BIOGRAFI  SINGKAT AL-MAGFURLAH KH. ZUBAIR DAHLAN

KELAHIRAN KH. ZUBAIR DAHLAN.

Mbah Zubair, bernama asli Anwar, dilahirkan di Desa Karangmangu Kecamatan Sarang pada tahun 1323 H. bertepatan dengan tahun 1905 M.

Mbah Zubair adalah putra kedua dari pasangan Kyai Dahlan bin Warijo dan Nyai Hasanah binti Kyai Syu’aib Abdur Rozaq. Beliau tumbuh dan berkembang diasuh oleh ayahandanya sendiri Kyai Dahlan. Mbah Zubair kecil belajar membaca Al-Qur’an dan berbagai ilmu-ilmu dasar agama Islam kepada kakeknya, Kyai Syu’aib Abdur Rozaq. Kecerdasan beliau telah tampak sejak usia dini.

Kepada ayahandanya, beliau mendalami berbagai disiplin ilmu, khususnya ilmu Sastra dan Gramatika Arab, termasuk kitab Alfiyah Ibnu Malik.

Beliau juga mengkaji kitab Taqrib sampai khatam kepada pamannya, Kyai Ahmad bin Syu’aib serta mengkaji kitab Fathul Wahhab kepada Kyai Fathurrohman bin Kyai Ghozali (saudara nenek beliau).

Demikianlah kesungguhan Mbah Zubair dalam menimba ilmu kepada para masyayikh Sarang.

PERJALANAN MENCARI ILMU DI LUAR SARANG

Setelah menginjak umur 17 tahun, Mbah Zubair pergi menuju Makkah Al-Mukarromah bersama kakek dan neneknya, Kyai Syu’aib dan Nyai Sa’idah binti Kyai Ghozali. Disana Beliau bermukim selama 3 tahun bersama pamannya, Kyai Imam Kholil.

Di Makkah, beliau mengkaji kitab-kitab Hadis kepada Syekh Maya’ba As-Syinqithi, dan beliau mulazamah ngaji kepada Syekh Baqir Al-Jukjawi, mengkaji Tafsir Jalalain dan Syarah Mahalli dari awal hingga khatam, serta berbagai kitab lainnya.

Beliau turut menimba ilmu kepada Syekh Sa’id Al-Yamani. Bahkan, beliau menjadi murid terakhir sang guru sebelum wafat. Setelah itu, Mbah Zubair melanjutkan belajar kepada putra beliau, Syekh Hasan Al-Yamani, dengan banyak mengkaji ilmu gramatika Arab di samping berbagai disiplin ilmu lainnya.

BACA JUGA :  MAJAZ ‘AQLI DAN PENGGUNAANNYA

Syekh Hasan Al-Yamani memberi gelar Mbah Zubair dengan sebutan: (زُبَيْرُ الكُوْفِي) karena Mbah Zubair mengi’rob kalimat  مَرَرْتُ بِزَيْدٍ yang diujikan Syekh Hasan Al-Yamani dengan kaidah i’rob versi Ulama’ Kufah dan mendapat nasihat serta peringatan penuh hikmah dari Sang Guru, Sebab Syekh Hasan Al-Yamani khawatir beliau terpengaruh oleh karakter sebagian penduduk Kufah pada masa lalu yang dikenal tidak menepati janji kepada Sayyidina Husain bin Ali, yang berujung pada tragedi Karbala.

Seluruh pengetahuan ilmu agama yang didapat Mbah Zubair di tanah Haram banyak bertumpu pada dua sosok alim tersebut, yaitu Syekh Baqir Al-Jukjawi dan Syekh Hasan Al-Yamani. Setelah kembali ke tanah air Mbah Zubair melanjutkan belajarnya kepada Al-‘Allamah Syekh Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang di kecamatan Dukun, kabupaten Gresik murid dari Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi.

Pada tahun 1371 H, dalam usia 48 tahun, Mbah Zubair kembali berangkat ke Tanah Haram untuk kedua kalinya bersama beberapa jamaah guna menunaikan ibadah haji.

Pada kesempatan tersebut, Mbah Zubair bertemu dengan Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki yang saat itu mengajar di Masjidil Haram. Pertemuan singkat tersebut meninggalkan kesan yang mendalam bagi beliau.

Selain itu, beliau juga berjumpa dengan ulama berdarah Minangkabau asal Kota Padang, Sumatra Barat, yaitu Syekh Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani. Dari beliau, Mbah Zubair memperoleh ijazah sanad atas berbagai kitab yang telah dipelajarinya.

1
2
Artikulli paraprakDOA BERBUKA PUASA: DIBACA SEBELUMNYA ATAU SETELAHNYA?
Artikulli tjetërSUASANA KHIDMAT HAUL KE-57 KH. ZUBAIR DAHLAN & KIRIM DO’A KEPADA PARA MASYAYIKH DI KOMPLEK PEMAKAMAN SIMPEK SARANG

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini