Kajian Tafsir Surat Al-Ahqof Ayat 17-19

Artikel ini diambil dari pengajian Tafsir K.H. Maimoen Zubair di hari Ahad.

Dan orang yang Berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa Aku akan dibangkitkan, padahal sungguh Telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. lalu dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”. Mereka Itulah orang-orang yang Telah pasti ketetapan (azab) atas mereka bersama umat-umat yang Telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang Telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.(Q.S. Al-Ahqof : 17-19).
Ayat ini ada kaitannya dengan ayat sebelumnya yang membahas tentang berbuat kebajikan kepada ke dua orang tua. Karena hal itu merupakan kuwajiban bagi seoarang anak. Meskipun orang tuanya tadi adalah orang yang jelek dan tidak menyembah kepada Allah. Hal ini sesuai dengan ahlaq Nabi Ibrohim yang hidup di lingkungan orang yang menyembah berhala. Karena bapaknya (Azar) adalah juru kunci dari berhala-berhala kerajaan. Tapi dengan ilmu dan iman, Nabi Ibrohim tetap menghormati tanpa menyakiti walaupun cuma sedikit.
Nabi Ibrohim adalah Nabi pilihan Allah. Di dalam dirinya ada cahaya Nabi Muhammad SAW yang terpancar, yang selalu membawa berkah terhadap orang yang disinggahinya. Beliau terkenal dengan sebutan bapak orang mukmin. Alasannya yaitu, karena anak-anak Nabi Ibrohim itu menjadi pilihan Allah untuk mengemban wahyunya, meskipun ada yang tidak secara langsung, yaitu Madyan. Tapi, ada keturunan darinya yang menjadi Nabi, yakni Nabi Syuaib.Allah berfirman:

 

?¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?§?µ?’?·???????‰ ?¢???¯???…?? ?ˆ???†???ˆ?­?‹?§ ?ˆ???¢???„?? ?¥???¨?’?±???§?‡?????…?? ?ˆ???¢???„?? ?¹???…?’?±???§?†?? ?¹???„???‰ ?§?„?’?¹???§?„???…?????†??

 

Sesungguhnya Allah Telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing) (Q.S. Ali-Imron:33)
 
Keluarga Nabi Ibrohim selalu mendapat pandangan kusus di sisi Allah, karena semuanya menjadi orang yang dekat dengan Allah. Mereka terpencar-pencar dan terpisah ke berbagai tempat. Nabi Ismail ditugaskan di Masjidil Haram. Nabi Ishaq ditugaskan di masjidil Aqsho. Dan Madyan ditugaskan di suatu tempat, yang mana di dalamnya ada pengrajin tongkat, hingga kelak tongkat tersebut diwarisi oleh Nabi Musa dari Nabi Syuaib.
Semua keagungan yang diperoleh oleh Nabi Ibrohim, mulai dari tidak hangus dibakar dengan api sampai anak-anak yang menjadi keturunannya menjadi pilihan Allah, itu semua disebabkan karena keberkahan cahaya yang dibawa oleh Rosulullah SAW. Namun kita sebagai umatnya tidak akan menunai keberkahan tersebut sebagaimana yang diperoleh pada zaman sahabat kecuali dengan cara alim memahami ayat-ayat suci Al-Quran. Dan alim tersebut tidak akan didapat kecuali harus mengaji dengan orang-orang yang alim juga.
Seberapa cahaya itu bisa masuk ke jiwa raga seseorang, itu digantungkan pada seberapa paham orang tadi terhadap Al-Quran, karena Al-Quran menjadi syarat pokok untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Memahami Al-Quran tidak harus semuanya. Tapi cukup bagi orang mukmin untuk hafal satu surat yang diiringi dengan pemahaman yang mendalam. Hal itu bagaikan hafal satu Al-Quran. Sebab ayat Al-Quran itu sering diulang-ulang pembahasannya yang berjumlah tujuh macam.
Jika ada seorang anak yang tidak memperdulikan nasehat orang tua tentang dibangkitkannya manusia dari alam kubur. Maka anak tadi menjadi kufur, sebab dia telah melakukan dosa besar yang merupakan pangkal kekufuran.
Orang-orang kafir apabila melakukan perbuatan dosa, dia menganggap bahwa dosa-dosa yang telah ia lakukan tadi merupakan kebaikan. Sebab Allah telah menghiasi diri mereka dengan mencintai dunia dan menuruti hawa nafsu. Berbeda dengan orang yang mukmin, yang menganggap bahwa kebaikan itu adalah kebaikan dan keburukan adalah keburukan. Allah berfirman:

?²?????‘???†?? ?„???„?‘???°?????†?? ?ƒ???????±???ˆ?§ ?§?„?’?­???????§?©?? ?§?„?¯?‘???†?’?????§ ?ˆ???????³?’?®???±???ˆ?†?? ?…???†?? ?§?„?‘???°?????†?? ?¢???…???†???ˆ?§ ?ˆ???§?„?‘???°?????†?? ?§???‘???‚???ˆ?’?§ ?????ˆ?’?‚???‡???…?’

?????ˆ?’?…?? ?§?„?’?‚???????§?…???©?? ?ˆ???§?„?„?‘???‡?? ?????±?’?²???‚?? ?…???†?’ ?????´???§???? ?¨?????????’?±?? ?­???³???§?¨??

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.(Q.S. Al-Baqoroh:212).
 
Apabila kita sudah tidak bisa menahan untuk melakukan dosa, hendaknya kita berniat tidak tahan menahannya. Dan ikutilah perbuatan buruk dengan menjalankan perkara bagus agar perkara tadi menjadi seimbang.
Pokok iman seseorang adalah iman pada hari akhir. Karena di situ ada jalan bagi orang mukmin untuk masuk surga, yang di dalamnya ada nikmat yang banyak bila dibanding dengan kenikmatan yang ada di dunia, yang ada cuma satu nikmat.
Di surga, seorang mukmin akan menjadi seorang Presiden atau Raja. Karena kedudukan di sana merupakan kenikmatan. Hal ini sesuai dengan pandangan orang-orang yang hidup di dunia, bahwa kedudukan atau pangkat merupakan suatu perkara yang enak. Tapi seoarang Presiden yang menguasai negeri akhirat itu pangkatnya berbeda-beda. Jika di dunia pangkat seorang Presiden harus ditempuh dengan Ijazah, maka, pangkat Presiden di negeri akhirat itu ijazahnya diatur syariat Islam, yaitu seberapa tinggi derajatmu di sisi Allah.
Tentunya mencari derajat yang tinggi di sisi Allah itu tidak semudah membalik telapak tangan. Tapi, butuh perjuangan yang berat. Diantaranya adalah alim, sebab orang yang mengetahui hak-hak Allah adalah orang alim. Sehinnga dia dapat menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan-Nya untuk mencari ridho-Nya.
Selain keahlian orang alim itu mengetahui hak-hak Allah, dia juga adalah sosok yang selalu menebarkan kasih sayang terhadap sesama manusia. Tapi, bagi yang tidak alim, janganlah bersedih hati, cukup bagi kalian untuk mencintai dan mendekati orang alim. Insyaallah kita akan dapat memperoleh barokahnya. Sehinnga kelak Allah mengizinkan kita akan masuk surga bersama-sama orang alim yang kita cinta dan kita dekati.
Ulama yang alim itu pangkatnya berbeda dengan Nabi. Mengapa?. Karena kalau ada seorang Nabi sudah meninggal, dan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka kedudukannya tidak akan diwarisi oleh anak perempuannya.. Tapi, kalau ada seoarang ulama yang meninggal, dan dia cuma punya anak perempuan, maka tugas keulamaannya masih bisa dilangsungkan olehnya, yakni dengan mengambil menantu yang alim. Janganlah tergiur dengan harta di saat memilih menantu. Cukup pilih yang menantu yang alim, karena orang alim itu adalah ulama yang menjadi pewaris para Nabi.
Pada ayat yang terakhir dalam pembahasan ini, K.H. Maimoen menjelaskan bahwa derajat orang mukmin kelak di surga itu ada tujuh, dan derajat orang kafir juga ada tujuh. Bagi mereka yang mendapat derajat yang tinggi di surga dialah orang-orang yang tidak mengingat apapun selain Allah. Maka orang-orang yang seperti ini riqkinya di tanggung oleh Allah. Seberapa tinggi derajat orang di surga itu tergantung seberapa banyak dia mengingat Allah.
Orang kalau sudah berada dalam derajat kebaikan, maka dia akan selalu dikerumuni dan dijaga Malaikat. Kalau dia sudah dijaga Malaikat, setannya akan pergi. Dan kalau orang itu ingin derajat kebaikannya itu terus naik, hendaknya dia mempunyai amal sisik melik, yaitu amal yang membuat Allah ridho kepadanya.
Apabila ada seseorang yang mendapat murka Allah di saat dia menjalankan pekerjan, maka dia akan mati kafir. Dan apabila ketika menjalankan perbuatan itu di saat mendapat ridho Allah, maka dia akan mati mukmin. Contoh kecilnya. Dulu pada zaman Nabi Musa ada tukang sihir fir’aun, di saat disuruh untuk mengadu sihirnya dengan Nabi Musa, mereka memopunyai sopan santun, yaitu ketika mereka hendak mengadu sihir, mereka memperkenankan kepada Nabi Musa untuk dahulu memulai, atau mereka yang mulai. Di saat amal kebaikan ini, Allah meridhoinya, sehingga pada akhirnya mereka beriman kepada Nabi Musa.
Selain contoh tadi, ada juga cerita, bahwa dulu Abu Tholib itu adalah orang yang bukan mukmin. Tapi dia tidak pernah menantang Rosulullah SAW. Sehingga karena kebaikannya ini. Di kisahkan ketika dia wafat, bahwa neraka yang paling baik adalah neraknya Abu Tholib, yaitu ketika dia menginjak neraka otaknya mendidih. Maka seberapa berat siksaan orang di neraka itu tergantung pada seberapa banyak ia menantang Allah SWT.
 
 
 
Amirul Ulum
 

 

 

 

 
Sarang , 27 juni 2010M

 

BACA JUGA :  Perbedaan Status Khalik dan Makhluk

 

 

Artikulli paraprakKejernihan Salafus Sholeh di Mata Santri Era Globalisasi
Artikulli tjetërK.H. Zubair Dahlan ( Ayah )

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini