???†?’ ?°???ƒ???±?? ?£???ˆ?’ ?£???†?’?«???‰ ?¨???¹?’?¶???ƒ???…?’ ?…???†?’ ?¨???¹?’?¶?? ( ?¢?„ ?¹?…?±?§?† : 195 )

?¯ ?ˆ???…???†?’ ?????¹?’?…???„?’ ?…???†?? ?§?„?µ?‘???§?„???­???§???? ?…???†?’ ?°???ƒ???±?? ?£???ˆ?’ ?£???†?’?«???‰ ?ˆ???‡???ˆ?? ?…???¤?’?…???†?Œ ?????£???ˆ?„???¦???ƒ?? ?????¯?’?®???„???ˆ?†?? ?§?„?’?¬???†?‘???©?? ?ˆ???„?§ ?????¸?’?„???…???ˆ?†?? ?†???‚?????±?‹?§ ( ?§?„?†?³?§?? : 124 ) ?¯ ?…???†?’ ?¹???…???„?? ?µ???§?„???­?‹?§ ?…???†?’ ?°???ƒ???±?? ?£???ˆ?’ ?£???†?’?«???‰ ?ˆ???‡???ˆ?? ?…???¤?’?…???†?Œ ?????„???†???­?’?????????†?‘???‡?? ?­???????§?©?‹ ?·?????‘???¨???©?‹ ?ˆ???„???†???¬?’?²???????†?‘???‡???…?’ ?£???¬?’?±???‡???…?’ ?¨???£???­?’?³???†?? ?…???§ ?ƒ???§?†???ˆ?§ ?????¹?’?…???„???ˆ?†?? ( ?§?„?†?­?„ : 97 )

Dalam syari’at Islam penerapan hukum terhadap manusia baik laki-laki maupun wanita mempunyai tiga tingkatan:

Pribadi/Individu

Berkewajiban membersihkan diri hawa nafsu supaya mempunyai akhlak yang baik dan bisa memperoleh kebahagiaan.

2. Keluarga

Agama Islam menyifati keluarga dengan sesuatu yang suci dan benar-benar terawat, dalam keluarga ini khusus untuk wanita berkewajiban merawat dan mendidik anak untuk menjadi generasi penerus.

3. Masyarakat Umum

Masyarakat bisa dikatakan baik jika terdiri dari keluarga yang baik, karena pondasinya dari keluarga kemudian masyarakat dan didukung dengan hukum Islam.

Dari hukum-hukum diatas yang dimulai dengan individu, keluarga kemudian masyarakat maka jelaslah hak dan kewajiban tiap laki-laki ataupun wanita dalam syari’at Islam. Hal ini juga disesuaikan dengan fitrah masing-masing dan pemenuhan diri terhadap perintah Allah, sehingga menjadikan keharmonisan diantara keduanya, saling melengkapi tiap kekurangan bahkan dapat pula menjelaskan kesaan Allah SWT.

pandangan agama tersebut membuktikan kesetaraan hak yang dimiliki oleh laki-laki dan wanita tanpa ada perbedaan.

Kita tahu kemuliaan yang didapat oleh tiap individu, khususnya wanita jika kita tahu bahwa Islam sangat menghargai hak manusia, diantaranya :

– Hak untuk hidup – Hak kemerdekaan/kebebasan – Hak untuk memiliki – Hak yang berhubungan dengan perekonomian, politik dan kemasyarakatan.

1. WANITA DAN HAK UNTUK HIDUP

Tidak diragukan lagi bahwa hak untuk hidup merupakan hak yang sangat disucikan Allah karena menjadi dasar dan sumber dari hak-hak yang lain. Dengan adanya hak untuk hidup maka seseorang dapat memiliki atau menikmati hak yang lain, meski keberadaan hak ini jarang disadari tapi pemenuhannya sangat mendasar. hal ini terbukti dari firman Allah:

?…???†?’ ?£???¬?’?„?? ?°???„???ƒ?? ?ƒ???????¨?’?†???§ ?¹???„???‰ ?¨???†???? ?¥???³?’?±???§?¦?????„?? ?£???†?‘???‡?? ?…???†?’ ?‚???????„?? ?†?????’?³?‹?§ ?¨?????????’?±?? ?†?????’?³?? ?£???ˆ?’ ?????³???§?¯?? ?????? ?§?„?£?±?’?¶?? ?????ƒ???£???†?‘???…???§ ?‚???????„?? ?§?„?†?‘???§?³?? ?¬???…?????¹?‹?§ ?ˆ???…???†?’ ?£???­?’?????§?‡???§ ?????ƒ???£???†?‘???…???§ ?£???­?’?????§ ?§?„?†?‘???§?³?? ?¬???…?????¹?‹?§ ?ˆ???„???‚???¯?’ ?¬???§???????’?‡???…?’ ?±???³???„???†???§ ?¨???§?„?’?¨?????‘???†???§???? ?«???…?‘?? ?¥???†?‘?? ?ƒ???«?????±?‹?§ ?…???†?’?‡???…?’ ?¨???¹?’?¯?? ?°???„???ƒ?? ?????? ?§?„?£?±?’?¶?? ?„???…???³?’?±???????ˆ?†?? ( ?§?„?…?§?¦?¯?© : 32 )

Penggunaan kata ?§?„?†???³ pada dalil diatas supaya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita, serta hak hidup dalam hukum Allah juga dimiliki keduanya.

bahkan hak hidup wanita lebih diutamakan meski seorang kafir, hal ini terbukti dari ucapan Nabi Muhammad SAW. ketika menemukan mayat perempuan kafir dalam perang hunain, diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

?ˆ?‚?¯ ?±?£?‰ ?§?…?±?£?© ?…?´?±?ƒ?© ?…?‚???ˆ?„?© ?‚?¯ ?§?¬???…?¹ ?¹?„???‡?§ ?§?„?†?§?³ : “?…?§ ?ƒ?§?†?? ?‡?°?‡ ???‚?§???„ ?????…?† ???‚?§???„?Œ ???????… ?‚???„?? ??”?Œ ?«?… ?‚?§?„ ?§?„?±?¬?„ :”?§?†?·?„?‚ ?§?„?‰ ?®?§?„?¯ ?¨?† ?§?„?ˆ?„???¯ ???‚?„ ?„?‡ ?¥?† ?±?³?ˆ?„ ?§?„?„?‡ ???£?…?±?ƒ ???‚?ˆ?„ : ?„?§ ???‚???„?† ?°?±???© ?ˆ?„?§ ?¹?³?????§”.

dengan adanya persamaan hak untuk hidup bagi laki-laki maupun wanita maka hukum qishos juga berlaku terhadap keduanya, hal ini ditunjukkan dengan dalil:

?ˆ???ƒ???????¨?’?†???§ ?¹???„?????’?‡???…?’ ???????‡???§ ?£???†?‘?? ?§?„?†?‘?????’?³?? ?¨???§?„?†?‘?????’?³?? ?ˆ???§?„?’?¹?????’?†?? ?¨???§?„?’?¹?????’?†?? ?ˆ???§?„?’?£???†?’???? ?¨???§?„?’?£???†?’???? ?ˆ???§?„?’?£???°???†?? ?¨???§?„?’?£???°???†?? ?ˆ???§?„?³?‘???†?‘?? ?¨???§?„?³?‘???†?‘?? ?ˆ???§?„?’?¬???±???ˆ?­?? ?‚???µ???§?µ?Œ ?????…???†?’ ?????µ???¯?‘???‚?? ?¨???‡?? ?????‡???ˆ?? ?ƒ?????‘???§?±???©?Œ ?„???‡?? ?ˆ???…???†?’ ?„???…?’ ?????­?’?ƒ???…?’ ?¨???…???§ ?£???†?’?²???„?? ?§?„?„?‘???‡?? ?????£???ˆ?„???¦???ƒ?? ?‡???…?? ?§?„?¸?‘???§?„???…???ˆ?† ( ?§?„?…?§?¦?¯?© : 48-49 )

Pentafsiran Ibnu katsir: dengan keumuman ayat di atas dapat disimpulkan bahwa para Imam membuat hujjah bahwa laki-laki dibunuh (diqishosh) sebab membunuh wanita.

begitu juga terdapat dalam hadist :

?±?ˆ?§?‡ ?§?„?†?³?§?¦?‰ ?ˆ?????±?‡ ?£?† ?±?³?ˆ?„ ?§?„?„?‡ ?µ?„?‰ ?§?„?„?‡ ?¹?„???‡ ?ˆ?³?„?… ?ƒ???¨ ???? ?ƒ???§?¨ ?¹?…?±?ˆ ?¨?† ?­?²?… :”?£?† ?§?„?±?¬?„ ???‚???„ ?¨?§?„?…?±?£?©”.

?ˆ???? ?§?„?­?¯???« ?§?„?£?®?± :”?§?„?…?³?„?…?ˆ?† ?????ƒ?§???§?? ?¯?…?§???‡?…”

kemudian terdapat keisykalan ketika terjadi denda (?§?„?¯???©) sebab adanya pembunuhan yang tidak disengaja atau pengampunan dari pihak keluarga, karena disini antara laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan, yaitu denda dari wanita setengah dari laki-laki, yang seolah-olah menganggap wanita lebih rendah disbanding laki-laki..

penjelasannya adalah sebagai berikut :

?§?„?¯???© atau denda bukan lagi diartikan sebagai hukuman karena sudah ada unsur pengampunan dari keluarga, akan tetapi denda disini untuk mengganti hak-hak keluarga yang hilang dengan terbunuhnya salah satu anggota keluarga, terlebih dari segi ekonomi, jika seorang lak-laki yang terbunuh maka dendanya lebih besar daripada wanita karena laki-laki fitrahnya adalah sumber ekonomi keluarga, maka jika laki-laki yang terbunuh akan sangat menghambat perekonomian keluarga.

– Syaikh Dahlawi berpendapat :

sesungguhnya harga diri terhadap tiap manusia itu sama, ketika dibunuh dengan sengaja maka diqishosh baik laki-laki maupun perempuan, tapi ketika dimaafkan atau pembunuhan terjadi secara tidak sengaja maka diganti dengan denda (?§?„?¯???©) penyelesaian ini karena melihat besar kecilnya madlorot yang berhubungan dengan kelurga yang ditinggal sehingga menjadikan perbedaan antara laki-laki dan wanita. dan umumnya keluarga akan sangat berat ditinggal oleh pihak laki-laki dibanding kehilangan dari pihak wanita.

– Ustadz Mushtofa as Siba’iy dalam kitab ?§?„?…?±?£?© ?¨???† ?§?„???‚?‡ ?ˆ?§?„?‚?§?†?ˆ?† juga menjelaskan :

Undang-undang yang berlaku di zaman sekarang adalah menjadikan sangsi dari tiap pelanggaran dengan batas minimal dan maksimal, sehingga semuanya tergantung dari kondisi atau kepayahan yang dialami korban. maka denda akan lebih besar jika yang terbunuh adalah orang yang mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga dari segi ekonomi yaitu laki-laki daripada seorang wanita yang tidak berkewajiban memberi nafkah bagi keluarga.

Persamaan hak antara laki-laki dan wanita ini bersumber dari anggapan yang sama terhadap keduanya yaitu smaa-sama dianggap sebagai manusia atau makhluk sosial, hal itu sudah pernah kita bahas sebelumnya. Sejak awal Islam telah mensyari’atkan yang demikian, berbeda dengan negara-negara yang tidak berasaskan Islam, diantaranya:

?? Prancis

Pada kurun ke-6 mereka mempermasalahkan keberadaan hakekat wanita, apakah wanita termasuk manusia atau sesuatu yang lain sehingga mereka memperlakukan wanita tidak selayaknya manusia. padahal sejak awal Islam sudah begitu jelas menerangkan bahwa wanita mempunyai hak yang sama dengan laki-laki karena keduanya termasuk bani adam.

?? Romawi

Di saat Al qur’an turun dengan mengharamkan perbuatan-perbuatan jahiliyyah yang mengubur anak perempuan secara hidup-hidup

}?ˆ???¥???°???§ ?§?„?’?…???ˆ?’?????ˆ?¯???©?? ?³???¦???„?????’ * ?¨???£?????‘?? ?°???†?’?¨?? ?‚???????„?????’ } [?§?„???ƒ?ˆ???± : 8 ?Œ 9]

bangsa Romawi di masa pertengahan malah sangat memberatkan siksaan terhadap wanita tanpa ada kesalahan. Mereka menyiramkan timah ke tubuh wanita bahkan mengikatnya pada satu tiang yang dibawahnya dinyalakan api kecil yang dibiarkan hidup sampai berhari-hari hingga tulang dan dagingnya hancur dan mereka bangga melakukannya.

dan jika mau berpikir sejenak pastinya akan terheran-heran dengan keadaan Romawi dizaman dahulu yang ketika maju sangat memuliakan wanita, memberikan kebebasan penuh bahkan mengalahkan laki-laki, dan menjadikan laki-laki tunduk kepada wanita, tapi ketika mereka mengalami kekalahan dan kemunduran mereka berbalik menyiksa wanita dengan siksaan yang teramat besar.

Komentar dari pengarang kitab ?¯?§?¦?±?© ?…?¹?§?±?? tentang perubahan Romawi di kurun ke-10:

Ketika Romawi maju dan tidak ada yang mengalahkan mereka semua berbahagia, berfoya-foya, dan hidup seperti itu tidak akan lengkap tanpa adanya percampuran antara laki-laki dan wanita. bahkan dengan didukung pelajaran-pelajaran yunan yang tidak beragama menjadikan hilangnya hijab bagi wanita, yang kemudian menjadikan wanita bebas bergerak dan mampu menguasai dunia politik. Kerendahan dan pemandangan yang menjijikkan akibat percampuran ini membuat saya tidak tega meneruskan tulisan saya karena begitu buruknya perilaku manusia yang sudah hilang tujuan hidupnya dan sangat rendah nafsunya sehingga berakhir dengan perkelahian, perpecahan serta mengacaukan keadaan negara.

Kekacauan seperti ini kemudian menjadikan perubahan pandangan terhadap wanita, mereka beranggapan bahwa semua rusak karena ulah wanita, menganggap wanita adalah sumber dari malapetaka yang terjadi. Maka timbul kebencian terhadap wanita dan penyiksaan-penyiksaan terhadap wanita kembali terjadi mulai abad pertengahan sampai abad ke-17 dan berakhir sampai permulaan abad ke-19.

jika wanita tersebut miskin dan beragama kuat maka dia dipenjara, tapi jika wanita tersebut suka bersenang-senang maka dia dimuliakan dengan dikeluarkan dan dijadikan permainan oleh nafsu laki-laki, ketika wanita telah terfitnah dan adabnya telah rusak seperti itu kemudian dia keberatan maka dia dikembalikan lagi ke penjara dan disiksa lebih berat.

kesimpulannya, zaman dahulu wanita dikekang karena agamanya kuat, namun setelah terjadi perubahan dan agama menipis serta negara semakin maju mereka mengeluarkan wanita supaya bisa digunakan untuk bersenang-senang, kemudian dengan kebebasan tersebut wanita mampu menguasai dunia politik akan tetapi karena keadaan sudah rusak seperti itu maka timbul peperangan dan perpecahan yang pada akhirnya mengkambing hitamkan wanita dan menganggap wanita sebagai sumber malapetaka yang kemudian berakibat penyiksaan terhadap wanita.

Komentar dari Dr. M Sa’id Romdlon al Buthy:

Sekarang sejarah kembali terulang, peradaban bangsa Romawi kembali terjadi, yaitu wanita sekarang begitu dimuliakan dengan disertakan dalam masalah luar dan diberikan begitu banyak kebebasan dalam segala bidang.

Hal seperti ini tidak hanya terjadi di bangsa Romawi bahkan umum di bangsa-bangsa yang lain.

?? India

Di negara ini terdapat syari’at yang dinamakan syari’at manu, di dalamnya mengajarkan tentang keharusan wanita untuk selalu bersandar dan bergantung penuh terhadap laki-laki. Mereka menganggap hal tersebut sebagai suatu bukti kesetiaan terhadap laki-laki baik suami ataupun ayah. Bahkan ketika suami atau ayah mereka meninggal kemudian dibakar maka para istri atau anak perempuan juga harus ikut mati dibakar di dalamnya. hukum ini terus berlanjut sampai abad ke -17.

?? Iran

Syari’at hamurobiy sangat trekenal di negara ini. Syari’at ini memberikan anggapan bahwa wanita bukanlah manusia akan tetapi hewan ternak. Tidak ada kehidupan sama sekali bagi wanita bahkan denda ataupun qishos karena membunuh wanita tidak diajarkan dalam syari’at ini.

?? Yunani

Negara ini mempunyai ajaran bahwa wanita tidak perlu dijaga kehormatannya bahkan kehidupannya sama sekali tidak dihargai. Dalam Isbarthoh diajarkan ketika seorang ayah mempunyai 10 anak perempuan maka yang 7 wajib dibunuh.

Kesimpulan :

Wanita dalam ayunan peradaban kuno sangat diperhatikan dan dimuliakan ketika negara dalam keadaan maju tapi hanya sebatas pemuas nafsu, mereka mencari wanita hanya digunakan untuk bersenag-senang, namun ketika negara mengalami kekalahan dan kemunduran maka cepat sekali mereka menganggap wanita sebagai biang kerusakan. Hal seperti ini yang membedakan hukum Islam dengan hukum yang dianut negar-negara barat, karena Islam memuliakan wanita dari sisi kemanusiaannya, karena Islam menghargai kemanusiaan yang dimiliki wanita tidak peduli ketika negara mengalami kemajuan ataupun kemunduran. Berbeda halnya dengan negara-negara barat yang memandang wanita sebagai pemuas nafsu atau sebagai materi saja yang sewaktu negara maju bisa digunakan sebagai pelengkap kesenangan mereka, tapi ketika negara mengalami kemunduran dan kesusahan mereka tidak bisa lagi bersenang-senang dan menganggap wanita hanya sebagai penambah beban hidup sehingga harus dimusnahkan.

Artikulli paraprakWANITA DAN HAK- HAK SIPIL
Artikulli tjetërPERAN SANTRI DALAM KEHIDUPAN MODEREN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini