Banyak yang beranggapan bahwa bulan Safar, khususnya hari rabu terakhir yang biasa disebut Rabu Wekasan adalah waktu yang penuh dengan musibah, kesialan, dan bahaya mengintai. Ada yang tidak ingin menikahkan anak mereka pada bulan safar, atau enggan memulai usaha pada bulan safar karena anggapan tersebut. Namun apakah hal tersebut memiliki dasar yang valid dan bisa dijadikan pijakan keyakinan mereka? Lalu bagaimana kita menyikapi anggapan bahwa bulan safar adalah bulan pembawa sial?

Jika kita telaah lebih dalam, keyakinan bahwa bulan safar adalah bulan yang penuh kesialan sudah ada turun temurun dalam adat istiadat kita. Jika hal tersebut berdasar pada suatu dalil atau landasan yang jelas, maka tidak ada masalah bagi kita untuk meyakininya. Dan tidak ada masalah bagi kita untuk melaksanakan tradisi-tradisi yang ditujukan untuk menolak semua kesialan yang kita Yakini itu.

Keyakinan Bulan Pembawa Sial

Tidak ada dalil baik hadist maupun Al-Qur’an yang terang-terangan menerangkan bahwa rabu terakhir dibulan safar adalah hari yang penuh dengan kesialan. Anggapan hanya tersebut dikuatkan oleh beberapa kejadian yang terjadi dibulan tersebut. Seperti Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam awal yang jatuh sakit selama 12 hari berturut-turut. Dimulai di hari Rabu terakhir bulan Safar hingga hari hari ke-12 bulan rabi’ul awal Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam wafat.

Salah satu contoh lain adalah peristiwa yang paling kita ingat yaitu peristiwa Karbala. Diawali pembunuhan yang Sayyidina Husain RA, cucu Baginda Nabi Muhammad Saw, pada tanggal 10 Muharram dan rentetan penahanan keluarga Sayyidina Ali RA, yang berlangsung sampai bulan Safar, serta bencana alam yang melanda dan peristiwa-peristiwa lainnya yang banyak terjadi di bulan Safar

BACA JUGA :  Perfeksi dari Menulis

Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (w.1151 H) dalam kitabnya yang berjudul “Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbarin ‘Anid” (sering disebut dengan nama Mujarrobat Ad-Dairobi). Dan kitab serupa yaitu ” Jawahir Al-Khumus” karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar (w.970 H), dan juga berbagai kitab lainnya, menuqil bahwa salah seorang dari Waliyullah yang telah mencapai derajat kasyaf (disingkapnya tabir-tabir gaib oleh Allah SWT) berkata bahwa dalam setiap tahun pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar, Allah SWT akan menurunkan 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) macam bala’. Dengan alasan tersebut akhirnya beliau menganjurkan bagi Umat Islam untuk shalat dan berdoa supaya dihindarkan dari berbagai macam bala’ tersebut.

1
2
3
4
Artikulli paraprakIlusi Pengetahuan & Kedangkalan Informasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini