Mengurusi milik pribadi harus berdasar mashlahat
- الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي(6/4581)
وكذلك يحق للدولة التدخل في الملكيات الخاصـة المشرـوعة لتحقيق العدل والمصـلحة العامة، سـواء في أصـل حق الملكية، أو في منع المباح وتملك المباحات قبل الإسـلام وبعده إذا أدى اسـتعماله إلى ضرر عام، كما يتضــح من مســاوئ الملكية الإقطاعية، ومن هنا يحق لولي الأمر العادل أن يفرض قيوداً على الملكيـة في بـدايـة إنشــائهـا في حـال إحيـاء الموات، فيحـددهـا بمقـدار معين، أو ينتزعهـا من أصحابها مع دفع تعويض عادل عنها إذا كان ذلك في سبيل المصلحة العامة للمسلمين.
Ibarat dari kitab Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuh tersebut menegaskan bahwa keterlibatan negara dalam mengurusi milik pribadi harus berdasar mashlahat umum dan penegakan keadilan. Walaupun hak milik individu diakui oleh syariat, pemerintah yang adil memiliki wewenang untuk memberi batasan, melarang penggunaan yang merugikan publik (dharar ‘am), hingga mencabut hak milik tersebut dengan memberikan ganti rugi yang layak. Dengan demikian, segala bentuk regulasi dan tindakan intervensi pemerintah terhadap kepemilikan individu tidak boleh dilakukan secara sewenang-wenang, melainkan sepenuhnya wajib berorientasi pada kemaslahatan kaum Muslimin.
Tidak boleh menggagu hak pribadi
- أسنى المطالب في شرح روض الطالب(2/ 38)
(ويحرم التسعير) بأن يأمر الوالي السوقة أن لا يبيعوا أمتعتهم إلا بسعر كذا (ولو في) وقت (الغلاء )للتضـييق على الناس في أموالهم ولأن «السـعر غلا على عهده – صـلى الله عليه وسـلم – فقالوا يا رسـول الله سـعر لنا فقال إن الله هو المسـعر القابض الباسـط الرزاق وإني لأرجو أن ألقى ربي وليس أحد منكم يطلبني بمظلمة بدم ولا مال» رواه الترمذي وصـححه وقضـية كلامه كالأصـل إن ذلك لا يختص بـالأطعمـة وعلف الدواب وهو ظـاهر (فلو ســعر الإمـام عزر مخـالفـه) الذي بـاع بـأزيـد ممـا سعر لما فيه من مجاهرة الإمام بالمخالفة
Ibarat dari kitab Asnal Mathalib tersebut menegaskan prinsip utama bahwa pemerintah tidak boleh mengganggu hak pribadi masyarakat dalam mengelola dan menentukan harga atas barang dagangannya. Keharaman penetapan harga (tas’ir) oleh penguasa—sekalipun pada kondisi paceklik—didasarkan pada prinsip perlindungan hak milik, karena tindakan tersebut tergolong penyempitan hak individu dan bentuk kedzaliman atas harta orang lain sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi SAW. Dengan demikian, negara wajib menghormati kebebasan hak privat pemilik harta dan hanya dapat memberikan tindakan disiplin (ta’zir) manakala terjadi pelanggaran atas ketertiban umum.
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran kitab-kitab turas, musyawarah ini menegaskan bahwa pelestarian, penggalian oleh pemerintah, maupun pembukaan kawasan percandian sebagai objek wisata hukumnya haram dan tidak diperbolehkan. Langkah ini memicu berbagai mafsadah nyata, seperti menampakkan syiar non-Muslim, memicu kesalahpahaman akidah, membuka pintu kesyirikan, serta memicu pengagungan atas peninggalan orang kafir. Tindakan pemerintah mengintervensi lahan pribadi warga demi ekskavasi ini juga melanggar prinsip perlindungan hak privat (himayatul milkiyyah), sebab setiap kebijakan penguasa (tasharruful imam) wajib berlandaskan kemaslahatan publik (manuthun bil mashlahah), bukan mafsadah.
Di samping itu, hukum membuat, menyimpan, merenovasi, maupun melestarikan patung dan arca tetap haram secara mutlak dan berlaku sepanjang zaman dengan alasan meniru ciptaan Allah (at-tasyabbuh bi khalqillah), sebagaimana penegasan jumhur ulama yang menolak pandangan temporer (bathil qath’an). Umat Islam juga diharamkan mengunjungi situs tersebut apabila tujuannya untuk mengagungkan lokasi, meramaikan kerumunan (taktsiru sawadihim), atau menonjolkan syiar agama lain yang merusak kemurnian akidah.


