Sumpah Pemuda: Warisan Kesatuan dan Cinta Tanah Air
Tanggal 28 Oktober 1928 adalah momentum sejarah yang agung. Saat itu, para pemuda dari berbagai suku dan daerah mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.
Mereka rela menghapus sekat kesukuan demi persatuan. Bahkan, para pemuda saat itu rela mengesampingkan bahasa daerahnya masing-masing dan menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Semua itu demi Indonesia yang satu.
Allah Swt. telah menegaskan dalam Al-Qur’an agar umat Islam senantiasa menjaga persatuan:
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 105)
Inilah pesan yang sejalan dengan semboyan yang diwariskan para santri dan pahlawan: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”
Pemuda Adalah Jiwa Bangsa
Pemuda bukan sekadar usia muda, tetapi semangat yang menyala dan keyakinan yang kokoh. Imam Syarafuddin Yahya al-‘Imrithi pernah menulis nadzom dengan sangat indah:
إذ الفتى حسب اعتقاده رفع # وكل من لم يعتقد لم ينتفع
“Derajat seorang pemuda diukur dari keyakinannya, dan siapa pun yang tidak memiliki keyakinan, maka ia tidak akan mendapatkan manfaat.”
Keyakinan dan cita-cita besar adalah bahan bakar perjuangan. Karena itu, pemuda sejati bukan sekadar kuat fisiknya, tapi teguh imannya dan tajam ilmunya.
Seperti pesan hikmah dari para ulama salaf:
حَيَاةُ الْفَتَى وَاللهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى # إِذَا لَمْ يَكُوْنَا لَا اعْتِبَارَ لِذَاتـِهِ
“Hidupnya seorang pemuda –demi Allah– ditentukan oleh ilmu dan takwa. Jika keduanya tak ada, maka tak ada lagi harga dirinya.”
Pemuda yang hidup tanpa ilmu dan takwa hanyalah tubuh tanpa ruh. Tetapi pemuda yang berilmu dan bertakwa, walau sederhana hidupnya, ia akan menjadi penerang bagi bangsanya.
Dalam sebuah syair disebutkan:
لَيسَ الفَتَى مَنْ يَقولُ كَانَ أَبِي # وَلٰكِنَّ الفتى مَن يقول هَا أَنَا ذَا
“Bukanlah pemuda sejati yang hanya berkata ‘Inilah ayahku (membanggakan leluhurnya)’, tetapi pemuda sejati adalah yang berkata ‘Inilah aku, inilah karyaku.”
Sumpah Pemuda bukan hanya seruan persatuan, tapi juga panggilan untuk berkarya dan berakhlak.
Pemuda yang baik adalah yang menjunjung tinggi akhlāqul karīmah dan memiliki visi besar untuk membangun bangsanya.
Sebagaimana pepatah Arab berkata:
شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِّ
“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.”
Keteladanan dari Abdullāh bin az-Zubayr; Jiwa Kepemimpinan Sejak Kecil
Dalam sejarah Islam, banyak pemuda yang menunjukkan jiwa kepemimpinan sejak kecil.
Di antaranya kisah ‘Abdullāh bin az-Zubayr, yang sejak kecil sudah menunjukkan ketegasan dan keberanian.
Disebutkan dalam atsar yang diriwayatkan oleh para ahli sejarah:
عن محمد بن الضحاك أن عبد الملك بن مروان قال لرأس جالوت أو لابن رأس جالوت:
“ما عندكم من الفِراسة في الصبيان؟
قال: «ما عندنا فيهم شيء، لأنهم يُخلقون خلقًا بعد خلق، غير أنا نرمقهم، فإن سمعنا منهم من يقول في لعبه: من يكون معي؟ رأيناه ذا همة وحُنُوٍّ صَدَقَ فيه، وإن سمعناه يقول: مع من أكون؟ كرهناها منه.
Mereka berkata, “Anak yang berkata ‘Siapa yang mau bersamaku?’ adalah anak yang memiliki jiwa kepemimpinan. Sedangkan yang berkata ‘Dengan siapa aku akan bergabung?’ menunjukkan kelemahan dan ketergantungan.”
Demikian pula ketika ‘Umar bin al-Khaṭṭāb melewati Ibn az-Zubayr kecil yang sedang bermain dengan anak-anak lain. Ketika mereka melihat Umar datang, anak-anak itu berlarian ketakutan. Namun Abdullah bin az-Zubair tetap berdiri tegak di tempatnya.
وَمَرَّ بِهِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رضي الله عنه وَهُوَ صَبِيٌّ يَلْعَبُ مَعَ الصِّبْيَانِ، فَفَرُّوا، وَوَقَفَ.
فَقَالَ لَهُ: «مَا لَكَ لَمْ تَفِرَّ مَعَ أَصْحَابِكَ؟»
Umar pun bertanya kepadanya:
“Mengapa engkau tidak lari seperti teman-temanmu?”
قَالَ: «يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ! لَمْ أُجْرِمْ فَأَخَافَ، وَلَمْ تَكُنِ الطَّرِيقُ ضَيِّقَةً فَأُوَسِّعَ لَكَ»
Ia menjawab,
“Wahai Amīr al-Mu’minīn! Aku tidak bersalah, maka aku tidak perlu takut. Dan jalan ini tidak sempit, maka aku tidak perlu menyingkir.”
فكان أولُ ما عُلِم من ابن الزبير أنه كان ذات يوم يلعب مع الصبيان، وهو صبيٌّ، فمرَّ رجل فصاح عليهم، ففروا، ومشى ابن الزبير القهقرى، وقال: “يا صبيان اجعلوني أميركَم، وشُدُّوا بنا عليه.”
Kemudian disebutkan bahwa awal tanda-tanda keistimewaan yang tampak pada Ibn al-Zubair (Abdullah bin al-Zubair) adalah ketika ia masih kecil, sedang bermain dengan anak-anak.
Tiba-tiba ada seorang lelaki lewat dan berteriak kepada mereka, maka anak-anak pun lari ketakutan.
Namun Ibn al-Zubair tidak lari, melainkan berjalan mundur (mengatur posisi dengan tenang) sambil berkata:
“Wahai anak-anak! Jadikan aku pemimpin kalian, dan mari kita hadapi dia bersama-sama!”
Inilah jiwa pemimpin sejati sejak belia—berani, berprinsip, dan berakhlak.
Semangat Ilmu dan Keteguhan Jiwa: Teladan dari Ibnu Jarir ath-Thabari
Keteguhan hati dan semangat pantang menyerah juga tergambar dalam kisah Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, seorang ulama besar yang menulis Tafsir at-Thabari.
Ketika Ibnu Jarir at-Thabari memutuskan untuk menafsirkan Al-Qur’an, ia mengumpulkan murid-murid dan para sahabatnya, lalu berkata,
أتنشطون لتفسير القرآن؟
“Apakah kalian bersemangat untuk menemaniku dalam menafsirkan Al-Qur’an?”
قالوا: كم يكون قدره؟ فقال: ثلاثون ألف ورقة.
Mereka pun bertanya, “Berapa banyak jumlahnya?” Imam ath-Thabari menjawab, “Tiga puluh ribu lembar.”
Mereka mundur dan berkata,
هذا مما تفنى الأعمار قبل تمامه
“Ini adalah sesuatu yang tak akan selesai dalam usia kita.”
Maka, Imam ath-Thabari memulainya sendiri hingga berhasil meringkasnya menjadi tiga ribu lembar, yang memakan waktu tujuh tahun, yang hari ini kita kenal sebagai Tafsīr ath-Thabarī (Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān) — yang dicetak dalam 30 jilid besar.
Kemudian Imam Ibn Jarir ath-Thabari mencoba kembali (mengajak murid-muridnya untuk berkarya). Beliau berkata:
هل تنشطون لتاريخ العالم من آدم إلى وقتنا هذا؟
“Apakah kalian bersemangat untuk menulis sejarah dunia, sejak Nabi Adam diturunkan ke bumi hingga masa kita ini?
Mereka bertanya:
قالوا: كم قدره؟
“Berapa banyak (halamannya)?”
Beliau menjawab:
فذكر نحوا مما ذكره في التفسير
“Kurang lebih sebagaimana tafsirku — sekitar tiga puluh ribu lembar.”
Namun mereka menjawab seperti sebelumnya (bahwa umur akan habis sebelum selesai).
Maka beliau berkata:
إنا لله ماتت الهمم.
“Innā lillāh! Telah mati semangat (himmah) manusia!”
Akhirnya beliau menulis karya tersebut dalam ukuran yang sama dengan tafsirnya, dan itulah karya besar yang dikenal hingga kini dengan nama Tārīkh ath-Thabarī (Sejarah Ibn Jarir ath-Thabari).
Dari kisah ini, santri dan pemuda Indonesia bisa belajar: Tubuh boleh lelah, tetapi semangat tak boleh padam.
Penutup:
Mari kita jaga semangat Sumpah Pemuda dengan tiga pilar utama:
- Ilmu dan Takwa – fondasi kemuliaan.
- Persatuan dan Akhlak – ruh perjuangan.
- Semangat dan Karya – wujud cinta tanah air.
Semoga akan lahir dari rahim pesantren generasi hebat yang menjadi pemimpin masa depan — bukan pemimpin yang menghabiskan uang rakyat, tetapi pemimpin yang mengabdikan hidupnya untuk agama, bangsa, dan kemanusiaan.
اللهم اجعل هذا البلد آمناً مطمئناً، وسائر بلاد المسلمين.
“Ya Allah, jadikanlah negeri ini aman dan tenteram, serta seluruh negeri kaum muslimin.”
Semangat Hari Sumpah Pemuda!
Sumber:
Al-Khathīb al-Baghdādī (w. 463 H). Tārīkh Baghdād, Juz 2, hlm. 548.
Ibn Katsīr (w. 774 H). Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, Juz 14, hlm. 742.
Asy-Sya‘rāwī (w. 1418 H). Tafsīr asy-Sya‘rāwī, Juz 2, hlm. 858.
Ibn Manzhūr (w. 711 H). Mukhtashar Tārīkh Dimasyq, Juz 12, hlm. 174.


