Karangmangu, Sarang — Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN), Pondok Pesantren Al-Anwar 1 Sarang mengadakan acara sholawat dan mau’idzoh pada malam Jumat, 12 Jumadil Ula 1448 H atau 22 Oktober 2026 M. Acara dimulai sekitar pukul 20.00 WIS (Waktu Istiwa) atau pukul 19.30 WIB, bertempat di halaman sebelah timur Musholla Pondok Pesantren Al-Anwar 1.

     Acara ini dihadiri langsung oleh Syaikhina KH. Muhammad Najih Maimoen, dewan asatidz, dewan pengurus, serta seluruh santri yang antusias mengikuti kegiatan dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Santri Nasional.

    Kegiatan ini merupakan bentuk doa untuk bangsa Indonesia, khususnya pondok-pondok pesantren salaf, sekaligus sebagai wujud penghormatan dan penghargaan terhadap kontribusi ulama dan santri dalam sejarah perjuangan kemerdekaan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi pengingat akan peran mereka dalam mengisi dan menjaga kemerdekaan dengan ilmu, akhlak, dan semangat pengabdian.

    Sebagai penerus sejarah dan pemegang estafet masa depan bangsa, santri diharapkan mampu mengawal perjalanan bangsa dengan bekal ilmu serta membawa bangsa menuju peradaban yang adil, beradab, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ sepanjang kehidupan dan kepemimpinan beliau.

RANGKAIAN ACARA

       Sebelum acara inti dimulai, Hadroh Ma’had Al-Anwar (HMA) terlebih dahulu mengisi kegiatan dengan lantunan sholawat Nabi. Acara kemudian dibuka dengan wasilah Fatihah, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Saudara Ilyas. Selanjutnya, Grup HMA melantunkan Mahalul Qiyam. Acara kemudian memasuki puncaknya, yaitu mau’idzoh hasanah dan doa yang disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar 1, Syaikhina KH. Muhammad Najih Maimoen.

Mau’idzoh Hasanah dan Doa

   Dalam kesempatan ini, Syaikhina KH. Muhammad Najih Maimoen kembali menyampaikan bahwa hakikat Hari Santri sebenarnya jatuh pada tanggal 10 November, karena pada tanggal tersebut para santri turut berjuang dan berperan besar dalam memerangi penjajah.

BACA JUGA :  HAFLAH TASYAKUR AKHIR SANAH DIROSAH & IKHTITAM MUDZAKAROH FATHUL QORIB DAN FATHUL MU’IN PP. AL-ANWAR 1 SARANG

    Adapun tanggal 22 Oktober, menurut beliau, sejatinya merupakan Hari Ulama dan Kiai, yakni Hari Resolusi Jihad, yang menjadi tonggak lahirnya semangat perjuangan kaum santri. Hal tersebut juga menjadi alasan beliau mengenakan imamah sebagai bentuk penghormatan kepada para ulama.

    Syaikhina KH. Muhammad Najih Maimoen mengungkapkan rasa syukur atas terjadinya gerakan Resolusi Jihad pada masa itu. “Kalau tidak ada fatwa itu, negara ini mungkin sudah dikuasai oleh Belanda,” ujar beliau.

   Di akhir mau’idzoh, beliau mengajak para santri untuk berdoa dan membaca Surah Yasin agar seluruh saudara muslim senantiasa mendapat perlindungan Allah SWT. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengutip firman Allah SWT. dalam Surah Al-Buruj ayat 10:

اِنَّ الَّذِيْنَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوْبُوْا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيْقِۗ

     Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat perjuangan ulama dan santri senantiasa tertanam dalam diri setiap santri, sehingga mampu meneruskan perjuangan para pendahulu dalam menjaga agama, bangsa, dan negara.

Artikulli paraprakSejarah Bangsa yang Terlupakan: Ke Mana Peran Pesantren dalam Narasi Pendidikan Nasional?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini