GERHANA BULAN SEBAGAI SALAH SATU TANDA KEBESARAN ALLAH SWT

Gerhana bulan merupakan salah satu fenomena alam yang menakjubkan dan memiliki makna mendalam dalam pandangan Islam. Dalam ajaran Islam, gerhana bulan bukan hanya sekadar peristiwa astronomi, tetapi juga termasuk tanda kebesaran Allah SWT yang seharusnya menyadarkan manusia akan kekuasaan dan kebesaran-Nya.

Pada hari Ahad tengah malam, bertepatan tanggal 7-8 September 2025 M./15 Rabi’ul Awwal akan terjadi Gerhana bulan total yang dapat disaksikan dari seluruh kawasan di Indonesia termasuk di wilayah Sarang, Rembang  yang masuk dalam zona waktu WIB (Waktu Indonesia Barat). Gerhana diperkirakan terjadi antara pukul 23:27:01 WIB sampai pukul 02:56:25 WIB.

Berikut beberapa ulasan mengenai fenomena Gerhana Bulan:

  1. Definisi Gerhana Bulan

Gerhana bulan adalah peristiwa di mana cahaya Matahari yang seharusnya sampai ke Bulan terhalang oleh Bumi. Secara visual, Bulan akan tampak meredup atau bahkan menghilang dari pandangan kita. Ada dua jenis gerhana bulan utama:

 * Gerhana Bulan Penuh (Total):

Terjadi ketika Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan umbra Bumi. Bayangan umbra adalah bagian paling gelap dari bayangan Bumi, di mana cahaya Matahari benar-benar terhalang. Selama fase ini, Bulan tidak sepenuhnya hilang, melainkan sering kali tampak berwarna kemerahan atau oranye. Ini karena sedikit cahaya Matahari masih bisa melewati atmosfer Bumi dan dibiaskan, menyinari Bulan.

 * Gerhana Bulan Sebagian (Parsial):

Terjadi ketika hanya sebagian dari Bulan yang masuk ke dalam bayangan umbra Bumi. Bagian Bulan yang berada di luar bayangan umbra akan tetap terang, sementara bagian yang masuk akan meredup atau tampak gelap.

  1. Kenapa Bisa Terjadi Gerhana Bulan?

Gerhana bulan terjadi karena posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus. Meskipun Bulan mengelilingi Bumi setiap bulan, gerhana tidak terjadi setiap bulan karena orbit Bulan miring sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari. Gerhana hanya bisa terjadi saat Bulan Purnama, dan pada saat yang sama, ketiga benda langit ini berada pada titik potong dari dua bidang orbit tersebut, yang dikenal sebagai node.

  1. Fase-Fase Gerhana Bulan

Berikut fase-fase Gerhana Bulan Total yang akan terjadi pada tanggal 7-8 September 2025;

Gerhana Penumbra Mulai: 22.26 WIB

​Gerhana Sebagian Mulai: 23.26 WIB

​Gerhana Total Mulai: 00.30 WIB (dini hari 8 September)

​Puncak Gerhana: 01.11 WIB

​Gerhana Total Berakhir: 01.53 WIB

​Gerhana Sebagian Berakhir: 02.56 WIB

​Gerhana Penumbra Berakhir: 03.56 WIB

  1. Gerhana Dalam Pandangan Islam

Dalam ajaran Islam, Gerhana Bulan (dan juga gerhana matahari) dipandang sebagai tanda dari kebesaran Allah, bukan pertanda kematian, kelahiran, atau peristiwa takhayul lainnya.

Rasulullah SAW bersabda:

BACA JUGA :  Refleksi Hari Santri Nasional: Menghidupkan Tradisi Ilmu dan Khidmah kepada Guru sebagai Kunci Keberkahan

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا وَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka jika kalian melihat gerhana, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Gerhana bulan menjadi pengingat bagi manusia tentang kekuasaan Allah SWT, yang mampu mengatur alam semesta sedemikian rupa. Fenomena ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan bumi tunduk pada kehendak-Nya.

Allah berfirman:

لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِۗ وَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”  (QS. Yasin: 40)

Ayat ini menunjukkan bahwa semua benda langit, termasuk bulan, tunduk pada hukum Allah.

  1. Kesunnahan dalam Islam Saat Gerhana

Dalam ajaran Islam, gerhana bulan dianggap sebagai salah satu tanda kebesaran Allah SWT. Ketika terjadi gerhana, umat Islam disunnahkan untuk melakukan beberapa amalan:

 * Salat Gerhana (Salat Khusuf): Islam menganjurkan untuk melaksanakan shalat gerhana bulan (Shalat Khusuf) saat gerhana terjadi. Shalat ini menunjukkan ketundukan dan kekhusyukan kepada Allah ketika menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Tata cara shalat gerhana:

  • Dilaksanakan secara berjamaah maupun sendiri.
  • Dua rakaat, dengan dua kali ruku’ dalam setiap rakaat.
  • Diiringi dengan khutbah setelahnya, berisi nasihat, dzikir, dan peringatan akan kebesaran Allah SWT.

* Memperbanyak zikir, istighfar, dan takbir: Umat Islam dianjurkan untuk banyak mengingat Allah, memohon ampunan, dan mengagungkan-Nya.

 * Bersedekah: Dianjurkan untuk mengeluarkan sedekah sebagai bentuk ketaatan dan kepedulian.

  1. Hikmah Terjadinya Gerhana Bulan

Hikmah utama dari fenomena gerhana bulan adalah untuk menyadarkan manusia akan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Gerhana bukan hanya sekadar peristiwa alam biasa, tetapi juga pengingat bahwa alam semesta ini bergerak atas kehendak-Nya. Melalui gerhana, kita diajak untuk merenung, meningkatkan iman, dan memperbanyak amal shaleh. Ini adalah momen untuk memperkuat keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Allha SWT Berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi sujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”  (QS. Fussilat: 37)

 Selain itu, fenomena ini menunjukkan betapa teraturnya alam semesta, yang diciptakan dengan perhitungan yang sangat presisi, sehingga menjadi bukti nyata keagungan Sang Pencipta.

Artikulli paraprak“Bukan Sekadar Tradisi: Legitimasi Maulid dalam Perspektif Ibn Hajar dan al-Suyuthi”
Artikulli tjetërHikmah, Berkah, dan Keagungan Kelahiran Nabi Muhammad SAW di Bulan Rabiul Awwal

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini