Sanad: Benteng Otentisitas Ilmu

     Kemudian, hal paling berbahaya yang perlu kita hidupkan kembali adalah konsep sanad dan metodologi ilmiah. Sebab ilmu yang sejati tidak tampak pada banyaknya informasi yang dihafal, melainkan pada kemampuan memahami informasi tersebut, menghubungkannya dengan realitas, dan menerapkannya dalam kehidupan manusia dengan kebijaksanaan dan keadilan. Para ulama salaf sejak dahulu telah mengingatkan pentingnya memilih sumber ilmu yang benar. Muhammad bin Sirin رحمه الله berkata:

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ الرَّبِيعِ ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ ، عَنْ أَيُّوبَ، وَهِشَامٍ ، عَنْ مُحَمَّدٍ ، وَحَدَّثَنَا فُضَيْلٌ ، عَنْ هِشَامٍ قَالَ: وَحَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ حُسَيْنٍ ، عَنْ هِشَامٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ: «إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ ».

“Sesungguhnya ilmu ini merupakan bagian dari agama. Oleh karena itu, telitilah dari siapa kalian mengambil ajaran agama kalian.”[1]

     Ucapan ini menunjukkan bahwa ilmu agama bukan sekadar pengetahuan yang boleh diambil dari siapa saja. Sebagaimana seseorang berhati-hati memilih sumber makanan bagi tubuhnya, demikian pula ia harus berhati-hati memilih sumber ilmu yang akan membentuk keyakinan dan amalnya.

Beliau juga pernah berkata:

لَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Kalau bukan karena sanad (silsilah guru), niscaya setiap orang akan berkata apa saja yang dia kehendaki tentang agama ini.”

     Karena itu, banyak orang yang hanya bersenjata dengan jawaban-jawaban kecerdasan buatan akan segera runtuh ketika diminta menjelaskan metodologi ushul fikih dari pendapat yang mereka kutip, atau menerangkan bagaimana hukum tersebut diterapkan pada persoalan-persoalan kontemporer yang kompleks. Sebab mesin hanya memberikan teks, tetapi tidak memberikan kemampuan fikih dan cahaya ketajaman pandangan.

     Mungkin termasuk hal terpenting yang harus dilakukan umat hari ini adalah membangun platform kecerdasan buatan Islam yang terpercaya, diawasi oleh para ulama dan para ahli, serta diperkaya dengan kitab-kitab turats yang mu’tabar, fikih perbandingan, dan pandangan moderat yang seimbang, agar ruang ini tidak dibiarkan menjadi arena permainan, ekstremisme, atau budaya-budaya yang jauh dari ruh Islam.

BACA JUGA :  Obat Batuk Mujarab

     Hal ini menjadi semakin penting mengingat banyak produk kecerdasan buatan yang digunakan masyarakat tidak secara khusus dibangun di atas rujukan-rujukan Islam yang mu’tabar. Dalam praktiknya, jawaban yang dihasilkan sering kali merupakan sintesis dari berbagai sumber di internet yang bercampur antara pendapat Ahlussunnah dengan pandangan kelompok-kelompok lain, seperti Wahabi, Syiah, Ikhwanul Muslimin, bahkan pemikiran liberal, tanpa adanya penyaringan sesuai manhaj tertentu. Akibatnya, pengguna awam yang tidak memiliki bekal ilmu dapat dengan mudah menerima jawaban tersebut sebagai kebenaran, padahal di dalamnya dipastikan terdapat pendapat-pendapat yang menyimpang dari tradisi keilmuan yang mereka anut.

     Kita ingin teknologi tetap menjadi pelayan bagi ilmu, bukan pengganti para ahlinya. Kita ingin AI tetap menjadi alat di tangan para ulama, bukan menjadikan manusia sebagai tawanan dari apa yang dihasilkan algoritma.

     Banyak lembaga-lembaga besar islam yang sepanjang sejarahnya bukan sekadar lembaga pendidikan,melainkan sebagai benteng yang menjaga keseimbangan umat dan mercusuar yang melindungi Islam dari sikap berlebihan, kebodohan, dan kekacauan.

     Karena itu, membela kedudukan para ulama pada hari ini bukanlah pembelaan terhadap individu-individu tertentu, melainkan pembelaan terhadap makna ilmu itu sendiri, terhadap kesakralan agama, dan terhadap cahaya yang selama berabad-abad telah membimbing manusia di tengah gelapnya berbagai fitnah.

     Kemajuan teknologi merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Namun sebesar apa pun kecanggihannya, ia tetap tidak mampu menggantikan proses panjang yang melahirkan seorang alim. Sebab ilmu agama bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan cahaya yang diwariskan melalui sanad, dipelihara dengan adab, dan diamalkan dengan ketakwaan. Selama prinsip ini tetap dijaga, teknologi akan menjadi pelayan bagi ilmu, bukan penguasa atasnya.

 

 

 

 

[1] Shahih Muslim, Muqaddimah, no. 26 (dalam sebagian penomoran), riwayat dari Muhammad bin Sirin.

1
2
3
Artikulli paraprakSantri Perlu FOMO, Namun Tidak Semua FOMO Diperlukan Santri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini