Sebab Kemulian Bulan Rojab  (Al Maghfurlah KH Maimoen Zubair)

Al Maghfurlah KH Maimoen Zubair pernah menjelaskan, bahwa hari terbaik puasa rajab itu yang baik dilaksanakan selama sepuluh hari di bulan pertama bulan rajab. Namun, jika tidak kuat, boleh dikurangi hanya tanggal 1 dan 10 atau tanggal 10 saja. Boleh juga jika hanya dilakukan di tanggal 10 saja.

Dalam mauidhotul husna, Al Maghfurlah KH. Maimoen Zubair menjelaskan bahwa hikmah dianjurkannya untuk melaksanakan puasa di tanggal 10 bulan Rajab tersebut adalah karena di malam jumat 10 rajab, dikisahkan dalam sejarah bahwa ayah dan ibu Nabi Muhammad Saw., Abdullah dan Aminah, malam pertamanya di hari tersebut. Sehingga, di malam tersebut, ditiupkanlah Nur Muhammad ke rahim ibunda Aminah sehingga dilahirkanlah kelak Nabi Muhammad Saw. kelak di bulan Rabiul Awal.

Kemudian, kemuliaan bulan ini dikuatkan kembali dengan diabsahkan dalam ajaran Islam sebagai bulan-bulan yang tidak diperbolehkan melakukan perang di masa itu, atau disebut Asyhuru al-Hurum. Selain itu, oleh ajaran Islam ditambah lagi bulan-bulan yang dimuliakan tersebut yaitu Sya’ban, Ramadhan, dan Syawal selain bulan Rajab, Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Rajab itu bulan yang mulia, bukan hanya karena rajaban. Masih banyak orang yang salah faham mengira bahwa kemuliaannya itu karena rajaban (Isro’ Mi’raj), Bukan! Akan tetapi mulianya Rajab itu karena Rajab itu termasuk bulan yang dimuliakan Allah.

Sebelum ada Umatnya Nabi SAW, Bulan-Bulan Mulia (Al-Asyhur Al-Hurum) itu hanya ada 4 bulan saja, yaitu : “Rejeb (Rajab), Selo (Dzulqo’dah), Besar (Dzulhijjah) dan Suro (Muharram)”. Jadi, Rajab dijadikan sebagai bulannya orang untuk beribadah, sementara Dzulqo’dah dan Dzulhijjah dipakai untuk ibadah haji.

BACA JUGA :  Tradisi Bulan Muharrom (Suro)

Setelah Nabi Muhammad SAW diutus, 4 bulan mulia itu dirangkai (berurutan) menjadi 7 bulan, yaitu : “Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya’ban), Poso (Ramadan), Syawwal, Selo (Dzulqo’dah), Besar (Dzulhijjah) dan Suro (Muharram)”. Masa waktu 7 bulan itu sama dengan masa Nabi Muhammad dikandung karena Nabi awal dikandung ibunya itu terjadi pada bulan Rajab, lalu Ruwah, Poso, Syawwal, Selo, Besar, Suro, Sapar (Shofar), Mulud (Rabi’ul Awwal) sehingga kalau ditotal menjadi 9 bulan.

Makanya, kita menganut kepada Nabi SAW dalam hal bulan yang kita muliakan itu sudah termasuk menganut kepada ajaran Nabi Muhammad SAW. Karena Nabi SAW dikandung itu dimulai pada bulan Rajab. Oleh karena itu, pada bulan Rajab kita disunnahkan untuk puasa.

Sumber : Disarikan dari Mauidhotul Husna Simbah al-Magfurlah KH. Maimoen Zubair 

Artikulli paraprakDam Haji Tamattu Dilaksanakan di Indonesia?
Artikulli tjetërAmalan Istimewa di Bulan Rajab: Petuah Syaikhina KH. Muhammad Najih MZ

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini