PERAWAKAN DAN AKHLAK KH. ZUBAIR DAHLAN
Mbah Zubair memiliki fisik yang sempurna, penampilannya berwibawa, tubuhnya kurus, posturnya tidak terlalu tinggi, kulitnya sawo matang, jenggotnya tipis, rambutnya hitam, mulut dan dadanya lebar, dan sorot mata tajam yang memancarkan kecerdasan.
Beliau dikenal sebagai pribadi yang tenang dan penuh wibawa, memiliki ghirah yang besar terhadap agama, bersahaja, serta mencintai kaum lemah dan fakir miskin.
Beliau juga dikenal dermawan, penuh kasih sayang, pemaaf, dan murah senyum.
Dalam kehidupan sosial, beliau sangat menjaga hubungan baik dengan keluarga dan kerabat, menghormati hak-hak para sahabatnya, serta mencintai dan memuliakan para ahli ilmu.
Konon, beliau juga mampu bercakap dalam bahasa asing, bahkan pernah berbicara dengan orang Belanda menggunakan bahasa mereka.
Mbah Zubair sangat kuat memegang teguh terhadap sunnah Rasul dan amalan ulama salaf.
Beliau sangat menjauhi hal-hal bid’ah dan sangat kuat menjunjung tinggi kebenaran. Dalam membela kebenaran, beliau tidak gentar meskipun mendapat cacian dan cercaan.
Mbah Zubair dikenal sebagai kiai yang produktif. Di antara karya-karyanya adalah kitab tentang manasik haji, Nadhom Risalah Samarqandiyyah beserta syarahnya Qolaid Lu’lu’iyyah yang membahas makna isti’arah, Nadhom Rumus Fiqh Syafi’iyyah, serta ‘Alaqaat al-Majaz al-Mursal al-‘Asyarah.
Beliau juga mahir menggubah syair Arab bertema etika dan akhlak.
Bersama KH. Ridlwan dari Bangilan Tuban (menantu KH. Ahmad Bin Syu’aib), dan KH. Abdussalam Bin KH. Fathurrahman Ghozali Sarang, Mbah Zubair merintis berdirinya Madrasah Nahdlatul Wathon yang kelak menjadi cikal bakal Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah (MGS).
Beliau juga berperan penting dalam lahirnya Madrasah Putri Ghozaliyyah (MPG).
PERNIKAHAN DAN KELUARGA KH. ZUBAIR DAHLAN
Mbah Zubair menikah diusia 24 tahun dengan putri pamannya dari garis ibu yg bernama Mahmudah binti Kyai Ahmad bin Syu’aib.
Dari pernikahan tersebut, Mbah Zubair dikaruniai lima orang putra dan putri, namun hanya satu yang tumbuh besar yaitu KH. Maimoen Zubair.
Selang beberapa tahun kemudian Nyai Mahmudah berpulang ke rahmatullah, tepatnya pada bulan Jumadal Akhirah tahun 1358 H.
Kemudian Mbah Zubair menikah lagi dengan Nyai Aisyah binti Kyai Abdul Hadi Baureno Bojonegoro. Dari pernikahan kedua ini, Mbah Zubair dianugerahi lima orang putri dan seorang putra.
Mereka Adalah :
- Nyai Halimah (Istri KH. Abdurrohim Ahmad, Pengasuh Pondok MUS)
- Nyai Sa’idah (Istri KH. Zaini Manshur Mojokerto, Pengasuh Pondok MIM)
- Nyai Afifah (Istri KH. Abdul Wahid Abul Khoir Pengasuh Pondok Al-Kautsar Kebonharjo Jatirogo Tuban)
- Kyai Ma’ruf Zubair (Suami Nyai Anis Hanifah binti KH. Muhammad Zayadi Kanigaran Probolinggo)
- Nyai Sholihah (Istri KH. Sadid Jauhari Pengasuh Pondok As-Sunniyyah Kencong Jember)
- Nyai Salamah (Istri KH. Aniq Muhammadun Pengasuh Pondok Manba’ul Ulum Pakis Tayu Pati)
Meskipun berada dalam kondisi ekonomi yang sulit, dengan penuh cinta, ketulusan, dan keikhlasan hati, Mbah Zubair berhasil mendidik seluruh putra-putrinya hingga menjadi ahlul ilmi yang bermanfaat bagi umat.
Bahkan dalam keterbatasan tersebut, beliau tetap berupaya membiayai keponakan-keponakannya dari jalur ibu agar dapat menimba ilmu di beberapa pesantren di luar Sarang.
WAFATNYA KH. ZUBAIR DAHLAN
Memasuki bulan Sya’ban pada tahun 1389 H, bertepatan tahun 1969 M. Mbah Zubair membacakan Kitab Ihya’ juz IV (Rub’ul Munjiyat) atas permintaan salah satu muridnya yang sudah menjadi pengasuh pesantren. Kitab tersebut berhasil beliau khatamkan sebelum berakhirnya bulan Sya’ban.
Kemudian setelah memasuki bulan Ramadhan, Mbah Zubair membaca Kitab Tafsir Jalalain yang sudah menjadi kajian rutinnya di setiap bulan Ramadhan disertai beberapa kitab lainnya. Namun, pada tanggal 10 Ramadhan beliau mengalami demam tinggi. Meski kondisi kesehatannya semakin memburuk, beliau tetap melanjutkan kegiatan mengaji hingga akhir hayatnya.
Sang ulama kharismatik itu menghembuskan napas terakhirnya pada malam Selasa setelah Maghrib tanggal 15 bulan Ramadhan tahun 1389 H, bertepatan tahun 1969 M, dalam usia 65 tahun.
Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi umat Islam, khususnya para santri dan masyarakat yang mengenalnya.
Mbah Zubair menjalani hidup dalam kesederhanaan dan berpulang kepada Allah dalam keadaan yang sama, faqir secara dunia, namun kaya akan ilmu dan amal.
Menjelang wafatnya, Mbah Zubair berpesan kepada putranya, KH. Maimoen Zubair :
“Moen, aku kepingin dadi kyai sing bejo, kepenak dunyane, kepenak akhirate. Wong sing kepenak dunyane kepenak akhirate iku wong sing rizkine cukup, ora kudu akeh, anak-anaké padha taat lan nurut kabeh, lan nek mati ora tuwo nemen-nemen, nanging umure koyo kaprahe umate Kanjeng Nabi. Aku emoh nglakoni ibadah abot-abot, aku emoh kakehan poso, sing penting nek mati iso mlebu swargo, senajan swargo sing endhek iku wis kepenak.”
(“Moen, aku ingin menjadi kiai yang beruntung, baik hidup di dunia maupun di akhirat. Orang yang baik dunia dan akhiratnya ialah yang rezekinya cukup, tidak harus banyak, anak-anaknya taat dan patuh, serta wafat pada usia yang wajar sebagaimana kebanyakan umat Nabi. Aku tidak ingin menjalani ibadah yang terlalu berat, tidak ingin terlalu banyak berpuasa. Yang penting ketika wafat dapat masuk surga, sekalipun surga yang paling bawah, itu sudah cukup.”)
Semoga Allah selalu menaungi beliau dengan rahmat dan maghfirah-Nya, serta ditempatkan di surga Firdaus-Nya, amin.
Sumber: disarikan dari kitab Tarojim karya al-Magfurlah KH. Maimoen Zubair


