Kitab Al-Ulama’ Al-Mujaddidun Karya KH. Maimoen Zubair

Edentitas Kitab

Judul: Al-Ulama’ Al-Mijaddidun Wa Majalu Tajdidihim Waj Tihadihim
Penulis: KH. Maimoen Zubair
Penerbit: Al-Maktabah Al-Anwariyyah
Tebal: 50 Halaman

Setiap bertambahnya waktu kehidupan umat manusia terus berkembang, pola pikir generasi-generasi sebelumnya dikembangkan lagi hingga beregenerasi menjadi terbaik menurut generasi itu. Pun begitu juga dengan syariat Islam ikut berkembang dan menyesuaikan dengan keadaan zaman tanpa keluar dari dua sumber asalnya: Alquran dan As-Sunnah.

Dalam buah karyanya ini Mbah Moen memaparkan perihal kedatangan dan keberadaan pembaharu dan pembaharuan dalam dunia Islam. Hal itu bermula dari dua hal:

Pertama, sabda Rasulullah SAW

“إن الله يبعث لهذه الأمة على كل مائة سنة من يجدد لها دينها.” رواه أبو داود

dan ucapan ulama:

“إن الإسلام يوافق ويلائم كل ناس مدى الدهور والعصور”

Mbah Moen mengomentari hadist tersebut bahwa salah satu rahmat Allah SWT terhadap umat manusia dengan menjaga keeksistensian syariatnya dengan selalu memperbaharui metode-metode pembalajaran syariat sesuai dengan kemampuan generasi-generasi masa itu guna terselamatkan dari pemahaman-pemahaman yang melenceng dari apa yang dimaksudkan oleh syariat itu sendiri.

“إن من سنة الله فيما عليه مجاري هذه الأمة من لدن أوائلهم وسوابقهم حتى إلى أواخرهم على ما كان عليه تواريخ عصورهم وظهورهم مدى الدهور والأعوام أن الله سبحانه وتعالى يجدد لهم في كيان تطبيق تعاليم هذاالدين على حسب ماهو مناسب لعصورهم جيلا بعد جيل.”
(Halaman 3)

Sebut saja laiknya pembukuan kitab suci Alquran yang bermula dari gagasan Sayyidina Umar Ra setelah menyaksikan banyaknya para huffaz Alquran yang gugur dalam peperangan. Ia khawatir dengan banyaknya para huffaz yang gugur wahyu Allah SWT akan hilang atau banyak dirubah seperti apa yang terjadi dengan wahyu-wahyu Allah yang diturunkan ke umat-umat sebelumnya . Sayyidina Abu Bakar Ra ketika mengetahui gagasannya itu langsung menyanggahnya, “Bagaimana mungkin Anda (Sayyidina Umar) melakukan perkara yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW?!” hal itu juga yang dikatakan oleh Zaid bin Tsabit selaku penyusun Alquran yang dipilih oleh Sayyidina Abu Bakar Ra setelah mendengar apa yang dikatakannya. Namun ketika mereka berdua mengetahui alasan dibalik gagasan Sayyidina Umar mereka setuju dan melaksanakan apa yang diusulkannya. Contoh lain adalah apa yang terjadi pada masa keemasan Islam ketika Islam berhasil berekspansi menaklukan banyak Negara dan bertambah pesatnya umat Islam di seluruh dunia, umat Islam mulai mengenal ilmu filsafat Sanskerta, Plato, dan filsafat-filsafat lainnya yang bertopang dengan kemasukakalan sehingga membuat para ulama tidak cukup menyebarkan agama hanya dengan bertopang dengan Alquran dan As-Sunnah, mereka lalu mengembangkannya lagi dan membuat tambahan topangan baru syariat dengan dua hal: Qiyas dan ijmak. Dan pembaharuan serupa terus berlanjut di masa-masa setelahnya sesuai dengan masalah-masalah yang dihadapi.

BACA JUGA :  Resensi Kitab Maraaqil 'Ubudiyyah
Al-Ulama' Al-Mujaddidun Karya KH. Maimoen Zubair
Al-Ulama’ Al-Mujaddidun Karya KH. Maimoen Zubair

Pembaharuan dalam syariat sendiri adalah suatu kebutuhan yang menjadi tugas para ulama

“لايمكن ان تدوم هذه الحال بعد انقراضهم فتغيرت الأحوال فيحتاج إلى مالم يحتج في أزمانهم وأيامهم من التجديد الذي يوافق العصر الذي كانوا فيه فيبعث الله طائفة من العلماء الذين جددوا الخطة التي توافقهم بين أيديهم.”
(Halaman 4)

Sedangkan dampak perubahan zaman ini juga berdampak pada perubahan syariat. Ada beberapa hal yang ditetapkan oleh Alquran namun seiring berjalannya waktu hal itu tidak bisa dilakukan lagi. Seperti perbudakan yang sudah tidak ada lagi dan beralih fungsinya alat pembayaran uang emas-perak menjadi uang kertas yang mengakibatkan tidak memungkinkan lagi mengamalkan hukum-hukum perihal perbudakan dan berubahnya zakat emas-perak menjadi zakat uang. Kendati begitu, Mbah Moen berkomentar bahwa ketidakbisaan mengamalkan seluruh apa yang ditetapkan oleh Alquran di zaman tidak berarti boleh mengubah atau menggantikannya dengan sesuka manusia.

“اعلم أن أحكام القرآن لاتنسخ بعد وفاة رسول الله صلى الله عليه وسلم مع العلم بآن بعضها لم يستطع المسلمون العمل به.”
(Halaman 13)

“فالآحكام القرآنية آو الشرعية التي لم نستطع العمل بها لا يجوز تبديلها وتغييرها من قبل آنفسنا, ولاسيما بدعوى الاجتهاد والاستنباط. وإنما الواجب علينا تجاهها العمل بما امكن في حدود أنفسنا وأسرنا وأهلينا وخدمنا ومن تحت رعايتنا.”
(Halaman 15)

Namun keelastisan syariat menyikapi perubahan zaman yang terus berkembang tidak serta-merta aman dari marabahaya. Dalam bab akhir Mbah Moen membahasnya dan memaparkan apa yang dilakukan syariat guna selamat dan terhindar dari marabahaya yaitu dengan berpegang teguh pada fikih dan kaidah-kaidahnya yang telah ditetapkan oleh ulama salaf.
(Halaman 36 dan 42)

Kitab Al-Ulama Al-Mujaddidun penulis rasa adalah bentuk dari keresahan Mbah Moen tehadap apa yang terjadi di zaman ini. Beliau menuangkan keresahannya dalam bentuk tulisan guna sebagai pengingat dan pedoman untuk generasi-generasi setelahnya. Fajazahullah ‘anil Islam wal muslimin khairal jazak.

Oleh : Tim Mading AsSarh PP. Al-Anwar

Artikulli paraprakNgangsu Kaweruh Kebangsaan
Artikulli tjetërMenjauhi Sifat-Sifat yang Menghalangi Ibadah dan Taqarraub

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini