Beranda Ragam

Ragam

Mbah Wali

0

sebutan mbah wali ini justru digunakan untuk bahan gojlokan para santri dan ditujukan untuk santri yang mempunyai karakter tersebut, karena santri yang dijuluki dengan “mbah wali” biasanya tidak dibarengi dan didasari dengan keilmuan atau pengetahuan agama yang memadai.

Pentingnya Tata Krama (Akhlaq)...

0
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang rugi”

Komentar KH. A. Wafi Maimoen, ...

0

Sebagai seorang muslim kita harus menjadi pelaku (subjek) bukan menjadi sasaran dari media elektronik dan sosial (objek). Sebesar apapun bahaya yang menggerogoti atau menimpa umat Islam, sejarah membuktikan bahwa umat islam ini tetap mendapatkan kemenangan karena perlindungan dari Allah SWT.

Ags. H. Abdulloh Mubarok Lc. M...

0

Perkembangan teknologi, media, dan penyikapannya telah kita sepakati bahwa pada saat ini sudah memasuki masa globalisasi yang merubah tatanan hidup, bagaimana menyikapi hidup di Nusantara ini terlebih dari bagaimana orang itu menyikapi dan memanfaatkan teknologi dan media saat ini.

KH. Muh. Idror Maimoen : Cinta...

0

Beliau menyampaikan bahwa : Permasalahan umat perlu untuk disikapi, karena perkembangan teknologi saat ini baru permulaan.

Update Terbaru Jadwal Pengajia...

0
Jadwal Terbaru Pengajian Balagh Ramadhan 1438 H

Al-Ulama’ Al-Mujaddidun,...

0

Seiring dengan bergesernya waktu dan telah wafatnya nabi maka dibutuhkan lagi figur yang mampu menuntun manusia dalam berpegang teguh pada ajaran-ajaran Al-Qur'an. Figur tersebut tak lain adalah para ulama' yang telah dipilih Allah untuk menggantikan posisi nabi.

Tradisi Bulan Muharrom (Suro)

0

Ada cerita mengenai kenapa masyarakat tanah air merayakan hari ‘asyuro dengan bubur suro. Diceritakan bahwasanya ketika kapal Nabi Nuh AS beserta kaumnya yang hanya berjumlah 60 orang (dalam riwayat lain mengatakan 30 orang) itu berlabuh bertepatan dengan hari ‘asyuro. Dan beliau berseru kepada kaumnya : “Wahai kaumku, kumpulkanlah sisa-sisa bekal kalian menjadi satu.” Lalu ada sebagian kaum beliau yang menyerahkan berbagai jenis kacang seperti kacang brul, kacang adas masing-masing sebanyak genggaman tangan. Ada juga yang menyerahkan beras, gandum putih (sya’ier), dan gandum merah (hinthoh). Kemudian beliau mengatakan : “masaklah semua makanan itu, niscaya kalian akan memperoleh keselamatan”. Makanan yang dibuat oleh kaum Nabi Nuh AS ini merupakan masakan pertama yang dimasak di muka bumi setelah terjadinya badai taufan. Berangkat dari kisah Nabi Nuh AS dan kaumnya inilah para muslimin membuat makanan yang terbuat dari biji-bijian. Dan akhirnya para muslimin terkhusus di tanah air kita menjadikan momentum membuat bubur suro dengan diberikan kepada keluarga dan tetangga di hari ‘asyuro.

Berdo’a di Permulaan Tah...

0

Tahun baru bukanlah ajang pesta, karena yang terpenting adalah mengoreksi dan mengevaluasi kesalahan untuk menjadi lebih baik lagi di tahun mendatang. Mari berdoa untuk akhir yang baik dan awwal yang lebih baik.

Kyai Santri dalam Mempertahank...

0

Salah satunya adalah Resolusi Jihad dan fatwa-fatwa lain para kyai tentang wajibnya berjuang melawan penjajah. Douwes Dekker pernah berkata dalam bukunya: “Kalau tidak ada kyai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.”