Data ilmiah menegaskan hal ini. Menurut penelitian Pravita Yunarti (2024):

“Dampak dari perilaku Fomo pada remaja memiliki dampak yang signifikan. Mereka bisa mengalami perasaan cemas, kekhawatiran, dan menjadi hiperaktif dalam memantau aktivitas sosial mereka. Selain itu, minat mereka terhadap aktivitas dunia nyata dan interaksi sosial dengan teman juga dapat mengalami penurunan.”³

     Di pesantren sendiri, fenomena ini nyata. Skripsi Sa’adatun Nuronniya (2024) di Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta menemukan bahwa FoMO santri masuk dalam kategori “tidak baik” dengan grand mean 2,09.⁴ Artinya, meski literasi digitalnya bagus, godaan FOMO negatif tetap mengintai.

     Jadi, bagaimana caranya? Pilih FOMO-mu dengan cerdas. FOMO yang bikin kita takut ketinggalan pahala malam, takut ketinggalan ilmu dari kyai, takut ketinggalan kesempatan menjadi generasi emas umat. Tapi buang jauh FOMO yang bikin kita iri hati, konsumtif, dan lupa tujuan utama kita di pesantren: menuntut ilmu untuk ridha Allah.

     Seperti pepatah pesantren: “Tidak semua yang ramai itu benar, dan tidak semua yang sepi itu salah.” Jadilah santri yang istiqamah, tapi tetap punya api semangat. FOMO positif adalah bensin, FOMO negatif adalah kebocoran tangki.

 

 

Catatan Kaki:
¹ Distraction or Motivation? Unraveling the Role of Fear of Missing Out on College Students’ Learning Engagement (2024). PMC.
² Panggabean, N. C., & Brahmana, K. M. B. (2021). Pengaruh Kecenderungan Fear of Missing Out (FoMO) pada Generasi Milenial. Jurnal SAJTS.
³ Pravita Yunarti, D. (2024). Analisis Dampak Media Sosial pada Perilaku FOMO Generasi Milenial. Jurnal Bimbingan dan Konseling, Vol. 11 No. 1.
⁴ Nuronniya, S. (2024). Pengaruh Literasi Digital terhadap FoMO pada Santri Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta. Skripsi, UIN Sunan Kalijaga.

BACA JUGA :  Mahalnya Sebuah Hidayah

 

1
2
3
Artikulli paraprakAsal-Usul Penamaan Bulan Safar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini