Rasa khawatir akan kelalaian dalam menunaikan kewajiban merupakan salah satu tanda baik bagi seorang muslim. Tidak sedikit orang yang setelah bertahun-tahun menjalani kehidupannya, diliputi kegelisahan, “Jangan-jangan ada salat wajib yang pernah tertinggal, tetapi kini aku telah lupa.” Sebagai bentuk kehati-hatian (itiyā), sebagian orang kemudian mengerjakan setiap salat fardu sebanyak dua kali. Salat pertama diniatkan sebagai pelaksanaan salat fardu pada waktunya, sedangkan salat kedua diniatkan sebagai salat qadha apabila benar-benar terdapat salat wajib yang pernah terlewat di masa lampau.

     Sekilas, cara ini tampak mencerminkan sikap itiyā (berhati-hati) dalam beribadah. Namun, benarkah syariat membenarkan praktik tersebut? Apakah salat kedua dapat langsung dihukumi sebagai salat qadha? Dan apabila ternyata seseorang tidak pernah memiliki tanggungan salat sama sekali, apakah salat keduanya berubah menjadi salat sunnah, atau justru tidak sah sejak awal?

     Untuk memahami hukum tersebut, Imam Ibnu Hajar al-Haitami memberikan kaidah yang dapat ditemukan dalam pembahasan puasa qadha. Meskipun pembahasannya mengenai puasa, kaidah ini menjadi landasan penting untuk memahami hukum qadha salat. Di dalam Kitabnya Al-Fatāwā al-Fiqhiyyah al-Kubrā Beliau pernah di tanya perihal seseorang yang berniat puasa qadha, padahal ia belum yakin apakah masih memiliki tanggungan puasa atau tidak.

وَسُئِلَ رضي الله عنه عَمَّنْ نَوَى فِي اللَّيْلِ صَوْمَ الْقَضَاءِ وَبَعْد الْفَجْرِ التَّطَوُّعَ فَهَلْ يَحْصُلُ بِذَلِكَ التَّطَوُّعُ إنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ قَضَاءٌ؟
(فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ إنْ ظَنَّ حَالَ نِيَّةِ الْقَضَاءِ أَنَّهُ عَلَيْهِ صَحَّتْ نِيَّتُهُ لَهُ بِفَرْضِ كَوْنِهِ عَلَيْهِ و َكَذَا لَوْ شَكَّ وَنَوَاهُ احْتِيَاطًا نَظِيرَ مَا صَرَّحُوا بِهِ فِي وُضُوءِ الِاحْتِيَاطِ مِنْ صِحَّتِهِ بِفَرْضِ أَنَّ عَلَيْهِ حَدَثًا مَا لَمْ يَتَبَيَّن الْحَالَ فَإِنْ لَمْ يَظُنَّ أَنَّ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَلَا شَكَّ فِيهِ فَنِيَّةُ الْقَضَاءِ بَاطِلَةٌ.

BACA JUGA :  Ijtihad, Kajian, dan Analisis

    Seseorang yang ketika berniat puasa qadha memiliki dugaan kuat masih mempunyai tanggungan puasa, maka niat qadhanya dianggap sah apabila dugaan tersebut benar. Demikian pula jika ia ragu apakah masih memiliki tanggungan qadha, lalu ia berniat qadha sebagai bentuk iḥtiyā. Hal ini dianalogikan dengan apa yang telah ditegaskan para ulama mengenai wudlu iḥtiyā, yaitu sah apabila ternyata memang ia masih berhadas, selama keadaan yang sebenarnya belum diketahui. Namun, jika ia tidak mengira sama sekali bahwa dirinya memiliki tanggungan qadha dan juga tidak ragu tentang hal itu, maka niat qadhanya batal.

(Ibnu Hajar al-Haitami, Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, Juz 2, hlm. 83).

    Kaidah tersebut kemudian dapat diterapkan dalam pembahasan qadha salat. Berkaitan dengan hal ini, Al-Qadhi Husein sebagaimana dikutip dalam Hasyiyah al-Jamal mengatakan:

لَوْ قَضَى فَائِتَةً عَلَى الشَّكِّ فَالْمَرْجُوُّ مِن اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يَجْبُرَ بِهَا خَلَلًا فِي الْفَرَائِضِ أَوْ يَحْسِبَهَا لَهُ نَفْلًا

(Syekh Sulaiman bin Umar al-Ujaili al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, Juz 3, hlm. 31).

Apabila seseorang mengqadha suatu salat yang tertinggal berdasarkan dugaan atau keraguan (tidak yakin benar masih memiliki utang salat), maka kami berharap kepada Allah Ta’ala agar salat tersebut dijadikan sebagai penutup kekurangan dalam salat-salat fardunya. Atau, jika ternyata ia memang tidak memiliki utang salat, semoga Allah menghitungnya sebagai salat sunah (nafilah).

1
2
Artikulli paraprakMeluruskan Kompas Hati Seorang Muta’allim
Artikulli tjetërMenolak LGBT: Sikap Islam dalam Menjaga Fitrah Manusia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini