Di era media sosial seperti sekarang, istilah Fear of Missing Out (FOMO) sudah sangat akrab di telinga kita. FOMO adalah perasaan takut tertinggal dari orang lain. Takut tidak ikut tren, takut tidak punya pengalaman yang sama, atau takut tidak mendapatkan sesuatu yang sedang ramai dibicarakan.

     Masalahnya, FOMO ibarat pisau bermata dua. Ia bisa menjadi pendorong untuk berkembang, tetapi juga bisa menyeret seseorang mengikuti sesuatu yang sebenarnya keliru hanya karena tidak ingin berbeda dari kebanyakan orang.

     Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Al-Qur’an telah menggambarkan bagaimana orang-orang musyrik menolak mengikuti petunjuk Allah hanya karena takut meninggalkan kebiasaan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah!’ Mereka menjawab, ‘Tidak. Kami tetap mengikuti kebiasaan yang kami dapati pada nenek moyang kami.’ Apakah (mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka (itu) tidak mengerti apa pun dan tidak mendapat petunjuk?!” (QS. Al-Baqarah: 170)

Ketika menjelaskan ayat ini, Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,

فاكتفوا بتقليد الآباء، وزهدوا في الإيمان بالأنبياء

“Mereka memilih untuk ikut dengan nenek moyang mereka dan enggan untuk beriman kepada para nabi.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 81)

     Artinya, yang mereka takutkan bukan kehilangan kebenaran, tetapi kehilangan kebiasaan. Mereka lebih khawatir berbeda dengan lingkungan daripada kehilangan petunjuk Allah.

     Bukankah keadaan seperti ini juga masih sering kita jumpai sekarang? Berapa banyak orang yang mengikuti sesuatu hanya karena semua orang melakukannya, bukan karena itu benar?

BACA JUGA :  Sowan ke KH. Maimoen Zubair, Jokowi Hanya Sebagai Tamu

     Sebaliknya, seorang santri justru seharusnya memiliki FOMO yang berbeda. Bukan takut tertinggal tren, melainkan takut tertinggal dalam ilmu dan kebaikan.

     Merasa gelisah ketika teman sudah lebih banyak hafalannya, lebih tekun menuntut ilmu, lebih aktif dalam bahtsul masail, atau lebih dahulu memanfaatkan kesempatan untuk beramal. Bukan karena iri kepada mereka, tetapi karena ingin ikut berlomba dalam hal yang diridhai Allah.

FOMO seperti inilah yang layak dipelihara.

1
2
3
Artikulli paraprakAsal-Usul Penamaan Bulan Safar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini