Syekh Ibnu ‘Athoillah Menasehati
Maka di sini Syekh Ibnu ‘Athoillah menasehati supaya kita tidak menunggu bisa lepas dari urusan duniawi, karena hal itu tidak akan bisa dihindari. Ketika muda dia mempunyai urusan duniawi yang membahayakan. Begitu juga di usia tua juga banyak rintangan. Ketika hidup di negara Eropa, tidak akan hilang urusan dunia dengan pindah ke negara aslinya, karena di negara aslinya juga banyak urusan dunia. Bagaimana bisa lepas dari urusan dunia padahal dirimu penuh dengan urusan dunia?
Hatimu berbicara tentang keistimewaanmu, amal ibadahmu, itu adalah urusan dunia yang merusakmu walaupun engkau hidup sendirian di tempat tersembunyimu.
Gundah hatimu karena dicaci orang, perasaan sakit hatimu karena dimusuhi orang, itu juga termasuk bahaya yang terus-menerus akan bersamamu.
Keinginanmu untuk mempunyai rumah yang bagus, keinginanmu kepada kesenangan-kesenangan yang tidak kau dapatkan, semuanya itu perkara yang menyibukkanmu sehingga engkau rusak karena engkau lupa akan Allah SWT.
Menghadapi Kesibukan Kita Dengan Urusan Dunia Ini?
Lalu bagaimana kita menghadapi kesibukan kita dengan urusan dunia ini? Cara satu-satunya adalah lari kepada Allah SWT. Arti lari kepada Allah SWT adalah memperbanyak berdoa, mengadu ringkihnya kekuatanmu, beserta memperbanyak ingat kepada Allah SWT dengan berdzikir. Manusia yang mengobati dirinya dengan obat ini maka Allah SWT akan menjadikan obat ini sebagai perahu penyelamat di bahtera lautan yang penuh dengan ombak keduniawian. Dia melakukan perdagangan, berinteraksi dengan masyarakat yang banyak ada yang baik ada yang jelek, banyak teman disekolah yang jauh dari Allah SWT.
Di dalam lingkungan yang rusak ini, dia akan mendapatkan kapal penyelamat kalau dia lari meminta kepada Allah SWT supaya dilindungi dari kerusakan-kerusakan lingkungannya. Penyelamat itu adalah berdoa kepada Allah SWT dengan sepenuh hati, dan memperbanyak dzikir mengingat Allah SWT.
Hal-hal semacam itulah yang dilakukan para sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW Mereka menyebarkan agama Islam di penjuru dunia yang penuh dengan kerusakan, kefasikan, fitnah harta dan jabatan. Mereka selamat dari fitnah dunia karena mereka bertawakkal kepada Allah SWT dengan tawakkal yang hakiki.
Sumber: Kitab al-Hikam karya Syaikhina KH. Ahmad Wafi MZ


