Islam memiliki prinsip tegas dalam menjaga identitas keimanan
Islam memiliki prinsip tegas dalam menjaga identitas keimanan. Seorang Muslim dilarang menyerupai atau ikut serta dalam perayaan yang menjadi ciri khas agama atau budaya non-Muslim (tasyabbuh).
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari raya yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Abu Dawud)
Ayat Al-Qur’an juga menegaskan larangan menyerupai orang kafir, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah ayat 104.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan, “Rā‘inā.” Akan tetapi, katakanlah, “Unẓurnā”) dan dengarkanlah. Orang-orang kafir akan mendapat azab yang pedih.
Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra menegaskan bahwa termasuk bid’ah terburuk adalah kaum Muslimin yang meniru orang Nasrani dalam hari raya mereka, baik dalam bentuk perayaan, makanan, maupun saling memberi hadiah. Bahkan, Ibnu al-Hajj menyatakan haram membantu kebutuhan perayaan hari raya mereka karena termasuk bentuk dukungan terhadap kekufuran.
Berdasarkan dalil dan pandangan para ulama tersebut, dapat disimpulkan bahwa merayakan Tahun Baru Masehi termasuk dalam kategori tasyabbuh yang terlarang.
Selain itu, perayaan Tahun Baru Masehi juga sering diiringi berbagai kemungkaran seperti tabdzir (pemborosan), ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan tanpa batas), serta ghaflah (kelalaian dari mengingat Allah).
Alternatif Amalan pada Malam Tahun Baru
Daripada terjebak dalam perayaan yang sia-sia, seorang Muslim dianjurkan mengisi malam tersebut dengan amal kebaikan, antara lain:
- Muhasabah, mengevaluasi diri atas amal selama setahun.
- Menghidupkan malam dengan ibadah, seperti salat malam dan zikir.
- Memperbanyak doa dan sedekah.
Allah SWT berfirman:
وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Dan apabila mereka melewati perbuatan yang sia-sia, mereka melewatinya dengan menjaga kehormatan diri.” (QS. Al-Furqan: 72)
Kesimpulan
Sebagai umat Islam, menjaga identitas dan prinsip keimanan adalah kewajiban. Perayaan Tahun Baru Masehi bukan bagian dari ajaran Islam dan tidak memiliki urgensi bagi keimanan seorang Muslim. Oleh karena itu, sudah selayaknya umat Islam tidak ikut-ikutan merayakannya, melainkan menjadikan momen tersebut sebagai sarana introspeksi dan peningkatan kualitas ibadah.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk tetap istiqamah di atas jalan yang diridhai-Nya. Wallahu a’lam.
Sumber Refrensi
Al-Qur’an al-Karim
Ahmad bin Muhammad bin Ali al-Anshori, kifsysh tsnbih fi Syarah al-Tanbih, Dar al-Kitab al-Ilmiyah/jus 4/hal 426/bab sholat ‘idain
Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Haitami al-S’adi al-Anshori, bab al-Shiyal, al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubro/Jus 4/ Hal 239
Imam An-Nasai, no. 1556; Ahmad, no. 11910.
Ceramah KH. Maimoen Zubair di Hadapan Syaikh Dr. Mahmud dan Syaikh Umar Rajab Dieb, di Pondok Pesantren al-Anwar 3,(02 Oktober 2020)
https://id.wikipedia.org/wiki/Masehi (diakses pada tanggal 22 desemeber 2025 M)


