Ia mendorong seseorang untuk lebih tekun belajar, memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, meningkatkan prestasi, aktif mengikuti berbagai kegiatan ilmiah, dan terus memperluas wawasan keislaman. Bukan karena ingin dipuji manusia, melainkan karena tidak ingin kehilangan kesempatan menjadi hamba yang lebih baik.
Kalau harus memiliki FOMO, mengapa tidak memilih FOMO yang membuat kita semakin dekat kepada Allah, bukan justru semakin jauh dari-Nya?
Penelitian menunjukkan bahwa FOMO bisa menjadi motivasi positif. Dalam studi tahun 2024 berjudul Distraction or Motivation?, ditemukan bahwa FOMO dapat meningkatkan learning engagement (keterlibatan belajar) pada pelajar.¹ FOMO yang tepat membuat kita semangat mengejar prestasi akademik dan kegiatan positif.
Di antara fenomena yang penulis tangkap tentang FOMO yang dialami oleh sebagian penuntut ilmu adalah mereka terburu-buru dan rakus dengan materi yang dipelajari sehingga menjadikan mereka tidak fokus. Bentuk FOMO ini pun beragam. Ada yang terburu-buru menghafal karena merasa tertinggal sangat jauh dengan kawannya. Ada pula yang terburu-buru mempelajari sebuah kitab padahal belum waktunya, dan lain-lain.
Az-Zuhri rahimahullahu mengatakan,
لا تأخذ العلم جملة، فإن من رام أخذه جملة ذهب عنه جملة ولكن الشيء بعد الشيء مع الليالي والأيام
“Jangan engkau ambil ilmu (langsung banyak) sekaligus! Karena orang yang mengambil ilmu (langsung banyak) sekaligus, maka akan berpotensi kehilangan semuanya sekaligus. Namun, sedikit demi sedikit beriringan dengan perjalanan waktu.” (Jami Bayan Al-‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 431)
Dan kekhawatiran lain yang juga dialami oleh para penuntut ilmu adalah ia merasa harus mengikuti acara njagong esklusif di asrama-asrama setiap saat. Sehingga gawai yang semestinya ia hanya gunakan ketika melepas penat saja, menjadi terus menerus berada di rutinitasnya. Padahal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama pernah bersabda,
مِن حُسنِ إسلامِ المرءِ تَرْكُه ما لا يعنيه
“Di antara indikator kebaikan seorang muslim adalah saat ia mampu meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Ad-Daruquthni no. 3024 dan diperselisihkan keabsahannya)
Fenomena-fenomena FOMO tersebut hanya sebagai pendekatan gambaran saja bahwa kekhawatiran seorang santri terhadap hal-hal yang terjadi saat ini yang perlu untuk disadari segera sebelum terlalu jauh terjebak dan menjadikannya sebagai hamba yang waktunya sia-sia.


