Turunnya hujan tidak melemahkan niat Syaikh Rajab Dib (Mursyid Tarekat asal Suria) untuk berkunjung di kediaman Syaikh Maimoen Zubair Sarang. Kunjungan ini bukanlah yang pertama kali, melainkan kunjungan yang keempat kalinya. Padahal dalam kunjungan ini Syaikh Rojab sedang dalam keadaan sakit. Beliau membawa obat dalam perjalanannya. Sakit baginya bukanlah suatu masalah, yang terpenting bisa bertemu dengan Syaikh Maimoen yang sudah dianggap sebagai gurunya.

Saking hormat dan tawaduknya Syaikh Rajab kepada Syaikh Maimoen, di sepanjang jalan menuju ke kediaman Syaikh Maimoen, Syaikh Rajab membaca istighfar. Hal ini disebabkan karena Syaikh Rajab merasa takut kalau kunjungannya ini akan ditolak oleh Syaikh Maimoen. Beliau mempunyai sebuah keyakinan apabila kunjungannya ini diterima oleh Syaikh Maimoen, maka kunjungannya ini pula akan diterima dan diridai oleh Allah.

Syaikh Maimeon bagi Syaikh Rajab adalah salah satu guru yang ia muliakan dari beberapa gurunya yang ada di Suria. Beliau menganggap Syaikh Maimoen adalah guru yang alim yang pernah ia jumpai. Seandainya Syaikh Maimoen tidak memberi izin kepada Syaikh Rajab untuk berbicara, niscaya Syaikh Rajab tidak akan berbicara sebagai bukti bahwa beliau menghormatinya. Inilah akhlak yang telah diajarkan oleh salafus shaleh yang menghormati seorang guru.

Dalam mukaddimah kunjungan Syaikh Rajab ini, Syaikh Maimoen menceritakan awal mula masukkanya Islam di nusantara. Islam berkembang di nusantara terutama Jawa melalui media yang namanya Padepokan atau Pesantren yang kemudian dilanjutkan dengan berdirinya masjid-masjid yang bertebaran. Dengan adanya peran pesantren dan masjid ini membuat jumlah Islam yang yang ada di indonesia merupakan jumlah mayoritas tertinggi yang ada di dunia. Hal ini bisa dilihat ketika umat Islam Indonesia menjalankan ibadah haji yang jumlahnya paling banyak bila dibandingkan dengan Negara-negara yang lainnya.

Selanjutnya, setelah ceramahnya Syaikh Maimoen dilanjutkan dengan ceramahnya Dr. Muzammil, Mantan Duta Besar asal Suria. Di dalam ceramahnya, Dr. Muzammil menjelaskan tentang keutamaan orang yang menuntut ilmu dan keutamaan para ulama. Terlebih kepada para ulama yang mau meninggalkan karya tulis. Ulama yang meninggalkan karya tulis, derajatnya itu lebih tinggi dari pada para syuhada’. Tinta yang digoreskan oleh para ulama itu lebih baik dari pada darahnya para syuhada’.

BACA JUGA :  HIMMA di Acara Ngaji Bareng Syaikhina Maimoen Zubair

Usai ceramah Dr. Muzammil, dilanjutkan dengan taushiyah dari Syaikh Rajab Dib. Dalam taushiyahnya, Syaikh Rajab mengungkapkan keistimewaan yang dimilki oleh Syaikh Maimoen yang tidak dimiliki oleh ulama yang lainnya.

Syaikh Rajab mengajak para santri Al-Anwar agar bersemangat dalam mempelajari ilmu agama Islam. Kesemangatan itu telah dicontohkan oleh Syaikh Rajab sendiri. Sejak umur 13 tahun Syaikh Rajab sudah menghafal Al-Quran. Kemudian setelah hafal Al-Quran dilanjutkan dengan mempelajari kitab-kitab Fikih. Metode dalam mempelajari Kitab Fikih, Syaikh Rajab sering mengulang-ulang pembacaannya hingga sampai 40 kali sehingga beliau benar-benar paham.

Kitab Fikih yang pertama kali Syaikh Rajab kaji adalah Fikih yang bermadzhab Hanafi. Setelah Fikih Madzhab Hanafi dikuasainya dilanjutkan dengan Fikih yang bermadzhab Syafii yang kemudian dilanjutkan dengan mempelajari Fikih yang bermadzhab Hanbali dan Maliki. Mengapa di sini Syaikh Rajab perlu mempelajari empat madzhab? Karena kalau hanya mempelajari satu madzhab niscaya masih akan memberatkan umat. Berbeda kalau dengan mempelajari banyak madzhab yang nantinya akan membawa kemudahan bagi umat.

Syaikh Rajab juga berwasiat kepada santri Al-Anwar agar mengutamakan Syaikh Maimoen dari pada yang lainnya. Karena seorang guru adalah orang yang membimbing manusia untuk mengenal tuhannya. Ilmu yang diajarkan oleh seorang syaikh itu bersambung dengan ilmu yang telah diajarkan oleh Rasulullah seperti ilmunya Syaikh Maimoen ini. Karena Rasulullah itu tidak meninggalkan harta benda, melainkan hanya meninggalkan ilmu. Maka dari itu, Syaikh Rajab mengajak kepada santri Al-Anwar agara memuliakan dan mengidolakan Syaikh Maimoen. Pelajarilah biografi Syaikh Maimoen kemudian ikutilah jejak-jejaknya mulai dari ketika beliau menjadi seorang santri hingga menjadi ulama yang alim.

Terakhir, Syaikh Rajab memberikan kenang-kenangan kepada Syaikh Maimoen berupa tafsir yang berjumlah 32 jilid yang dikarang oleh Syaikh Rajab selama 62 tahun. Syaikh Maimoen juga memberikan kenang-kenangan yang nantinya akan dibawa oleh Syaikh Rajab ke negeri Suria. Berkah kunjungan Syaikh Rajab ini, Syaikh Maimoen berdoa semoga negeri Suria akan menjadi damai seperti sedia kala. Amiin.

Sarang, 12 April 2013

Oleh : Amirul Ulum

Artikulli paraprakK.H. Ma’ruf Zubair (Saudara Syaikhina Maimoen)
Artikulli tjetërHasil Keputusan Bahstu Manhaji I

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini