Bulan dzulhijjah adalah bahtera yang mampu membawa kita derajat takwa yang lebih tinggi. Dengan seluruh keutamaan dan keistimewaan yang ada didalamnya, manusia mampu memanfaatnya untuk menaikkan level ketakwaan dan keimanan.
Meskipun amalan-amalan di bulan Dzulhijjah tampak ringan untuk dilakukan, tidak semua orang mampu istiqamah menjalaninya. Padahal, begitu besar keutamaan dan pahala yang Allah janjikan di dalamnya. Namun sayangnya, tidak setiap hamba diberi taufik untuk meraih kemuliaan tersebut.
Karena itulah, semestinya hal ini menjadi motivasi bagi kita untuk bersungguh-sungguh menaklukkan tantangan ibadah di hari-hari yang mulia ini.Alasannya, karena pada 10 hari pertama dibulan ini, pahala dilipatgandakan, dan amalan yang kita anggap remeh menjadi hal yang paling dicintai disisi Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.” Yakni, 10 hari pertama dari bulan Zulhijah. Mereka (para shahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya)?” Beliau bersabda, “Dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya), kecuali seseorang yang berjuang dengan dirinya dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan apa pun.” (HR. Abu Dawud no. 2438 dan HR. Bukhari no. 969 dengan lafaz yang sedikit berbeda.)
Amalan Untuk Meningkatkan Level Keimanan Kita
Salah satu metode efektif untuk meningkatkan kualitas keimanan pada bulan yang mulia ini adalah dengan memperbanyak amal saleh yang berorientasi pada ridha Allah SWT. Keistimewaan momentum ini tidak hanya terletak pada statusnya sebagai bulan haram, tetapi juga karena pada sepuluh hari pertamanya, empat rukun ibadah utama hadir secara bersamaan. Fenomena spiritual ini ditegaskan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari:
وَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ السَّبَبَ فِي امْتِيَازِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ لِمَكَانِ اجْتِمَاعِ أُمَّهَاتِ الْعِبَادَةِ فِيهِ، وَهِيَ الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْحَجُّ، وَلَا يَتَأَتَّى ذَلِكَ فِي غَيْرِهِ.
“Pendapat yang kuat menerangkan bahwa alasan di balik keistimewaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah karena berkumpulnya induk-induk ibadah di dalamnya, yaitu: shalat, puasa, sedekah, dan haji. Hal yang demikian itu tidak ditemukan pada waktu-waktu lainnya.” (Fathul Bari, Juz 2, Hal. 460).
Kini, pilihannya kembali kepada diri kita masing-masing: sejauh mana komitmen kita untuk menggunakan momentum ibadah di waktu yang sangat terbatas ini?


