Syaikh Jalāluddīn as-Suyūṭī dalam kitabnya Asy-Syamārīkh fī ‘Ilmi at-Tārīkh menjelaskan maksud dari “لا صفر” pada hadist diatas :

وقوله: «ولا صفر» قال في القاموس: «والصفر بالتحريك: داء في البطن يصفر الوجه وتأخير المحرم إلى صفر ومنه: ولا صفر أو من الأول لزعمهم أنه يعدي» ثم قال: والصفران«شهران من السنة سمي أحدهما في الإسلام المحرم» اهـ … وقول النبي ﷺ «ولا صفر» تشمل الأولى والثانية.

Artinya : “Ash-afar (dengan harakat fathah pada huruf ad dan rā’) berarti: penyakit yang berada di dalam perut yang menyebabkan wajah menguning. Ash-afar juga berarti penundaan bulan Muharram ke bulan Safar. Oleh karena itu Nabi bersabda: ‘Tidak ada Safar’, yakni menolak salah satu dari dua pengertian tersebut; bisa jadi yang dimaksud adalah makna pertama karena mereka (orang Arab Jahiliyah) meyakini bahwa penyakit itu dapat menular dengan sendirinya.” Kemudian beliau berkata: “As-afarān adalah dua bulan dalam setahun, dan salah satunya pada masa Islam dinamakan Muharram.” Selesai kutipan. Adapun sabda Nabi ﷺ ولا صفر, maka lafaz tersebut mencakup kedua makna yang telah disebutkan di atas.

Hadits di atas menjelaskan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Bala’, penyakit, dan musibah apapun tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk membuat manusia atau apapun tersakiti. Oleh karena itu tidak diperkenankan bagi kita untuk meyakini bahwa hari Rabu atau bulan tertentu merupakan hari dan bulan yang sial.

Allah Ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi maupun pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya.” (QS. Al-Hadid: 22)

BACA JUGA :  Menjadi Beda

Sebagian ulama Syafi’iyah memang menyebut adanya pengalaman para ahli ma’rifat (ahl al-kasyf) atau tradisi masyarakat mengenai Rebo Wekasan. Akan tetapi, keterangan seperti ini bukan dalil syariat yang dapat dijadikan dasar akidah. Dalam masalah keyakinan, landasan yang digunakan adalah Al-Qur’an, hadis sahih, ijmak, dan dalil-dalil syar’i yang diakui.

Oleh karena itu, sekalipun seseorang memilih memperbanyak doa pada hari tersebut, atau melakukan sholat hajat dengan niat menolak bala’, seperti yang diajarkan oleh Syaikhina Maimoen Zubair, ia tetap tidak boleh meyakini bahwa hari itu secara zat adalah pembawa sial.https://www.ppalanwar.com/rebo-wekasan/

Wallahua’lam…

1
2
3
4
Artikulli paraprakIlusi Pengetahuan & Kedangkalan Informasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini