Karangmangu adalah sebuah desa yang terletak di pinggiran pantai utara yang mengikuti Kecamatan Sarang. Kecamatan sarang ini menjadi pembatas antara propinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di tempat ini terdapat candra dimuka, yaitu pembelajaran agama Islam ala Ahli Assunnah wal Jamaah mulai tingkat awal sampai tuntas dengan metode pelajaran yang dibimbing langsung oleh para masyayeh arrobbani mulai zaman penjajah hingga saat ini. Penyebaran ajaran itu dimulai dari seorang kiai bernama Lanah, ayahanda Kiai Ghozali. Beliau berasal dari sebuah desa Kelampis, Kabupaten Bangkalan. Hijrah pada tempat saat ini terkenal bernama Sarang.

Kegiatan tafaqqun fiddin yang dibangunnya terus menerus sampai saat ini ditekuni oleh durriyah beliau semisal Hadratu Assyeh KH Maimun Zubair dan putra putranya seperti Assyeh KH Muhammad Najih dan masyayeh yang lain. Sehingga, dari tempat itu bersinar generasi bagaikan mutiara. Dari dada mereka terpancar terang sinar tauhid. Sungguh sangatlah beruntung bagi seseorang yang bersabar belajar sampai tuntas di sana, karena mereka termasuk ciri-ciri orang yang dikehendaki Allah untuk menjadi orang sholih dan sholihah sebagai mana sabda Rasulullah SAW,

""

عن ابن شهاب قال قال حميد بن عبد الرحمن سمعت معاوية خطيبا يقول : سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول ( من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين وإنما أنا قاسم والله يعطي ولن تزال هذه الأمة قائمة على أمر الله لا يضرهم من خالفهم حتى يأتي أمر الله) صحيح البخاري

Hadist di atas memberikan aspirasi pada tholibil ilmi untuk memiliki keinginan menjadi orang yang dipilih Allah menjadi orang baik, sehingga mampu meguasai dan mendalami hukum-hukum agama. Yang mana menguasai ilmu sebagai barometer Allah mengangkat derajat orang yang dikehendaki-Nya. Sungguh orang itulah yang akan mampu melanjutkan tongkat estafet generasi umat ini yang dijamin oleh sabda baginda Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallam. Yaitu, senantiasa umat ini konsis menjalani ajaran agama Allah, maka musuh musuh umat ini tak akan mampu mempengaruhi ummat ini sampai akan datangnya hari kiamat.

""

Dalam hadist yang lain, yang dimaksud mankholafahum adalah kaum Yahudi. Di akhir zaman ini sudah nampak jelas sepak terjang kaum satu ini. Semua aliran dibuatnya untuk menghancurkan ajaran agama yang ada di muka bumi wabil khusus umat Islam. Sejarah telah mencatat aliran-aliran yang ada dalam Islam itu termasuk keberhasilan agenda zionis yahudi telah memecah belah Islam menjadi beberapa firqoh contohlah firqoh Syiah. Syiah dalam sejarah adalah hasil propaganda Abdullah bin Saba’, seorang rabiy Yahudi dari Yaman yang menyusup dengan cara pura-pura masuk Islam. Itulah kabar mukjizat dari baginda nabi.

Seorang mu’min yang benar benar kuat imannya pasti meyakini petunjuk agung rasulnya, pentingnya bagi umat ini memperbaiki dan membangun dengan cara memahamkan generasinya perindividu secara kaffah, sehingga mereka benar-benar faham ajaran agamanya, bermula dari metode nubuwwah dan tarbiyah yang benar. Dan yang maha penting, ummat ini benar-benar seteril dari virus faham-faham yang tak diharapkan. Tentunya untuk memperoleh cita-cita agung tersebut sangat penting untuk melanjutkan pondasi kokoh yang telah dibangun oleh generasi awal umat ini. Semisal perkataan Muhammad bin Sirin

عن محمد بن سيرين قال إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم. صحيح مسلم

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama islam itu sendiri, maka lihatlah dari mana engkau mengambil agamamu.”

Dari maqolah Ibnu Sirin yang diabadikan oleh Imam Muslim dalam kitab shohihnya, umat ini harus cermat dan selektif mencari seorang guru, maqolah ini sangat terbukti terpecah belahnya umat Islam terjadi karena disusupi oleh musuh-musuhnya melalui pendidikan. Mereka menyusupkan orang yang mempunyai otoritas di bidangnya seperti yang terjadi pada tahun 2002 ada seorang dosen Ulumul Quran dari UIN Makassar meluncurkan makalah edisi kritis Al Quran. Dosen itu mengatakan Alquran yang ada di tangan kita itu masih bermasalah harus dibuat Al Quran yang edisi refisi. Juga, terjadi pada taun 2003 di IAIN Semarang dalam Fakultas Syariah mengeluarkan jurnal Justisia yang judul Kritik Al Quran. Di dalamnya memuat ucapan yang sangat melecehkan yaitu Al Quran itu adalah kecelakaan sejarah. Juga, terjadi di IAIN Jogjakarta tahun 2004 dalam tesis master berjudul menggugat otentitas wahyu tuhan. Buku ini di terbitkan oleh Islam Liberal Paramadina. Juga, terjadi di IAIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2006 seorang dosen mengatakan AlQuran itu produk budaya oleh karena itu bukan sesuatu yang suci. Untuk meyakinkan siswanya dosen itu menulis lafadz Allah dan menginjaknya. Hal itu diberitakan oleh media massa, di antaranya majalah Sabili.

Kenyataan di berbagai belahan dunia dirusaknya ummat ini melalui pendidikan. Yaitu, melalui guru fan yang tidak sejalan dengan ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Karena itu, perlu kita meyakinkan pada diri kita bahwasannya jalan yang mampu mencapai ridho Allah tidak ada kecuali jalan Rasulullah dan para sahabatnya sebagaimana sabda Rasulullah diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud. Beliau bercerita pada suatu hari Rasulallah menggaris di atas tanah dengan beberapa garisan dan beliau berisyarah dengan jari telunjuk beliau pada satu garisan, lalu beliau bersabda, “Garis ini adalah jalan yang diridoi Allah.” Dan beliau menggaris di kanan kiri garisan yang pertama lalu beliau bersabda, “Garis garis ini adalah beberapa jalan. Pada setiap jalan terdapat setan, dan setan setan itu mengajak manusia pada jalan jalan itu.” setelah itu Rasulullah membaca ayat ke 153 dari surat Al An’am.

BACA JUGA :  Perbedaan Status Khalik dan Makhluk

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [الأنعام : 153]

Dan bahwa sesungguhnya inilah jalanKu (agama Islam) yang betul lurus, maka hendaklah kamu menngikutinya; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain dari Islam), kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah, Dengan yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu bertaqwa.

Abu Bakar Muhammad bin Al Husain berkata dalam kitab Assyariah halaman 15: “Tanda dari seseorang yang dikehendaki Allah menjadi orang baik adalah seseorang yang menempuh jalan ini yakni mengamalkan ajaran kandungan AlQuran dan sunnah Rasulullah dan para sahabatnya Radiallahu anhum, dan meniti jalan generasi setelah sahabat yang menjunjung tinggi ajaran agama sampai pada generasi yang mencocoki beberapa para imam orang muslim di segala penjuru dunia yaitu para ulama’ yang bermadzhab seperti madhabnya Imam Auza’i, Sufyan as-Sauri, Malik bin Anas, As-Safii, Ahmad bin Hanbal, Qosim bin Sallam dan para generasi yang mencocoki pada madzhab madzhab mereka dan menjauhi semua madzhab yang mencela ulama’-ulama’ tersebut.”

Kesimpulan dari hadits dan maqolah para ulama’ tersebut, bagi orang yang beriman akan bertambah imannya bahwasanya kebenaran yang mutlak yang bisa mencapai rida Allah cuma ada satu jalan. Yaitu, jalan Allah yang diajarkan oleh Rasul pada para sahabatnya. Hadits ini juga menutup rapat pintu membenarkan persangkaan musuh musuh agama Islam yang mana mereka beranggapan bisa mencapai rida Allah dengan selain jalan yang di ajarkan Allah pada Rasulnya seperti ucapan Prof,DR Nur Cholis Majid yang mengatakan setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap tuhan, ibarat roda [AS nya] itu adalah tuhan, dan jari jari itu adalah jalan dari berbagai agama. Oleh karena itu, ada istilah satu tuhan banyak jalan.

Prof Huston smith menggambarkan agama-agama di dunia itu seperti piramida. Faham-faham agama yang ada ini merupakan jalan yang berbeda menuju satu Tuhan. Ada jalan Islam, Yahudi, Kristen, Hindu dan Budha. Semua itu yang beda cuman luarnya [exsoterik]. Batinnya sama bertemu pada level transenden. Ketika dekat dengan Tuhan bersatulah ajaran agama agama itu. Faham ini terkenal dengan nama transendentalisme. Kedua pendapat tokoh ini termasuk gerakan faham Liberalisme Agama yang disebarkan oleh musuh-musuh ummat Islam yaitu kaum Liberal. Mereka mempunyai tiga program penyebaran. Pertama, pentingnya kontektualisasi ijtihad. Kedua, komitmen rasionalitas dan pembaharuan, yaitu kalau ada nash Kitab suci bertentangan dengan rasio [akal] maka dimenangkan rasio. Yang ketiga adalah komitmen prulalisme agama. Yang kita bahas masuk pada program Liberalisme yang ketiga ini yaitu faham ini menganggap semua agama benar dan tidak boleh meyakini ada satu agama yang benar. Lebih parahnya, faham ini berpendapat Tuhan apapun yang disembah oleh umat tidak menjadi masalah. Di sisi lain, Tuhan tidak berhak menghukum manusia karena tidak menyembahnya [ ateis]. Karena ini bukan wewenang Tuhan untuk mengatur karena sudah masuk ruang privat.

Sebenarnya, Liberalisme itu ada mulai zaman Rasulullah sebelum beliau hijrah ke Madinah. Pada saat Rasulullah berdakwah mengajak kaum Qurais untuk beriman kepada Allah [bertuhid] mereka menolak, bahkan mereka menawarkan syarat mau beriman kalau Rasulullah menyembah berhala-berhala mereka. Hal ini difirmankan oleh Allah dalam kitab suci-Nya,

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir!” aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku. (QS. 109:1-6)

Hal ini sangat jelas kalau Liberalisme agama adalah faham kafir. Alhamdulillah MUI juga berfatwa bahwasannya faham Liberalisme ini adalah faham kufur. Patut disyukuri bagi kaum santri yang sudah mempunyai guru atau masyayeh yang konsisten Ahli Sunnah wal Jamaah [bentuk tafsiran dari maqola Rasulullah ma ana alaihi wa ashabi] yang mana kasih sayangnya selalu tercurah dalam semua waktu untuk kemajuan ilmiyah santri.

Munggo bersyukur dengan rasa ihklas, giat dalam belajar dan berhidmah pada masyayeh. Merekalah pewaris para nabi. Dari merekalah ilmu barakah dan manfaat tercurah. Sehingga, keridhoan Allah akan datang dari ridho para masyayeh. Ujungnya, kaum santri akan menemukan kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kesuksesan dan kebahagiaan hanya datang pada orang yang mempunyai keyakinan. Semoga semua santri mempunyai keyakinan. Amin ya rabbal alamin.

Artikulli paraprakRihlah Dakwah dari Dubai
Artikulli tjetërMisteri Laut Merah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini