Pernahkah kalian melihat seseorang yang sangat ramah dan luwes dalam bergaul di tengah masyarakat, tetapi justru merasa hampa dan kehilangan arah dalam kehidupan pribadinya? Atau banyak orang beranggapan bahwa etika dan adab itu cukup dibangun atas dasar kesopanan formalitas semata, tanpa perlu menyandarkannya pada nilai-nilai ketuhanan? Problem ini sering kali kita jumpai dalam kehidupan modern, di mana standar pergaulan hanya diukur dari asas kebermanfaatan duniawi atau sekadar rasa tidak enak hati kepada sesama.
Dalam kajian kali ini, Kitab yang akan kita dalami adalah Bidayatul Hidayah karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Didalamnya, terdapat satu bab yang berjudul “Al-qaulu fii aadaabish-shuhbati wal-mu’aasyarati ma’al-khaaliqi wal-khalq” yang membahas panduan adab mendalam serta menata interaksi diri, baik berdampingan dengan Sang Khaliq maupun saat berhubungan dengan sesama makhluk.
Menjadikan Allah SWT sebagai Sahabat Utama
Banyak dari kita sibuk mencari teman curhat atau sahabat sejati yang bisa menemani setiap saat. Padahal, sahabat sejati yang tidak pernah berpisah dari kita, baik saat menetap, bepergian, tidur, terjaga, bahkan dalam kehidupan hingga kematian adalah Allah SWT. Hakikat ini dietgaskan melalui firman-Nya dalam Hadits Qudsi:
أَنَا جَلِيسُ مَنْ ذَكَرَنِي
Artinya: “Aku adalah teman duduk bagi siapa saja yang mengingat-Ku.” HR. Ahmad bin Hambal dan Baihaqi
Bahkan ketika hati seseorang remuk dan hancur karena meratapi kekurangannya dalam menunaikan hak-hak Allah, maka di situlah Allah hadir menemani. Ibarot di atas menjelaskan firman-Nya:
أَنَا عِندَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ أَجْلِي
Artinya: “Aku berada di sisi orang-orang yang hancur hatinya karena Aku.” HR. Ahmad dan Abu Nua’im
Adapun kriteria adab berdampingan dengan Allah SWT telah dijelaskan pada kitab tersebut. Yaitu, meliputi Mengutamakan kebenaran (iitsarul haq), Memfokuskan cita-cita/pikiran (jam’ul hamm), Melanggengkan dzikir (dawamuz dzikr), bersegera menjalankan perintah (mubadaratul amr), menjauhi larangan (ijtinabun nahyi), sedikit menyanggah takdir (qillatul i’tiradh ‘alash qadar), dan senantiasa bertawakal atas kebaikan pilihan-Nya.
Etika Peran: Alim, Muta’allim, dan Orang Tua
Dalam tata pergaulan sosial, Imam Al-Ghazali merinci kriteria adab berdasarkan posisi dan peran masing-masing:
1. Adab Seorang Alim (Guru/Pengajar)
Ulama Syafi’iyyah dan para pendidik hendaknya memiliki kelapangan dada, bersikap wibawa, dan tidak takabur kepada siapapun, kecuali kepada orang zalim sebagai bentuk gertakan (zajran) agar mereka berhenti bersikap zalim. Selain itu, pengajar harus mengamalkan ilmunya terlebih dahulu agar murid dapat meneladani perbuatannya sebelum mengambil manfaat dari ucapannya. Seorang alim juga tidak boleh merasa gengsi untuk mengucapkan “Aku tidak tahu” (Laa adri).
2. Adab Seorang Muta’allim (Murid)
Seorang penuntut ilmu hendaknya memulai dengan salam, sedikit berbicara di depan guru, tidak bertanya sebelum diizinkan, serta tidak menyanggah dengan ucapan “Si Fulan berkata berbeda dari Anda”. Jika murid melihat tindakan guru yang secara lahiriah tampak mungkar atau membingungkan, murid dilarang berburuk sangka dan harus mengingat peristiwa Nabi Musa AS bersama Nabi Khidir AS:
قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا
Artinya: “Musa berkata: ‘Apakah engkau melubangi perahu itu untuk tenggelamkan penumpangnya? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu kesalahan yang besar.” Q.S. Al-Kahf ayat 71
3. Adab Anak Terhadap Kedua Orang Tua
Kriteria adab anak mencakup mendengarkan ucapan orang tua, berdiri menyambut keberadaan mereka, mematuhi perintahnya, tidak berjalan di depan mereka, tidak meninggikan suara di atas suara keduanya, serta tidak bermuka masam atau memandang mereka dengan tatapan tajam.
Kriteria Dalam Memilih Sahabat
Problem salah memilih teman bisa membawa dampak buruk bagi aspek spiritual dan perilaku seseorang. Sabda Rasulullah SAW dapat kita jadikan bijakan dalam memilih sahabat:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Artinya: “Seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dijadikan teman.” HR. Ahmad, Tirmizi, dan Abi Dawud
Imam Al-Ghazali merumuskan lima kriteria utama dalam memilih sahabat yaitu:
- Cerdas (Berakal): Tidak ada kebaikan bersahabat dengan orang dungu (ahmaq), karena ia bisa celakakanmu saat berniat membantumu.
- Berakhlak Baik: Mampu mengendalikan diri saat marah dan tidak dikuasai hawa nafsu.
- Shalih: Tidak bersahabat dengan orang fasik yang terus-menerus melakukan dosa besar.
- Zahid (Tidak Ambisius Dunia): Karena berteman dengan orang yang serakah akan menularkan sifat serakah tersebut secara tidak sadar.
- Jujur: Menjauhi pembohong yang bagaikan fatamorgana.
Jika kriteria-kriteria di atas sulit ditemukan di tengah lingkungan pergaulan, maka Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa jalan terbaik adalah memilih uzlah (menyendiri) demi keselamatan agama dan hati.
Kesimpulan yang kita dapat dari pembahasan kitab Bidayatul Hidayah ini adalah bahwa fondasi utama dalam pergaulan hidup adalah menjadikan Allah SWT sebagai sahabat tertinggi yang tidak pernah berpisah dari diri kita. Dari hubungan yang kokoh dengan Sang Khaliq itulah lahir pancaran akhlak mulia dalam menghormati guru, berbakti kepada orang tua, menuntun sesama, serta menyaring sahabat pergaulan dengan kriteria yang tepat.
Wallahua’lam..


