Agar Doa Terkabul dan Terima Allah SWT
Rasulullah SAW menjelaskan tentang tata cara Allah dalam mengabulkan do’a para hamba-Nya, bahwa semua tata cara yang dilakukan Allah itu mengandung kebaikan bagi orang yang berdo’a. Namun kadang-kadang kebaikan itu dapat dirasakan seketika atau kelak di kemudian hari, baik disadari atau tidak.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada seorang muslim yang berdo’a dengan do’a yang di dalamnya tidak ada perkara yang mengandung dosa dan memutuskan tali shilaturrahim, kecuali Allah SWT akan memberikan baginya salah satu diantara tiga perkara: ada kalanya Allah SWT akan segera mengabulkan do’anya. Atau Allah SWT akan menjadikan do’anya sebagai simpanan baginya kelak di akhirat. Dan ada kalanya Allah akan menghindarkannya dari perkara buruk. Lalu para sahabat berkata: “Kalau begitu kami akan memperbanyak (berdo’a). Rasulullah SAW pun menjawab : “Allah memiliki lebih banyak (dari apa yang kalian minta)” (H.R. Ahmad, Bazar, Abu Ya’la dengan beberapa sanad yang jayyid, juga Imam Hakim, ia berkata: Sanadnya shahih)
Rasulullah juga memberitahu kepada kita bahwa sesungguhnya do’a itu akan mencegah dari datangnya bencana serta akan meringankan qodar Allah SWT dengan qodar yang lain. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:
“Kehati-hatian itu tidak bisa melepas qodar, sedangkan do’a itu dapat merubah (keburukan-keburukan) yang telah turun ataupun yang belum turun. Sesungguhnya bala’ itu pasti akan turun, lalu akan bertemu dengan do’a sehingga mereka berdua akan berusaha saling melemahkan satu dengan yang lain hingga kelak hari kiamat. (H.R. Bazar, Thobroni dan Hakim, dan ia berkata: Sanadnya shahih)
Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda:
“Tiada suatu perkara pun yang dapat menolak keputusan Allah SWT kecuali do’a. Dan tidak ada perkara yang dapat memanjangkan umur melainkan perbuatan baik.” (H.R. Tirmidzi dan ia berkata: Hadits hasan ghorib)
Metode yang harus digunakan oleh orang yang berdo’a supaya do’anya dikabulkan oleh Allah SWT adalah dengan tidak bosan-bosan untuk senantiasa meminta kepadaNya setiap waktu. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada orang mukmin. Beliau bersabda:
“Siapapun yang ingin do’anya selalu dikabulkan oleh Allah SWT ketika mengalami kesusahan, maka hendaknya ia senantiasa memperbanyak berdo’a kepada-Nya dikala senang. “(H.R. Tirmidzi dan Hakim, masing-masing mengatakan: sanadnya shahih)
Dalam hadits Lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada perkara yang lebih mulia di hadapan Allah melebihi do’a yang dihaturkan hamba-Nya di waktu senangnya,”
Kesimpulan
Bulan Sya’ban merupakan bulan yang penuh keutamaan dan keberkahan, terutama sebagai momentum untuk memperbanyak amal kebaikan, doa, dan shalawat. Doa memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, sebagai pintu rahmat, senjata orang beriman, penenang hati, serta jalan keluar dari berbagai kesulitan. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa berdoa dengan penuh kerendahan hati dan menjanjikan pengabulan atas setiap doa yang dipanjatkan dengan ikhlas.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa doa tidak akan sia-sia. Setiap doa seorang mukmin pasti mengandung kebaikan, baik dikabulkan segera, disimpan sebagai pahala di akhirat, maupun dijadikan sebab terhindarnya dari keburukan. Bahkan, doa memiliki kekuatan untuk menolak bala’ dan meringankan takdir dengan izin Allah SWT. Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak pernah bosan berdoa, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, karena Allah SWT Maha Pemalu dan Maha Pemurah, tidak akan mengembalikan tangan hamba-Nya yang memohon dalam keadaan kosong.
Dengan memperbanyak doa dan shalawat di bulan Sya’ban, seorang mukmin mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan dengan hati yang bersih, iman yang kuat, serta harapan besar akan rahmat dan ampunan Allah SWT.
Sumber: Madza fi Sya’ban?, Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Makki al-Hasani, CET: Jami al-Huquq Mahfudoh, 1424 H


