Dosa Jariyah Lewat Algoritma Media Sosial
Inilah ancaman terbesar yang paling menakutkan bagi para pengguna media sosial, yaitu Dosa Jariyah. Berbeda dengan zaman dulu di mana gosip hanya menyebar dari mulut ke mulut dengan jangkauan terbatas, era digital menyediakan panggung tak terbatas. Sekali kita mengunggah konten negatif, hoaks, atau memulai tren maksiat, konten tersebut akan direplikasi secara eksponensial oleh algoritma media sosial.
Nabi SAW memberikan peringatan keras melalui sabdanya:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ
Artinya: Barangsiapa yang mencontohkan suatu tradisi/perbuatan yang buruk (sayyi’ah) dalam Islam, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya.(Hadis Riwayat Muslim no 1017)
Kesimpulan
Kesimpulan yang kita dapat dari kajian fikih netizen ini adalah bahwa media sosial bukanlah ruang hampa hukum yang bebas dari pengawasan malaikat pencatat amal. Setiap karakter huruf yang kita ketik, setiap tombol share yang kita tekan, dan setiap konten sindiran yang kita publikasikan memiliki bobot konsekuensi yang sangat nyata di akhirat kelak. Jempol kita adalah lisan kita di dunia digital. Jika kita tidak mampu mengontrol jempol ini untuk menyebarkan kemaslahatan, memproduksi konten edukatif, atau setidaknya melakukan tabayyun sebelum berbagi, maka diam dan menutup aplikasi adalah jalan keselamatan terbaik demi menghindarkan diri dari jeratan dosa jariyah yang terus mengalir deras.
Wallahua’lam..


