Kedua, sekarang perintah berbaikan ini bukan berarti menghukumi mereka punya iman seperti orang-orang pluralisme-Gusdurian itu, apalagi mengatakan mereka dapat surga. Yang mendapat surga adalah mereka yang tidak sezaman (baca:menangi) nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [البقرة : 62]

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, Hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 62)

Walhasil, mereka masuk surga ketika tidak sezaman dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallama. Kalau sezaman dengan kanjeng nabi dan tidak mau Islam, maka mereka bukan ahli surga melainkan ahli neraka.

Jadi berbaikan dengan kafir bukan berarti mereka punya iman atau punya surga. Kita walaupun baik dengan mereka namun harus tetap beritikad mereka kufur dan berhak masuk neraka kalau tidak masuk Islam. Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ [المائدة : 73]

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Allah salah satu dari yang tiga.” (QS. Al-Maidah: 73)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ [المائدة : 17]

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang berkata, “Allah itu ialah Al-Masih putera Maryam.” (QS. Al-Maidah: 17)

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ [البينة : 1]

“Orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,” (QS. Al-Bayyinah: 1)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ [البينة : 6]

BACA JUGA :  Ada Nafsu Dibalik Batu

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

Dari ayat-ayat diatas Allah telah me-nash kekafirannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama juga demikian. Disebutkan dalam Hadits:

والذي نَفْسي بيده لا يسمع بي أحدٌ من هذه الأُمّة يهوديٌّ أو نصرانيٌّ ثم يموت ولا يُؤمن بالذي أُرسلتُ به إلا كان من أصحاب النَّار (رواه أحمد)

“Demi Dzat dimana diriku dalam tangan-Nya, aku tidak mendengar satupun dari umat ini beragama Yahudi atau Kristen kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman terhadap apa yang aku diutus karenanya, kecuali dia menjadi penghuni neraka.” (HR. Ahmad)

 

Walhasil, kafir berada di neraka adalah ijma’ ulama. Tidak ada yang bilang mereka dapat surga atau surganya di belakang seperti omongan Said Aqil. Bukan ulama itu, penipu akidah.

1
2
3
Artikulli paraprakKetika Negara Memfasilitasi Natal: Tinjauan Syariat terhadap Batas Toleransi
Artikulli tjetërAWAL TAHUN MASEHI: OKTOBER, BUKAN JANUARI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini