SOLUSI LUPA NIAT PUASA RAMADHAN
Niat adalah perkara paling fundamental dalam setiap ibadah, tak terkecuali puasa. Pada puasa Ramadhan, niat harus dilakukan setiap hari pada saat malam menurut Madzhab Syafi’i. (Fath al-Wahhab, I/139)
Bagaimana Solusi Lupa Niat Puasa?
Namun permasalahan muncul ketika ada kesibukan atau aktivitas tertentu seringkali membuat masyarakat lupa untuk niat puasa pada malam hari. Untuk mengantisipasinya, para ulama menganjurkan niat puasa satu bulan penuh di malam pertama Ramadhan. Hal ini ditujukan apabila suatu hari seseorang lupa untuk niat, maka puasanya tetap sah karena dicukupkan dengan niat satu bulan penuh tersebut dengan mengikuti (taqlid) pada madzhab Maliki. Atau juga bisa niat di pagi hari dengan niat mengikuti mazhab Imam Abu Hanifah.
Dalam kitab kasyifa syrah safinnatu naja dijelaskan bahwa:“Al-Ziyadi berkata, “Jika seorang niat puasa satu bulan pada awal malam Ramadlan, maka yang sah hanya hari pertama saja. Tetapi hal itu sebaiknya dilakukan, agar puasa pada hari yang lupa diniati tetap sah menurut Imam Malik. Sebagaimana sunah niat pada pagi hari yang lupa diniati, agar puasa tetap sah menurut Imam Abu Hanifah. Semua itu sah jika taklid (ikut) pada kedua imam tersebut. Jika tidak, maka ia melakukan ibadah yang tidak sah dalam keyakinannya, dan itu hukumnya haram.”
Imam al-Qulyubi menjelaskan:
وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ
“Disunahkan di malam pertama bulan Ramadhan untuk niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil memanfaatkan pendapat Imam Malik pada suatu hari yang lupa untuk berniat di dalamnya. Karena beliau menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya di semua malam Ramadhan” (Hasyiyah Al-Qulyubi, II/66)
Lebih lanjut, Syekh Sulaiman al-Jamal menegaskan:
وَوَاضِحٌ أَنَّ مَحَلَّهُ إذَا قَلَّدَ وَإِلَّا كَانَ مُتَلَبِّسًا بِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ فِي اعْتِقَادِهِ
“Sudah jelas, sesungguhnya cara ini (niat satu bulan penuh untuk mengantisipasi lupa niat setiap malam) apabila seseorang bertaqlid kepada Imam Malik. Jika tidak, maka sama halnya dengan ibadah yang tidak sah dalam keyakinan dirinya (Madzhab Syafi’i).” (Hasyiyah Al-Jamal, II/311)
Yang perlu diperhatikan, niat satu bulan penuh tersebut hanya sebatas antisipasi apabila lupa tidak niat puasa. Sehingga untuk setiap malamnya tetap diwajibkan niat seperti biasa, sebagaimana dalam madzhab Syafi’i.


