Bagaimana Budaya Instan Merampas Kesakralan Ilmu dari Pandangan Sebagian Orang?
Di era digital, arus informasi bergerak begitu cepat sehingga banyak orang mulai mengira bahwa ilmu dapat diringkas dalam sebuah layar telepon genggam. Jawaban-jawaban yang tersaji dalam hitungan detik seolah membuat proses belajar menjadi singkat dan mudah. Akibatnya, sebagian orang tidak lagi melihat ilmu sebagai hasil dari perjalanan panjang yang ditempa melalui belajar, berguru, dan pendalaman metodologi, melainkan sekadar kumpulan informasi yang dapat diakses kapan saja.
Fenomena ini tampak ketika seseorang yang tidak pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu, tidak menghabiskan waktu mempelajari kitab-kitab, dan tidak dididik oleh para ulama, merasa cukup percaya diri untuk berbicara tentang agama, bahkan memasuki perdebatan ilmiah dan menyimpulkan hukum-hukum syariat. Hanya karena memiliki akses kepada mesin pencari atau kecerdasan buatan yang mampu mengumpulkan berbagai referensi dalam waktu singkat, ia mengira dirinya telah memiliki kemampuan memahami agama sebagaimana para ahli. Padahal, yang dimilikinya sering kali hanyalah rangkaian informasi yang belum melalui proses pemahaman, penalaran, dan pendalaman sebagaimana tradisi keilmuan Islam mengajarkannya.
Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Bahayanya bukan terletak pada kecerdasan buatan atau teknologi itu sendiri, sebab keduanya hanyalah alat yang dapat memberikan manfaat apabila digunakan dengan benar. Persoalan muncul ketika manusia gagal membedakan antara informasi dan ilmu, antara kemampuan mengutip dengan kemampuan memahami, serta antara cepat memperoleh jawaban dengan layak menyampaikan fatwa. Ilusi pengetahuan inilah yang perlahan mengikis penghormatan terhadap proses belajar, mereduksi kewibawaan para ulama, dan menjadikan kesakralan ilmu agama tampak seolah dapat digantikan oleh sebuah algoritma.
Mengapa Ulama Menjadi Otoritas Keilmuan
Wibawa ulama bukanlah kewibawaan yang lahir dari popularitas, banyaknya pengikut, atau kepiawaian berbicara. Wibawa itu tumbuh dari kedalaman ilmu, keluasan pemahaman, ketakwaan, dan amanah dalam menyampaikan agama. Karena itu, kedudukan ulama tidak dapat digantikan hanya oleh kecanggihan teknologi yang mampu menyajikan informasi secara cepat.


