Pernahkah kalian melihat postingan jamaah haji di media sosial dengan latar belakang Kakbah? Atau mungkin fenomena haji plus dan premium dengan fasilitas hotel mewah berbintang lima yang menghadap langsung ke Masjidil Haram?. Di era modern sekarang, ibadah haji terkadang bergeser maknanya menyerupai wisata religi. Banyak orang menganggap kenyamanan fisik dan dokumentasi adalah segalanya, tanpa ingin mencari tahu kebenaran hakikat batin dari ibadah tersebut. Tentu saja, problem ini tidak boleh kita anggap remeh dan perlu dikaji lebih lanjut.

    Dalam kajian redaksi kitab Asrar al-Hajj yang merupakan bagian dari kitab monumental Ihya ‘Ulumuddin karya Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazali, kali ini, kita akan membahas bagaimana beliau membedah rahasia-rahasia ibadah haji dengan landasan dalil Al-Qur’an dan Hadis nabi.

    Sebelumnya, Imam al-Ghazali menerangkan bahwa haji adalah ibadah seumur hidup (‘ibadah al-‘umr), akhir dari segala urusan, dan kesempurnaan agama Islam. Di momentum inilah Allah menurunkan ayat penutup risalah:

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾

Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

    Beliau juga mengutip hadis nabi tentang ancaman keras bagi orang yang mampu namun enggan berangkat haji hingga ajal menjemputnya:

(مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ فَلْيَمُتْ إِنْ شَاءَ يَهُودِيًّا وَإِنْ شَاءَ نَصْرَانِيًّا)

Artinya: “Siapa yang mati dalam keadaan belum berhaji padahal ia mampu, maka matilah ia jika menghendaki dalam keadaan Yahudi atau Nasrani.” (Hadis Riwayat At-Tirmidzi)

    Dari ibarot di atas, betapa besarnya kedudukan haji sehingga orang yang sengaja meninggalkannya disamakan dengan kesesatan kaum Yahudi dan Nasrani dalam hal penyimpangan agama. Oleh karenanya, sudah seharusnya kita mencurahkan perhatian untuk memahami keutamaan, rukun, serta rahasia batin di dalamnya.

BACA JUGA :  Sambutan Sayyid Muhammad Di Dubai Dalam Rangka Maulid Nabi Shollallohu 'alaihi Wasallam
1
2
3
Artikulli paraprakResensi Kitab “Al-Mathalib As-Saniyyah” Karya Imam al-Harari (Fan Nahwu)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini