Lalu, jika memang hal tersebut tidak diperbolehkan, Bagaimana hukum pemerintah melakukan penggalian dengan tujuan di atas?
Jawabannya tentu saja hukum pemerintah melakukan hal tersebut adalah tidak diperbolehkan karena termasuk mengurusi milik pribadi orang lain tanpa adanya mashlahat, justru kasus ini malah menimbulkan mafsadah seperti pada penjelasan sebelumnya.
Lantas, bagaimana hukum bagi seorang Muslim mengunjungi situs percandian tersebut untuk kepentingan sejarah, pendidikan, penelitian, atau pariwisata, serta apa saja batasan-batasan syariat yang harus diperhatikan agar tidak menimbulkan pelanggaran akidah?
Hukum kebolehan masuk ke tempat ibadah non-Muslim diikat ketat oleh syarat tidak adanya dampak buruk (mafsadah). Seorang Muslim diharamkan masuk apabila kehadirannya dapat memperbanyak atau meramaikan barisan/kerumunan mereka, menonjolkan syiar agama non-Muslim, menimbulkan pemahaman keliru di tengah masyarakat seolah-olah membenarkan peribadatan mereka, ataupun bertujuan untuk mengagungkan tempat ibadah tersebut.
Referensi:
Mendambakan peninggalan orang kafir termasuk pekerjaan orang-orang kafir terdahulu
- تفسير الجلالين (ص: 519 )
}قال الذين يريدون الحياة الدنيا ياَ{ للِتَّنبِْيهِ } لَيتَْ لَنَا مِثلْ مَا أوُتَِِ قَارُون { فِي الدُّنْياَ } إنهَُّ لَذُو حَظّ { نصَِيب }عَظِيم{ وَافٍ فِيهَا
Berdasarkan penjelasan tafsir di atas, sikap silau dan berangan-angan ingin memiliki kemewahan duniawi milik Karun—seorang penentang ajaran Allah—merupakan cerminan dari tabi’at orang-orang terdahulu yang berpikiran sempit dan hanya mengagungkan materi. Sikap ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam agar tidak tergiur oleh gemerlap kekayaan material orang-orang yang ingkar. Dengan demikian, mendambakan serta mengagumi peninggalan atau kemewahan orang kafir pada hakikatnya merupakan bentuk perilaku dan pekerjaan orang-orang kafir terdahulu.
Syarat kebolehan memasuki peribadatan orang kafir
- المواهب المدنية بهامش الترمسي (2/398-399)
(قوله الكنيســة) قال في التحفة بفتح الكاف متعبد اليهود وقيل النصــارى والبيعة بكسرــ الباء متعبد النصـارى وقيل اليهود انتهى قال في شرح العباب إن دخلها بإذنهم وإلا حرمت صـلاته فيها لأن لهم منعنـا من دخولهـا إن كانوا يقرونـان عليهـا وإلا فلا قـال ابن العمـاد ككنـافس مصرــ وفي إطلاقـه نظر قـال يحرم دخولهـا إن كان فيهـا تصــاوير ولا يقـدر على إزالتهـا انتهى وصرح غيره بحـل دخولها وإن كان فيها صـور ويمكن حمله على صـور غير مرفوعة معظمة أو صـور منصوبة بغير محل الجلوس قال وشرط الحل أيضـا أن لا تحصـل مفسـدة من تكثير سـوادهم وإظهار شـعارهم وإيهام صــحـة عبـادتهم وتعظيم متعبـداتهم وهو ظـاهر انت هى كلام شرح العبـاب بحروفـه وذكر نحوه في الإمداد مختصرا وفي النهاية يمتنع علينا دخولها عند منعهم لنا منه وكذا إن كان فيها صورة معظمة كما سيأتى.
Ibarot tersebut menjelaskan bahwa Kebolehan seorang Muslim mendatangi tempat ibadah non-Muslim bergantung penuh pada ketiadaan mafsadah. Apabila kedatangannya justru meramaikan kerumunan mereka, mengeksiskannya syiar keagamaan non-Muslim, menciptakan prasangka publik seolah membenarkan ritual mereka, atau dimaksudkan untuk memuliakan bangunan tersebut, maka tindakan itu diharamkan.


