-
Kemenangan Perang Khaibar
Perang khaibar yang terjadi ditahun ke tujuh dari hijrahnya nabi Muhammad marupakan salah satu peristiwa penting yang terjadi dibulan safar. Kemenangan itu merupakan keberuntungan yang sangat besar efeknya bagi umat islam.
Kejadian ini diterangkan oleh ibnu katsir dalam shirah nabawiyyah-nya :
قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ: وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ – فِيمَا بَلَغَنِي – قَدْ أَعْطَى ابْنَ لَقِيمٍ الْعَبْسِيَّ حِينَ افْتَتَحَ خَيْبَرَ مَا بِهَا مِنْ دَجَاجَةٍ أَوْ دَاجِنٍ، وَكَانَ فَتْحُ خَيْبَرَ فِي صَفَرٍ
Artinya: “Ibnu Ishaq berkata: ‘Rasulullah ﷺ memberikan kepada Ibnu Laqīm al-‘Absī, seluruh unggas peliharaan yang ada di sana, baik ayam maupun hewan ternak jinak lainnya ketika beliau berhasil menaklukkan Khaibar. Penaklukan Khaibar itu terjadi pada bulan Safar.’”
Kepercayaan Datangnya Sial
Dapat kita simpulkan dari penjabaran diatas bahwa jika kita meninggalkan suatu pekerjaan, menghindari pernikahan dan sebagainya karena beranggapan bahwa safar dan rebo wekasan adalah bulan yang dipenuhi bala’, maka jelas itu sebuah kesalahan yang perlu diperbaiki.
Dalam Shohih Bukhori dan Muslim telah diriwayatkan dari Abi Sholeh dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,
لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر
“Tidak ada penularan (yang terjadi dengan sendirinya tanpa ketetapan Allah), tidak ada anggapan sial karena burung, tidak ada hāmah, dan tidak ada (kesialan pada) Safar.”
Hāmah menurut Syaikh Zakariya al-Anshory adalah burung yang aktif pada malam hari. Hal ini beliau terangkan dalam kitabnya Minḥat al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī al-Musammā Tuḥfat al-Bārī
(ولا طيرة) بكسر الطاء وفتح التحتية، وقد تسكن من التطير: وهو التشاؤم بالطيور، كانوا يتشاءمون بها فتصدهم عن مقاصدهم. (ولا هامة) بتخفيف الميم على الصحيح: وهي الرَّأس، واسم طائر، وهو المراد هنا؛ لأنهم كانوا يتشاءمون بالطيور فتصدهم عن مقاصدهم، وهي من طير الليل
Artinya : “(Tidak ada ṭiyarah),” dengan huruf ṭa’ berharakat kasrah dan huruf ya’ berharakat fathah (meskipun boleh juga disukunkan). Kata ini berasal dari at-taṭayyur, yaitu merasa sial karena burung. Dahulu orang-orang Arab Jahiliyah menganggap burung sebagai pertanda kesialan sehingga keyakinan itu membuat mereka mengurungkan tujuan atau rencana mereka.
“(Tidak ada hāmah),” menurut pendapat yang benar, huruf mīm dibaca ringan (tanpa tasydid). Kata hāmah secara bahasa berarti kepala, dan juga merupakan nama seekor burung, yang dimaksud dalam hadis ini adalah makna yang kedua. Sebab, orang-orang Arab Jahiliyah biasa menganggap burung tertentu sebagai pertanda sial sehingga mereka mengurungkan niat atau tujuan mereka. Burung tersebut termasuk burung yang aktif pada malam hari. Ada yang mengatakan bahwa burung itu adalah burung hantu.”


