PELAJARAN DARI PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ

    0
    248

    سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

    “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”

    Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa yang sangat agung, pengetahuan dan pengalaman yang paling berharga dalam peristiwa tersebut adalah berkaitan dengan memahami tanda-tanda kebesaran Allah swt. Baik kebesaran yang ada di alam raya ini yang dapat ditangkap oleh panca indra, maupun dalam alam ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indera manusia.

    Isra’ merupakan diperjalankannya Nabi Muhammad oleh Allah pada malam hari mulai dari Masjidil Haram, Mekkah menuju ke Masjidil Aqsa, Palestina. Jarak keduanya sekitar 1200 km atau kurang lebih 743,4 mil. Jarak yang secara kebiasaan tidak mungkin dapat ditempuh hanya dalam waktu kurang dari semalam. Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan Isra’ menjadi Mu’jizat Nabi Muhammad SAW. Beliau menempuh dengan menaiki seekor hewan yang disebut Buroq.

    Setelah sampai di Masjidil Aqsa, beliau melakukan Mi’raj, yakni perjalanan dari Masjidil Aqsa menuju ke atas sampai ke Sidratul Muntaha. Syaikhina Muhammad Najih Maimoen menuturkan bahwa ada ulama’ yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad hanya naik sampai tepat di bawah Sidratul Muntaha, tidak sampai naik ke Sidratul Muntaha. Ada yang berpendapat beliau naik sampai ke Mustawa, pun ada juga yang mengatakan beliau naik sampai ke ‘Arsy. Menurut keterangan Syaikhina Muhammad Najih Maimoen, Sidratul Muntaha adalah suatu tempat di mana segala sesuatu -termasuk amal- yang berasal dari bawah terhenti di sana. Dan sesuatu yang berasal dari atas oleh Malaikat Jibril diambil dari sana.

    Di sana Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dari Allah SWT yang berupa diwajibkannya sholat lima waktu. Pada mulanya Allah SWT memberi wahyu berupa shalat 50 waktu. Namun saat Nabi Muhammad akan turun, beliau bertemu kembali dengan Nabi Musa AS di langit ke-enam. Nabi Musa bertanya tentang wahyu apa yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW menjawab bahwa Allah SWT mewajibkan shalat 50 waktu. Mendengar hal tersebut, Nabi Musa menyarankan Nabi Muhammad SAW untuk kembali dan meminta keringanan, karena Nabi Musa tau bahwa Umat Nabi Muhammad SAW tidak akan mampu menanggungnya.

    BACA JUGA :  Kunjungan Bapak Prof. Dr. Muh. Nuh, DEA yang ke-4

    Kemudian Nabi Muhammad SAW kembali menuju ke atas dan meminta keringanan. Allah SWT mengabulkan permintaan tersebut dan menguranginya menjadi shalat 45 waktu. Nabi Muhammad SAW menerimanya. Beliau kemudian turun dan bertemu kembali dengan Nabi Musa. Nabi Musa kembali menyarankan Nabi Muhammad untuk meminta keringanan lagi. Dan hal ini terjadi berulang kali hingga menjadi shalat 5 waktu dengan 10 kali lipat pahala. Sebenarnya saat mengetahui hal itu, Nabi Musa masih menyarankan Nabi Muhammad untuk meminta keringanan kembali. Namun Nabi Muhammad tidak kembali lagi karena beliau merasa malu pada Allah SWT telah meminta banyak keringanan.

    Syaikhina Muhammad Najih Maimoen menjelaskan bahwa kejadian ini dapat dijadikan dalil bahwasanya orang baik yang sudah meninggal dapat memberikan kemanfaatan pada orang yang masih hidup. Begitupun sebaliknya, orang buruk yang meninggal juga dapat memberi kesusahan kepada mereka yang masih hidup. Syaikhina Muhammad Najih Maimoen kemudian melanjutkan dengan menuturkan banyak cerita. Salah satunya adalah bahwa banyak para alumni yang bercerita kepada beliau bahwa mereka masih sering bermimpi akan Syaikhina Maimoen Zubair bahwa beliau masih sering ikut berjamaah menjadi ma’mum, sebagian bermimpi bahwa beliau masih terus mengaji sampai sekarang.

    Bukan hanya itu saja, kejadian antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad ini juga menunjukkan bagaimana perhatian Nabi Musa terhadap umata Nabi Muhammad SAW yang secara tidak langsung menjadi bukti akan kemuliaan Nabi Muhammad SAW.

    Disarikan dari pengajian Ahadan oleh Syaikhina Muhammad Najih Maimoen Zubair Surah Al-Isra’ : 1 pada hari Ahad, 15 Mei 2022

    Artikulli paraprakKEDATANGAN SANTRI PP. ALANWAR
    Artikulli tjetërZIAROH KUBUR BUKAN BID’AH

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini