Ketiga, kata pengarang kitab tadi (DR. Abdul Nashir) ulama semua sepakat memberi selamat kepada hari raya kafir hukumnya haram baik Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanabilah. Ibn al-Qayyim me-nash ijma’ ulama atas itu. Nash-nash mereka ambillah, Oleh orang-orang yang ‘stres’ dari ulama modern hal ini dianggap tasyaddud (terlalu keras), padahal untuk menjaga akidah umat Islam biar akidahnya ya’lu wa yu’la alaihi. Kita sudah dijajah ekonomi dan politik, maklum. Namun jangan sampai akidah kita juga dijajah.

Nash di Madzhab Syafi’i adalah dari Khatib al-Syirbini:

ويعزر من وافق الكفار في أعيادهم ، ومن يمسك الحية ويدخل النار ، ومن قال لذمي يا حاج ، ومن هنأه بعيده ، (مغني المحتاج – 17 / 136)

Yakni termasuk orang yang dikenai ta’zir adalah orang yang muwafiq (mencocoki) dengan hari raya orang kafir dan orang yang memberi selamat kepada hari raya mereka. Ini sudah saya nukil waktu di Multaqa dulu di Pondok Pesantren Dalwa.

Ibn Hajar dalam al-Fatawa al-Kubra juga menjelaskan:

لما سئل عن تشبه بعض المسلمين عن الكفار بأعيادهم؟ قال: والحاصل إن قصد بذلك التشبه بهم في شعار الكفر كفر قطعا

Kalau dalam bahasa al-Bulqini disebut jazman, kalo disini qath’an. Sama saja.

أو في شعار العيد مع قطع النظر عن الكفر لم يكفر ولكنه يأثم. وإن لم يقصد التشبه أصلا ورأسا فلا شيء عليه (فتاوى ابن حجر – 4 / 239)

Tapi menurut saya gimana, wong waktu natalan ikut-ikutan natalan itu jelas tasyabbuh. Katanya Ibn Hajar ada yang tidak sengaja tasyabbuh, menurut saya musykil. Kalau tidak waktunya natalan itu agak pantas, tapi ini waktunya natalan kok kita mengucapkan selamat natal, itu berarti mengakui dan berbahagia dengan natalan mereka. Na’udzu biLlah. Kalau tasyabbuh benar kufur, namun kalau hanya sekedar ramai-ramai maka tidak kufur tapi haram. Hal ini maklum.

Lebih bagus lagi Ibn Hajar menukil dari al-Ramli:

ثم رأيت بعض العلماء المتأخرين (يقصد الرملي الكبير) قال: ومن أقبح البدع موافقة المسلمين النصارى في أعيادهم بالتشبه بأكلهم والهديت لهم وقبول هديتهم فيه وأكثر الناس اعتناء بذلك المصريون

Ulama Syafi’i membuka kedok bahwa orang yang biasa toleransi pluralisme itu adalah orang Mesir. Pernah saya mengaji Selasanan seperti ini bahwa bangsa kita pun pluralisme sudah biasa. Tapi ini hukum, jadi harus dilantangkan.

Jadi ada salaf, ada khalaf, ada juga khalf. Kalau khalaf masih ngikuti sala, kalo khalf itu seperti Firman Allah Ta’ala:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا [مريم : 59]

BACA JUGA :  Kunjungan dan Dauroh Ilmiyyah al-Syaikh al-Habib Abdul Qodir bin Muhammad al-Mahdi bin Abdullah bin Umar al-Syathiri

“Maka datanglah sesudah mereka, khalf/pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)

Yang bahaya ini yang khalf. Tidak mengurusi shalat, hanya senang ramai-ramai ceramah, rapat, organisasi, menunda bahkan meninggalkan shalat. Mereka mengikuti syahwat, yang penting dapat uang, yang penting dananya tidak diputus. Padahal orang Kristen memberi dana ya diambilkan dari umat Islam. Na’udzu billaah.

Mari kita waspada. Masalah ini tidak ada khilaf. Adapun ulama tadi seperti Habib Ali al-Jufri, Wahbah al-Zuhaili, kita husnuzzhan mereka tertekan dan takut karena mereka orang terpandang. Kalau saya ini kan bukan orang terpandang, tidak terkenal, tidak punya organisasi, AlhamduliLlah. Jadi bisa menyampaikan apa adanya.

Mereka mengatakan natalan karena menghormat Nabi Isa. Memang penghormatan kepadanya itu harus, akan tetapi tidak pada waktu natalan kan bisa. Kenapa harus waktu natalan? Kenapa harus disampaikan kepada Nashara yang mengatakan Isa anak tuhan? Tidak boleh. Kita hormati nabi isa.

Sudah saya terangkan kemarin, bahwa Nabi Isa sekarang digodok oleh Allah Ta’ala dan dipersiapkan untuk menyelamatkan umat Islam. Dia nantinya termasuk umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallama, namun bukan berarti dia menanggalkan kenabiannya. Nabi Isa sekarang ini digodok dan dipersiapkan -bahasa jawanya Satrio Piningit- untuk menyelamatkan umat Islam dari kebiadaban Dajjal. Dialah al-Masih, barakah dari Allah. Kalau Dajjal kelihatannya memang barakah, tapi aslinya tipuan sihir.

Alhamdulillah pernyataan saya ini banyak yang simpatik, tapi banyak juga yang tidak senang karena saya bukan orang organisasi, saya dianggap orang kampungan, dan seterusnya. Ini saya tidak ada masalah. Alhamdulillah saya diberi selamat oleh Allah Ta’ala. Ini adalah barakah saya mengagungkan Nabi Isa tidak lewat natal namun lewat ucapan ‘alaihi al-Salam, cinta, ta’alluq, dan sebagainya. Apalagi kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallama. Dia adalah Makhdum, dikhidmahi oleh semua nabi, malaikat. Dia Sayyidul ambiya wal mursalin.

Cukup sekian, bila ada kurang atau apa yang tidak enak mohon maafnya. Semoga kita dikuatkan akidah kita. Kita bukan mau peperangan atau berontak, kita hanya sekedar menyampaikan ilmu apa adanya. Alhamdulillah. Yang tidak punya jabatan, karisma, atau ketenaran inilah yang bisa menyampaikan seperti ini. Alhamdulillah. Semoga diterima oleh seluruh umat Islam agar kita menyongsong Imam Mahdi dan Nabi Isa dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya, agar anak cucu kita tetap iman dan islam. Ya Dza al-Jalal wa al-Ikram, ahyina ‘ala al-Islam wa amitna ala al-Iman.” (*)

sumber: https://drive.google.com/file/d/19wnIRGyK0Bo_D2F8jx6MF80QH8M6SJ72/view

1
2
3
Artikulli paraprakKetika Negara Memfasilitasi Natal: Tinjauan Syariat terhadap Batas Toleransi
Artikulli tjetërAWAL TAHUN MASEHI: OKTOBER, BUKAN JANUARI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini