Dalam lintasan sejarah Islam, ilmu tidak pernah berdiri sendiri tanpa adab dan khidmah. Sebab adab adalah jalan untuk dapat mengambil manfaat dari ilmu, ia adalah sumber keberkahannya, fondasinya, alas dan tempat bersemayamnya, jalan untuk menjaganya, dan tanah subur tempat ilmu tumbuh dan berkembang. Karena itu, mendahulukan adab sebelum ilmu merupakan suatu keharusan.

Imam Mālik bin Anas pernah berkata kepada seorang pemuda dari Quraisy:

يا ابن أخي، تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” (Hilyat al-Awliyā’, 6/330)

Di pesantren, ilmu bukan sekadar pengetahuan yang dibaca dan dihafal, tetapi cahaya yang menuntun hati menuju Allah. Maka tak heran bila para ulama salaf senantiasa mengingatkan bahwa keberkahan ilmu tidak akan diraih hanya dengan kecerdasan akal, melainkan dengan kerendahan hati dan pengabdian kepada guru.

Dawuh Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani menjadi kunci untuk memahami hakikat ini:

ثبات العلم بالمذاكرة، وبركته بالخدمة، ونفعه برضا الشيخ.

“Melekatnya ilmu diperoleh dengan banyak bermuthala‘ah (mengulang dan mendalami), keberkahannya diperoleh dengan berkhidmah, dan manfaatnya diperoleh dengan ridha guru.”

Ungkapan ini seakan menegaskan bahwa ilmu itu tidak hanya berhenti di kepala, tetapi bersemi dalam jiwa. Ia baru benar-benar hidup ketika tumbuh bersama adab dan pelayanan kepada guru. Sebab itu, khidmah bukan sekadar bentuk penghormatan, melainkan sarana spiritual untuk membuka pintu-pintu keberkahan.

Ilmu, Khidmah, dan Jalan Menuju Keberkahan

Imam Syafi‘i rahimahullah pernah menegaskan dalam salah satu atsar yang diriwayatkan darinya:

وروينا عن الشافعي رضي الله تعالى عنه أنه قال: طلب العلم أفضل من صلاة النافلة

“Diriwayatkan dari Imam al-Syāfi‘ī raḥimahullāh bahwa beliau berkata: “Menuntut ilmu itu lebih utama daripada shalat sunah (nāfilah).” (Madārij al-Sālikīn (2/469–470)

Ini menunjukkan betapa tinggi nilai ilmu dalam pandangan Islam — tetapi nilai itu hanya akan sempurna jika diiringi dengan ikhlas dan adab. Maka tak heran jika para salaf menilai khidmah kepada guru sebagai bentuk pengamalan ilmu yang paling nyata.

Dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy‘ari menulis:

ينبغي للطالب أن يخدم شيخه خدمة تامة، فإن ذلك من الآداب التي تفتح أبواب البركة في العلم.

“Hendaknya seorang murid melayani gurunya dengan sebaik-baiknya, karena khidmah itu bagian dari adab yang akan membuka pintu keberkahan ilmu.”

Keterangan ini menunjukkan bahwa keberkahan ilmu tidak datang secara otomatis. Ia memerlukan pengorbanan, kesungguhan, dan kerendahan hati di hadapan guru. Banyak santri besar yang kemudian menjadi ulama besar, lahir dari tradisi khidmah — dari menyapu halaman guru, menyiapkan air wudhu, hingga menjaga rumah sang mursyid dengan ikhlas. Dalam pandangan mereka, khidmah bukan beban, melainkan kehormatan.

Anas bin Malik r.a. pernah berkhidmah kepada Rasulullah Saw. selama sepuluh tahun. Dan Rasulullah Saw. memberikan teladan agung tentang makna khidmah. Ia berkata:

خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ، وَمَا قَالَ لِشَيْءٍ فَعَلْتُهُ لِمَ فَعَلْتَهُ، وَلَا لِشَيْءٍ لَمْ أَفْعَلْهُ أَلَا فَعَلْتَهُ.

“Aku telah melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah berkata kepadaku ‘ah’ sekalipun, tidak pernah berkata terhadap sesuatu yang aku lakukan ‘Mengapa engkau lakukan itu?’, dan tidak pernah berkata terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan, ‘Mengapa engkau tidak lakukan itu?” (HR. Muslim).

Kisah ini bukan hanya menggambarkan kelembutan Rasulullah Saw, tetapi juga menunjukkan bahwa khidmah adalah sarana pendidikan jiwa. Ia menumbuhkan kesabaran, ketulusan, dan kedewasaan spiritual. Dari khidmah lahirlah adab, dan dari adab terpancarlah keberkahan ilmu.

Inilah rahasia pesantren: tempat di mana khidmah menjadi jalan menuju hikmah. Santri tidak hanya belajar dari kitab, tetapi juga dari keringat yang jatuh ketika membersihkan kamar mandi pesantren, ndalem Kyai, dari rasa sabar saat menunggu wejangan, dari kerendahan hati ketika mencium tangan Kyai.

BACA JUGA :  Antara Menikah Dan Mencari Ilmu

Khidmah Sebagai Jalan Futuh dan Nur

Al-Imam Ali bin Hasan al-Aththas dalam al-Manhaj as-Sawiy menjelaskan hubungan yang dalam antara khidmah dan futuh (pembukaan ilham):

إن المحصول من العلم والفتح والنور على قدر الأدب مع الشيخ، وعلى قدر ما يكون كبر مقداره عندك يكون لك ذلك المقدار عند الله من غير شك.

“Perolehan ilmu, futuh, dan cahaya (yakni terbukanya hijab batin) tergantung pada kadar adabmu kepada gurumu. Semakin besar kedudukan gurumu di hatimu, semakin besar pula kedudukanmu di sisi Allah tanpa ragu.” (al-Manhaj as-Sawiy : 217)

Maka, siapa yang menghormati gurunya, sejatinya sedang menghormati ilmu itu sendiri. Sebaliknya, siapa yang meremehkan gurunya, akan kehilangan keberkahan walaupun banyak hafalannya. Imam al-Ghazali berkata:

العلم بلا عمل جنون، والعمل بلا علم لا يكون.

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu tidak mungkin terjadi.”

Dalam konteks ini, khidmah adalah amal yang menjadi bukti nyata dari pencarian ilmu yang sejati. Ia menghidupkan ilmu di dalam perilaku dan menyalakan cahaya hikmah dalam diri murid.

Al Imam an Nawawi juga pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya:

عقوق الوالدين تمحوه التوبة وعقوق الاستاذين لا يمحوه شيء البتة

“Durhaka kepada kedua orang tua dapat dihapus dengan tobat, tetapi durhaka kepada guru tidak akan terhapus sama sekali.” (Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât (2/243)

Oleh karena itu, Sayyidina Ali berkata:

أنا عبدُ مَنْ علمني حرفًا واحدًا، إن شاء باع، وإن شاء استرق

“Aku adalah hamba bagi orang yang mengajariku satu huruf saja. Jika ia mau, ia boleh menjualku; dan jika ia mau, ia boleh mengekalkanku sebagai hambanya.”

Ungkapan ini, beserta ucapan-ucapan para ulama lainnya, semuanya menegaskan bahwa adab terhadap guru merupakan pintu keberhasilan dalam menuntut ilmu. Sebaliknya, hilangnya adab berarti hilangnya keberkahan ilmu.

Menghidupkan Warisan Ulama dan Spirit Hari Santri

Tradisi khidmah kepada guru bukan sekadar romantisme pesantren, tetapi warisan profetik yang menghidupkan ruh keilmuan. Dalam Ta‘lim al-Muta‘allim disebutkan:

أُقَدِّمُ أُسْتَاذِي عَلَى نَفْسِ وَالِدِي، وَإِنْ نَالَنِي مِنْ وَالِدِي الْفَضْلُ وَالشَّرَفُ

فَذَاكَ مُرَبِّي الرُّوحِ وَالرُّوحُ جَوْهَرٌ، وَهَذَا مُرَبِّي الجِسْمِ وَالجِسْمُ كَالصَّدَفِ.

“Aku lebih mengutamakan guruku daripada ayahku. Ayahku mendidikku dengan jasad, sedangkan guruku mendidikku dengan ruh. Jiwa itu laksana mutiara, sedangkan jasad hanyalah cangkangnya.”

Kalimat ini menggugah kesadaran santri di zaman modern agar tidak melupakan ruh ilmu — adab dan khidmah. Sebab di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, hanya mereka yang menjaga adab kepada guru yang akan meraih keberkahan ilmu.

Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menegaskan:

الطالب الخدوم أحسن عندي من الطالب المجتهد.

“Santri yang senang berkhidmah bagiku lebih baik daripada santri yang rajin belajar.”

الطالب عندي من يتعلم ويخدم، ومن يخلص في خدمته يفتح الله عليه.

“Yang disebut murid adalah yang belajar dan berkhidmah, dan siapa yang tulus dalam khidmahnya, Allah akan membukakan baginya pintu kebaikan.”

Ungkapan-ungkapan ini menggambarkan satu prinsip besar: bahwa khidmah adalah pintu keberkahan, dan keberkahan adalah ruh dari seluruh perjalanan ilmu.

Seperti pepatah Arab yang indah mengatakan:

بالعلم ارتفع وبالخدمة انتفع.

“Dengan ilmu seseorang diangkat derajatnya, dan dengan khidmah ia memperoleh manfaat.”

Maka Hari Santri Nasional 2025 bukan hanya peringatan, tetapi pengingat — bahwa ilmu tidak akan hidup tanpa adab, dan adab tidak akan kokoh tanpa khidmah. Khidmah adalah cermin cinta seorang santri kepada gurunya, dan dari cinta itulah lahir keberkahan.

Dalam setiap sujud santri, dalam setiap langkah menuju majelis ilmu, tersimpan doa dan harapan agar cahaya ilmu itu tetap hidup di bumi pesantren. Sebab dari santri yang berkhidmah lahirlah ulama yang penuh hikmah — pewaris para nabi yang menerangi zaman dengan ilmu dan adab.

Artikulli paraprakAntara Menikah Dan Mencari Ilmu
Artikulli tjetërISTIGHOTSAH DAN MAU’IDZOH DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI SANTRI NASIONAL 2025

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini