Karangmangu, Sarang – Dalam rangka memperingati HSN (Hari Santri Nasional) Pondok Pesantren Al-Anwar 1 Sarang mengadakan acara Istighotsah Dan Mau’idzoh yang diadakan pada Malam Kamis 1 Jumadil Ula 1447 H./ 22 Oktober 2025 M. Acara dimulai sekitar pukul 20.00 WIS bertempat di bagian selatan Musholla Pondok Pesantren Al-Anwar 1 (Musholla K. Zubair Dahlan).
Acara tersebut di hadiri oleh Syakhina KH. Muhammad Najih MZ, KH. Abdurro’uf MZ, Dewan Assatidz, Dewan Pengurus dan Seluruh santri yang sangat semangat untuk ikut menyemarakkan peringatan Hari Santri Nasional.
Acara ini merupakan bentuk do’a untuk bangsa indonesia dan pondok-pondok salaf khususnya, serta sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap kontribusi ulama dan santri dalam sejarah kemerdekaan, sekaligus pengingat akan peran mereka dalam mengisi dan menjaga kemerdekaan dengan ilmu, akhlak, dan semangat pengabdian. Santri sebagai penerus sejarah dan pemegang estafet masa depan bangsa diharapkan dapat mengawal bangsa ini dengan akhlak dan ilmu dan membawa bangsa ini menuju peradaban yang berkeadilan, berkeadaban, dan berperikemanusiaan.
RANGKAIAN ACARA
Sebelum acara HSN dimulai, Hadroh Ma’had Al-Anwar (HMA) terlebih dahulu mengisi dengan pembacaan lantunan sholawat Nabi. Wasilah fatihah mengawali pembukaaan acara. Dilanjutkan dengan Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an oleh sdr. Ahmad Farid Fahruddin, kemudian dilanjutkan dengan Istighotsah bersama yang dipimpin oleh Ust. Ahmad Dawam Affandi. Lalu dilanjutkan dengan menyayikan lagu Indonesia Raya, Ya lalwathon karya K.H Abdul Wahab Chasbullah, Sholawat Badariyyah dan Qosidah Syahiroh (Ya Arhamarrohimin). Kemudian dilanjutkan acara puncak yaitu Mauidhoh Hasanah dan Doa oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar 1, Syaikhina KH. Muhammad Najih Maimoen.
Mau’idzoh Hasanah & Do’a
Pada kesempatan ini, Syaikhina KH. Muhammad Najih Maimoen kembali menyampaikan bahwa hakikat Hari Santri sebenarnya jatuh pada tanggal 10 November, karena pada tanggal tersebut para santri turut berjuang dan berperan besar dalam memerangi penjajah.
Adapun tanggal 22 Oktober sejatinya merupakan Hari Ulama dan Kiai, yakni Hari Revolusi Jihad, yang menjadi tonggak lahirnya semangat perjuangan kaum santri.
Beliau juga menuturkan kisah perjuangan para santri dalam menghadapi penjajah, serta menyampaikan dawuh Mbah Moen, bahwa “Hari Santri bukan sekadar peringatan peringatan biasa. Di dalamnya terkandung makna yang sangat besar, karena Hari Santri mengingatkan kita pada fatwa ulama besar kita, KH. Hasyim Asy‘ari, tentang jihad membela tanah air.”
Berkat keberanian fatwa KH. Hasyim Asy‘ari, serta semangat mujāhidīn dan imtitsāl (ketaatan) para santri terhadap dawuh beliau, sekutu penjajah akhirnya berhasil diusir dari bumi Indonesia.
Di akhir pesannya, beliau menekankan pentingnya bagi para santri untuk senantiasa menjaga jati diri kesantriannya (ma ziltu tholiban), dengan terus meneladani dan mengikuti tharīqat al-salaf, yaitu jalan dan ajaran para ulama terdahulu.





