Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk kecintaan dan pengagungan umat terhadap Rasul terakhir. Para ulama klasik telah banyak menuliskan keutamaan serta hikmah di balik peringatan Maulid. Kisah-kisah tentang berkah Maulid pun terekam dalam karya-karya monumental, seperti I’anah ath-Thalibin karya Al-Imam Sayyid Bakri Syatha’ Ad-Dimyathi rahimahullah.
Artikel ini akan mengulas tiga aspek penting seputar Maulid: (1) kisah seorang pemuda di Bashrah yang dimuliakan Allah karena kecintaannya kepada Maulid, (2) berkah yang menaungi rumah dan tempat yang dibacakan Maulid, serta (3) hikmah di balik hari dan bulan kelahiran Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam.
Kisah Pemuda Bashrah: Dari Aib Menjadi Kemuliaan
Al-Imam Sayyid Bakri Syatha’ Ad-Dimyathi rahimahullah dalam kitab I’anah-nya mengkisahkan sebuah hikayat akan seorang pemuda yang gemar memuliakan peringatan Maulid Nabi Muhammad shollallahu alaihi wa sallam
( وَحُكِيَ ) أَنَّهُ كَانَ فِيْ زَمَانِ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ هَارُوْنَ الرَّشِيْدِ شَابٌّ فِي الْبَصْرَةِ مُسْرِفٌ عَلَى نَفْسِهِ وَكَانَ أَهْلُ الْبَلَدِ يَنْظُرُوْنَ إِلَيْهِ بِعَيْنِ التَّحْقِيْرِ لِأَجْلِ أَفْعَالِهِ الْخَبِيْثَةِ غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَدِمَ شَهْرُ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ غَسَلَ ثِيَابَهُ وَتَعَطَّرَ وَتَجَمَّلَ وَعَمِلَ وَلِيْمَةً وَاسْتَقْرَأَ فِيْهَا مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَامَ عَلَى هَذَا الْحَالِ زَمَانًا طَوِيْلًا ثُمَّ لَمَّا مَاتَ سَمِعَ أَهْلُ الْبَلَدِ هَاتِفًا يَقُوْلُ اُحْضُرُوْا يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ وَاشْهَدُوْا جَنَازَةَ وَلِيٍّ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ فَإِنَّهُ عَزِيْزٌ عِنْدِيْ فَحَضَرَ أَهْلُ الْبَلَدِ جَنَازَتَهُ وَدَفَنُوْهُ فَرَأَوْهُ فِي الْمَنَامِ وَهُوَ يَرْفُلُ فِيْ حُلَلِ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ فَقِيْلَ لَهُ بِمَ نِلْتَ هَذِهِ الْفَضِيْلَةَ قَالَ بِتَعْظِيْمِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Pada masa kekuasaan Amirul Mukminin Harun ar-Rasyid, ada seorang pemuda di Bashrah yang terkenal dengan perilaku buruk. Penduduk setempat memandangnya rendah karena berbagai keburukannya. Namun, setiap kali memasuki bulan Rabi’ul Awwal, pemuda itu berubah: ia membersihkan pakaian, memakai wewangian, berhias diri, mengadakan jamuan, dan meminta agar dibacakan Maulid Nabi Muhammad ﷺ.
Ia melestarikan amalan ini hingga wafat.
Kemudian ketika kematian menjemput anak muda tersebut, penduduk kota Bashrah mendengar suara ghaib, berkata:
“Wahai penduduk Bashrah, hadirilah dan saksikanlah jenazah wali diantara wali-wali Allah swt, karena dia menurutku adalah orang yang mulia”.
Maka penduduk kota Bashrah pun menghadiri jenazahnya dan menguburnya dengan baik. Kemudian mereka bermimpi bertemu dengan anak muda tersebut, dia berada di dalam kenikmatan besar, dia berpakaian sutera.
Kemudian dia ditanyai “Dengan sebab apa engkau mendapat kehormatan ini semua?” dia menjawab, “Berkat mengagungkan kelahiran baginda Nabi Muhammad shollallahu alaihi wa sallam. (I’anah ath-Thalibin, 3/365)
Berkah Membaca Maulid: Rumah yang Selalu Sejuk
Imam Jalaluddin As-Suyuthi, salah satu ulama besar abad ke-9 H, menegaskan dalam Al-Wasâ’il fî Syarh as-Syamâ’il:


