قَالَ سُلْطَانُ الْعَارِفِيْنَ الْإِمَامُ جَلَالُ الدِّيْنَ السُّيُوْطِيُّ قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ وَنَوَّرَ ضَرِيْحَهُ فِي كِتَابِهِ الْمُسَمَّى بِالْوَسَائِلِ فِي شَرْحِ الشَّمَائِلِ: مَامِنْ بَيْتٍ أَوْ مَسْجِدٍ أَوْ مَحَلَّةٍ قُرِئَ فِيْهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِلَّا حَفَّتِ الْمَلَائِكَةُ ذَلِكَ الْبَيْتَ أَوِ الْمَسْجِدَ أَوِ الْمَحَلَّةَ وَصَلَّتِ الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَهْلِ ذَلِكَ الْمَكَانِ وَعَمَّهُمُ اللهُ تَعَالَى بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ
“Tidak ada suatu rumah atau masjid atau tempat yang dibacakan maulid Nabi shollallahu alaihi wa sallam melainkan akan dikelilingi oleh malaikat. Dan Allah melimpahkan rahmat dan keredhaan-Nya pada penghuninya. (I’anah At-Thalibin, 3/365).
Hikmah Hari dan Bulan Kelahiran Rasulullah
Pertanyaan yang sering muncul: mengapa Rasulullah ﷺ lahir pada hari Senin bulan Rabi’ul Awwal, bukan pada bulan Ramadan atau di malam Lailatul Qadr, atau pada hari-hari mulia lain seperti Jumat?
(فائدة) قال ابن الحاج: فإن قيل ما الحكمة في كونه عليه الصلاة والسلام خص مولده الكريم بشهر ربيع الأول ويوم الاثنين ولم يكن في شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن وفيه ليلة القدر ولا في الأشهر الحرم ولا في ليلة النصف من شعبان ولا في يوم الجمعة وليلتها.
Jika ditanyakan: Apa hikmah Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam lahir pada bulan Rabiul Awal dan pada hari senin? Kenapa tidak dilahirkan pada bulan Ramadhan, bulan diturunkannya al-Quran, bulan yang terdapat lailatu al-qadr. Kenapa juga tidak dilahirkan pada bulan-bulan mulia lainnya, atau di malam nishfu sya’ban, hari jumat atau malam jumat?
فالجواب من أربعة أوجه:
الأول ما ورد في الحديث من أن الله خلق الشجر يوم الاثنين وفي ذلك تنبيه عظيم وهو عن خلق الأقوات والأرزاق والفواكه والخيرات التي يمتد به بنو آدم ويحيون وتطيب بها نفوسهم.
Imam Ibnul Hajj menjelaskan empat hikmah di balik ketetapan ini:
- Hari Senin sebagai simbol kehidupan.
Dalam sebuah hadits, hari Senin disebut sebagai hari penciptaan pepohonan. Hal ini mengisyaratkan bahwa kelahiran Nabi shollallahu alaihi wa sallam berhubungan dengan sumber kehidupan, rezeki, dan kebahagiaan umat manusia.
الثاني أن في لفظة ربيع إشارة وتفاؤلا حسنا بالنسبة إلى اشتقاقه وقد قال أبو عبد الرحمن الصقلي لكل إنسان من اسمه نصيب.
- Makna dari kata Robi’ (musim semi)
Kata robi’ artinya musim semi. (Jika ada yang mengatakan apalah arti sebuah nama, bagi saya itu tidak sepenuhnya benar). Nama tentu sebuah nama dapat memberi pengaruh, sebagaimana bulan robi’ yang artinya bersemi (dan nama Muhammad yang artinya banyak dipuji).
الثالث أن فصل الربيع أعدل الفصول وأحسنها وشريعته أعدل الشرائع وأسمحها.
- Kesempurnaan syariat seperti musim semi
Robi’ atau Musim semi adalah musim yang paling baik dan stabil, tidak terlalu panas dan dingin. Sebagaimana syariat Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam yang bersifat moderat, tidak radikal dan tidak ekstrem kanan atau ke kiri.
الرابع أن الحكيم سبحانه أراد أن يشرف به الزمان الذي ولد فيه فلو ولد في الأوقات المتقدم ذكرها لكان قد يتوهم أنه يتشرف بها.
- Memuliakan waktu karena Nabi, bukan sebaliknya
Allah hendak menjadikan mulia waktu kelahiran Nabi dengan lahirnya beliau Nabi, jika nabi dilahirkan di hari-hari mulia yang telah disebutkan bisa disalahpahami bahwa nabi menjadi mulia karena lahir di hari dan bulan mulia. Kenyataannya justru karena kemuliaan Rasulullah, hari dan bulan lahir beliau menjadi hari dan bulan yang mulia. (Husnu al-Maqshod fi amali al-Maulid li as-Suyuthi, 132).
Kisah pemuda Bashrah, pernyataan Imam As-Suyuthi, dan hikmah kelahiran Nabi Muhammad shollallahu alaihi wa sallam yang diuraikan Ibnul Hajj menunjukkan betapa agungnya Maulid. Menghidupkan tradisi Maulid berarti meneguhkan cinta kepada Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam, mengharap rahmat Allah, serta mengambil pelajaran dari hikmah kelahiran beliau.
Peringatan Maulid bukan hanya nostalgia sejarah, melainkan momentum spiritual yang menghidupkan hati, menyejukkan rumah, serta menumbuhkan harapan akan syafaat Nabi Muhammad ﷺ di hari akhir.
Wallahu a’lamu bi ash-showab


