Namaku pada pintu, dedaunan, kubah dan kemah
Dan ketika Allah menciptakan surga yang didiami Adam dan Hawa maka Allah menulis namaku pada pintu, dedaunan, kubah dan kemah sedang Adam dalam kondisi antara ruh dan jasad. Saat Allah menghidupkan Adam, ia memandang ‘arsy lalu melihat namaku. Kemudian Allah memberitahukan kepada Adam bahwa Muhammad adalah Junjungan anak cucumu. Waktu syetan berhasil memperdayai Adam dan Hawa, keduanya bertaubat dan memohon syafaat kepada Allah dengan namaku,” jawab Nabi.
Keistimewaan dan karomah itu identik dilihat dari aspek hukum, pengutipan, dan tidak diperlukannya upaya ketat sebagaimana upaya ketat dalam mengutip hukum-hukum dari halal dan haram. Keistimewaan dan karomah berada dalam wilayah sikap-sikap terpuji dan keutamaan-keutamaan.
Berangkat dari fakta ini, sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyangkut karomah para wali sama persis dengan sikapnya mengenai keistimewaan-keistimewaan para Nabi.
Karomah Dan Hal-Hal Yang di Luar Kebiasaan
Dalam kitab-kitabnya beliau mengutip sejumlah karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi dalam generasi awal. Jika kita kaji status, isnad dan jalur ketetapan periwayatannya maka kita akan menemukan bahwa sebagian dari karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi dalam generasi awal ada yang berstatus shahih, hasan, dhaif, diterima, ditolak, munkar dan syadz. Meskipun demikian semuanya diterima dalam masalah ini dan dibawa serta ditransfer dari ulama. Di antara kutipan-kutipan dari Ibnu Taimiyyah tentang karomah sebagian sahabat adalah sebagai berikut :
- Ummu Aiman pergi berhijrah tanpa membawa bekal dan air hingga ia hampir mati karena kehausan. Saat tiba waktu berbuka ia sedang berpuasa ia mendengar di atas kepalanya ada suara halus. Lalu ia mendongakkan kepalanya. Ternyata ada timba menggantung. Kemudian ia minum dari timba tersebut sampai merasa segar dan tidak merasakan haus dalam sisa hidupnya.
- Sebuah perahu mantan budak Rasulullah SAW memberitahu kepada seekor singa bahwa ia adalah utusan Rasulullah. Akhirnya singa tersebut berjalan bersamanya sampai mengantarkan menuju tempat tujuannya.
- Al Bara’ ibn Malik jika bersumpah atas Allah maka Allah akan merealisasikan sumpahnya. Jika dalam situasi perang memberatkan kaum muslimin dalam berjihad, mereka akan berteriak, “Wahai Bara’ ! bersumpahlah atas Tuhanmu.” “Ya Rabbi, aku bersumpah atas-Mu , berikanlah bahu-bahu orang-orang kafir kepada kami,” sumpah Bara’. Akhirnya musuh pun mengalami kekalahan. Ketika berlangsung perang Qadisiyyah, Bara’ bersumpah, “Aku bersumpah atas-Mu, ya Rabbi, berikanlah bahu-bahu orang-orang kafir kepada kami dan jadikan aku orang pertama yang mati syahid.” Akhirnya kaum muslimin diberi bahu-bahu orang-orang kafir dan Bara’ sendiri terbunuh sebagai syahid.
Khalid ibn al-Walid mengepung sebuah benteng yang kokoh
- Khalid ibn al-Walid mengepung sebuah benteng yang kokoh. “Kami tidak akan menyerah sampai kamu minum racun, ”kata orang-orang kafir. Akhirnya Khalid minum racun dan racun itu tidak menimbulkan efek apa-apa.
- Ketika mengirimkan bala tentara, ‘Umar ibn al-Khatthab mengangkat seorang lelaki bernama Sariyah sebagai pemimpin pasukan. Ketika sedang berkhutbah di atas mimbar tiba-tiba ‘Umar berteriak, “Wahai Sariyah !, tetaplah berada di gunung. Wahai Sariyah !, tetaplah berada di gunung.” Saat utusan bala tentara datang, ‘Umar bertanya kepadanya, yang kemudian dijawab, “Wahai Amiral Mu’mini !, Kami bertemu musuh dan mereka berhasil mengalahkan kami. Tiba-tiba ada suara orang berteriak : “Wahai Sariyah !, tetaplah berada di gunung.” Akhirnya kami pun tetap berada di gunung, hingga Allah mengalahkan mereka.
- ‘Ala’ ibn al-Hadlrami adalah gubernur Rasulullah untuk wilayah Bahrain. Dalam do’a yang telah terpanjatkannya ia berkata, “Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha Sabar, wahai Dzat Yang Maha Tinggi, wahai Dzat Yang Maha Agung.” Maka do’anya pun terkabulkan. Ia juga pernah berdo’a agar orang-orang mendapat hujan dan bisa berwudlu ketika mereka mengalami ketiadaan air . Waktu bala tentara muslimin terhalang oleh laut dan tak mampu menyeberangkan kuda-kuda mereka, ia berdo’a hingga akhirnya mereka bisa melewati laut dengan pelana kuda yang tidak basah oleh air. Ia juga berdo’a agar ketika mati jasadnya tak terlihat orang. Akhirnya ketika mati orang-orang tidak menemukan jasadnya di liang lahat.


