Berkurban (Udhiyyah): Puncak Kedermawanan Hamba
Setelah melatih jiwa dengan puasa dan membasahi lisan dengan zikir, tantangan berikutnya di hari-hari mulia ini adalah pembuktian pengorbanan harta melalui ibadah kurban (udhiyyah). Menyembelih hewan kurban pada hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan napak tilas ketauhidan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam mengalahkan egonya.
Dalam madzhab Syafi’i, ibadah ini menduduki posisi yang sangat diutamakan atau disebut juga sunnah muakkadah. Begitu pentingnya amalan ini, Khotib Asy-Syirbini mengutip perkataan Imam Asy-Syafi’i tentang qurban :
وَقَالَ الشَّافِعِي لَا أرخص فِي تَركهَا لمن قدر عَلَيْهَا
“Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: Aku tidak menyukai orang yang mampu namun meninggalkannya (berqurban).” (Kitab Al-Iqna’ fi Halli Alfadzi Abi Syuja’, Juz 2, Hal. 588).
Tantangan bagi kita saat ini, mampukah kita menyisihkan sebagian harta yang kita cintai demi meraih cinta Allah? Kurban adalah ujian konkret untuk melihat apakah dunia masih bertahta di hati kita, ataukah ridha Allah sudah menjadi prioritas utama.
Menahan Diri Ekstra bagi Shohibul Kurban
Bagi mereka yang telah membulatkan tekad dan menyiapkan harta untuk berkurban, ada satu amalan tambahan yang diajarkan oleh syariat untuk menyempurnakan ibadah di sepuluh hari pertama ini. amalan tersebut adalah menahan diri dari memotong rambut dan kuku sejak tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurbannya disembelih.
Aturan ini mungkin terkesan sepele, namun di sinilah letak ujian ketaatan. Kita diajarkan untuk menyerupai dengan para jamaah haji yang sedang berihram. Imam An-Nawawi, salah satu pilar utama ulama madzhab Syafi’i, menjelaskan status hukum kesunahan ini dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab:
فَمَذْهَبُنَا أَنَّ إزَالَةَ الشَّعْرِ وَالظُّفُرِ فِي الْعَشْرِ لِمَنْ أَرَادَ التَّضْحِيَةَ مَكْرُوهٌ كَرَاهَةَ تَنْزِيهٍ حَتَّى يُضَحِّيَ
“Maka madzhab kami (Syafi’iyyah) menetapkan bahwa menghilangkan rambut dan kuku pada sepuluh hari (pertama Dzulhijjah) bagi orang yang hendak berkurban adalah makruh tanzih (tidak sampai haram), sampai ia menyembelih kurbannya.” (Al-Majmu’, Juz 8, Hal. 392).
Hikmah dari menahan diri ini sungguh luar biasa. Para ulama Syafi’iyyah menjelaskan bahwa hal ini bertujuan agar seluruh anggota tubuh kita, bahkan hingga ujung rambut dan kuku ikut diselamatkan dari api neraka saat hewan kurban kita disembelih.
Penutup : Menjemput Kemenangan yang Hakiki
Sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah adalah sarana melatih diri yang telah disiapkan Allah SWT. Mulai dari menahan lapar lewat puasa 9 hari, menjaga lisan lewat gema takbir dan tahlil, menahan diri dari memotong kuku dan rambut, hingga memuncak pada pengorbanan harta lewat udhiyyah.
Semuanya adalah rangkaian meningkatkan keimanan yang mulai usang. Jika amal yang remeh saja menjadi sangat dicintai Allah di hari-hari ini, bayangkan betapa besarnya ganjaran bagi mereka yang bersungguh-sungguh mengerahkan seluruh kemampuannya.


