Begitu pula sebaliknya, jika kita merasa Aman dari bahaya dan meninggalkan tawakkal kepada Allah maka kita tidak akan mendapatkan kemenangan dan keberhasilan seperti yang di jelaskan dalam Al-Qur’an bahwa kemenangan kita adalah murni dari Allah dan tidak sebab banyaknya pasukan serta senjata, Allah berfirman:

﴿لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ (25)﴾ (التوبة : 25)

“Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu (orang-orang mukmin) di medan peperangan yang banyak dan pada hari (perang) Hunain ketika banyaknya jumlah kalian menakjubkan kalian (sehingga membuat kalian lengah). Maka, jumlah kalian yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun dan bumi yang luas itu terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian lari ke belakang (bercerai-berai).”

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa kemenangan yang dicapai para muslimin adalah murni dari Allah, seperti perang Badar, perang bani Quraidzah dan bani Nadhir, padahal saat itu mereka berjumlah sedikit. Tapi pada waktu perang Hunain yang mana pasukan muslimin berjumlah 12.000 pasukan dan pasukan kuffar hanya berjumlah 4.000 mereka meninggalkan tawakkal kepada Allah dan mengandalkan jumlah pasukan. Mereka mengatakan “kita tidak akan dikalahkan oleh pasukan yang sedikit”, lalu Allah memberikan pelajaran bahwa banyaknya pasukan tidak akan berbuah kemenangan jika meninggalkan tawakkal kepada Allah dan kebanyakan dari mereka lari ketakutan.

Pentingnya Ikhtiar Sebelum Tawakkal

Setelah kita tahu tentang begitu besarnya faedah yang kita dapat saat menanamkan rasa tawakkal di dalam hati, terkadang hal itu membuat kita lupa akan pentingnya ikhtiyar atau usaha yang semestinya terlebih dahulu kita jalani.

Dikisahkan suatu saat ada seorang pekerja yang ingin berhenti bekerja dan hanya ingin beribadah serta bertawakkal setelah dia sadar pentingnya tawakkal dikarenakan pada suatu waktu dia melihat seekor hewan yang lumpuh yang mana setiap hari Allah berikan ia rizki melalui hewan lain yang lebih kuat darinya dengan membawakan makanan kepadanya, ia pun ingin menjadi seperti burung yang lumpuh tersebut yang memiliki rasa tawakkal yang kuat, lantas ia pun ditegur oleh saudara se-imannya seraya berkata, “Mengapa engkau lebih memilih menjadi yang lemah yang menunggu pemberian dari yang lain dan bukannya ingin menjadi yang kuat yang bisa membantu dan menolong orang lain?” sontak dia pun tersadar kembali akan pentingnya nilai usaha dan ikhtiyar yang baru saja ia lupakan.

BACA JUGA :  Sumpah Pemuda, Indonesia, dan Islam

Dan perlu kita tahu, bahwa tawakkal dan ikhtiyar bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Imam Hamdun menjelaskan bahwa tawakkal adalah “berpegang teguh kepada Allah dalam segala urusan” dan tempat tawakkal adalah hati, maka dari itu tawakkal tidak bertentangan dengan ikhtiyar karena ikhtiyar adalah usaha kita secara dhohir.

Rasulullah juga telah mengajarkan kepada kita bahwa tawakkal bukan berarti meninggalkan ikhtiyar, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Imam Tirmidzi dalam Sunannya:

حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ أَبِي قُرَّةَ السَّدُوسِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ، أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ: اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ.  (رواه الترمذي)

“Bahwa sayyidina Anas bin Malik berkata, “seorang laki-laki berkata kepada Nabi Muhammad, “Ya Rasulallah apakah aku ikat untaku dan pasrah kepada Allah atau aku lepas untaku lalu pasrah kepada Allah?”, Rasulullah lalu menjawab “ikatlah untamu dan bertawakkallah”.

Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam kitabnya Al-Qudwah Al-Hasanah Fi Manhaj Ad-Da’wah Ila Allah beliau menjelaskan bahwa seorang yang giat bekerja setiap harinya bukan berarti menunjukkan bahwa orang tadi tamak, cinta dunia dan tidak bertawakkal kepada Allah karena hal itu tidak saling berkaitan, bahkan kita sering melihat orang yang seperti itu memiliki kelebihan suka berbagi kepada sesama (al-yadu al-‘ulya)

*Sumber: Buletin Tazkiyah Edisi 5 Ma’had Aly Iqna’ Ath-Thalibin

 

1
2
Artikulli paraprakKunjungan dan Dauroh Ilmiyyah Habib Ahmad bin Hasan Al-Muhdlor dan Habib Abdurrohman bin Hamid Al-Muhdlor
Artikulli tjetërQOUL DHOIF

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini