Bulan Ramadhan yang kita tunggu akhirnya telah tiba. Bulan istimewa yang hanya diperuntukkan untuk umat Rasulullah SAW. Ya, hal ini mengacu pada hadits Rasulullah SAW, beliau bersabda;

 

رَجَبُ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ

Rajab adalah bulan Allah, sedangkan Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku”.

 

Berbicara tentang bulan Ramadhan, mungkin yang teringat adalah cerita waktu masih kecil dulu, dimana saat-saat seru itu sangat tidak dapat dilupakan, seperti aktivitas bangunin sahur bareng teman sebaya, momen berbuka bersama dengan keluarga, atau ikut berjamaah sholat tarawih namun hanya pada rakaat terakhir saja. Tentu hal ini yang sangat dinanti-nantikan saat bulan Ramadhan tiba. Namun yang akan dibahas pada topik kali ini bukan tentang nostalgia masa kecil saat Ramadhan tiba, apalagi kenangan indah buka bersama bareng dia, bukan. Ada hal yang jauh lebih penting dari itu, yang bisa membuat kita menantikan bulan Ramadhan dengan penuh kerinduan dan menambah intensitas amal ibadah kita pada Ramadhan kali ini dan Ramadhan selanjutnya.

 

Bulan Ramadhan adalah bulan ke-9 dalam urutan kalender Hijriyah. Pada bulan ini kita disyariatkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh dengan ketentuan menahan makan-minum dan hasrat birahi mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Tapi sebenarnya, bukan hanya kita umat Nabi Muhammad yang diberi syariat berpuasa, umat-umat terdahulu pun juga demikian, hanya saja tatacara dan waktunya berbeda. Hal ini disebutkan dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 183, Allah berfirman :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْن

“Wahai orang-orang yang beriman, telah ditetapkan kewajiban berpuasa bagimu sepertihalnya telah ditetapkan pula kewajiban berpuasa bagi orang-orang sebelum kamu agar kalian bertaqwa”.

 

Para umat terdahulu juga diwajibkan berpuasa, hanya saja dengan cara dan waktu yang berbeda pula. Satu contoh seperti pada zaman Nabi Nuh AS. Umat Nabi Nuh diwajibkan berpuasa sehari penuh selama 50 hari. Perbedaan tatacara dan waktu seperti ini tentu menyesuaikan dengan kekuatan dan ketahanan fisik setiap umat. Mereka kaum Nabi Nuh yang berpostur tinggi besar tentu akan kuat berpuasa seperti demikian. Sedangkan kita umat Nabi Muhammad SAW dengan postur yang jauh lebih kecil daripada kaum Nabi Nuh, tentu tidak akan kuat menahan lapar seharian penuh selama 50 hari. Bahkan ada juga umat terdahulu yang disyariatkan berpuasa selama setahun penuh, MasyaAllah.

 

Jika dibayangkan, mungkin pahala yang didapat dengan berpuasa sepertihalnya yang dilakukan oleh umat terdahulu sangatlah besar, dan mungkin kita tidak akan pernah bisa menandingi pahala yang mereka peroleh. Apalagi umur para umat terdahulu seperti umat Nabi Nuh sangatlah panjang, bahkan bisa mencapai 1000 tahun. Sedangkan umur kita rata-rata kisaran 60 sampai 70 tahun saja. Tetapi bayang-bayang itu akhirnya sirna dengan kabar gembira dari Allah SWT yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Ya, kabar gembira itu ialah datangnya bulan suci Ramadhan yang di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadr, satu malam yang setara dengan 1000 bulan atau sekitar 83 tahun. Dan setiap amal ibadah yang dilakukan pada bulan ini akan dilipatgandakan oleh Allah hingga 100 kali lipat atau lebih.

 

Secara global, berikut adalah beberapa keistimewaan bulan Ramadhan yang berhasil kami rangkum. Setidaknya ada 4 poin penting yang akan dipaparkan sebagai berikut;

 

  1. Bulan Penuh Ampunan

 

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh ampunan, dimana pada bulan ini dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah. Ramadhan berasal dari kata رَمَضَ يَرْمَضُ yang secara harfiah memiliki arti “membakar”. Dari situ kemudian penamaan bulan ini dengan nama “Ramadhan” diinterpretasikan sebagai momentum untuk membakar dosa-dosa yang pernah dilakukan. Tentu dosa yang dibakar tidak melulu karena bulannya yang istimewa, tapi juga usaha kita untuk bertaubat yang juga tak bisa lepas dari rahmat Allah SWT. Rasulullah bersabda :

 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ

“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan bersungguh-sungguh, maka ia akan diberi ampunan atas dosa yang telah ia perbuat maupun yang belum ia perbuat”.

 

Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan bahwa pengampunan bagi dosa yang telah lampau adalah sebuah keniscayaan. Akan tetapi mengenai pengampunan dosa yang belum dilakukan menurut beliau adalah sebuah janji Allah kepada hambanya. Allah berjanji mengampuni hambanya yang melakukan dosa secara tidak sengaja. Berbeda halnya jika ia melakukan dosa dengan sengaja atau bahkan sudah terencana, maka ia harus menyesali dosa yang ia perbuat, meminta ampunan Allah, dan juga bertaubat.

 

  1. Dilipatgandakannya Amal Baik

 

Selain pengampunan dosa yang dijanjikan oleh Allah pada bulan Ramadhan, bulan Ramadhan juga merupakan bulan dimana amal baik akan dilipatgandakan berkali-kali lipat daripada hari biasanya. 1 amal baik yang dikerjakan pada bulan Ramadhan akan dilipatgandakan 10 kali lipat atau bahkan hingga 700 kali lipat daripada biasanya. Bahkan menurut Imam an-Nakho’i puasa satu hari pada bulan Ramadhan itu lebih baik daripada 1000 hari berpuasa di selain bulan Ramadhan, 1 bacaan tasbih pada bulan Ramadhan lebih utama dari 1000 bacaan tasbih di selain bulan Ramadhan, dan 1 rakaat sholat pada bulan Ramadhan itu lebih utama daripada 1000 rakaat di selain bulan Ramadhan.

 

Bagaimana mungkin kesempatan seperti ini akan kita sia-siakan, sedangkan jika kita hitung amal ibadah kita sehari-hari tentu tidak akan sanggup untuk mendapatkan tiket menuju surga, atau bahkan menandingi amal ibadah umat terdahulu. Satu contoh saja sholat dan anggap saja umur kita 30 tahun. Sehari kita diwajibkan sholat 5 waktu. Anggap saja durasi sholat kita adalah 5 menit, kemudian dikalikan dengan 5 waktu, hasilnya 25 menit kita sholat selama satu hari. Satu tahun ada sekitar 360 hari dikalikan dengan 25 menit sholat kita setiap hari, hasilnya 9000 menit atau 150 jam atau juga setara dengan 6 hari lebih 6 jam. Berarti selama satu tahun sama halnya kita hanya sholat 6 hari 6 jam saja. Sedangkan umur kita anggap saja 30 tahun, dan kita diwajibkan menunaikan sholat dan dianggap mukallaf sejak umur 15 tahun (jika laki-laki). Berarti ada 15 tahun kewajiban sholat kita, kemudian 6 hari 6 jam sholat kita tadi dikalikan 15 tahun mulai dari umur kita baligh, hasilnya selama 15 tahun lamanya kita hanya menunaikan sholat sebanyak 3 bulan lebih 3 hari 18 jam saja. Apabila perempuan, berarti kewajiban sholatnya dimulai umur 9 tahun. Kemudian hasil penjumlahan tadi dikurangi berapa hari kebiasaan haid dan nifas.

 

  1. Lailatul Qadr

 

Membahas tentang bulan Ramadhan tentu tak akan lepas dari yang namanya Lailatul Qadr. Penamaan “Lailatul Qadr” diambil dari kata مقدار (Miqdar) yang berarti derajat atau tingkat. Menurut Imam Abdullah Sirajuddin al-Husainy arti kata al-Qadr adalah derajat, keutamaan, dan kemuliaan. Itu sebabnya mengapa malam istimewa itu dinamakan “Lailatul Qadr”, karena di dalamnya terdapat derajat dan kemuliaan besar yang diberikan oleh Allah. Barang siapa beramal baik pada malam Lailatul Qadr maka dia samahalnya beramal selama 1000 bulan atau 83 tahun lebih 4 bulan menurut Imam Ahmad Bin Muhammad as-Showy. Bahkan ada satu riwayat hadits dari Abi Hurairah RA yang menjelaskan tentang amal ibadah yang diganjar sama dengan mengerjakan ibadah selama 12 tahun, apabila dikerjakan pada waktu malam Lailatul Qadr. Rasulullah SAW bersabda ;

 

مَنْ صَلَّى بَعْدَ الْمَغْرِبِ سِتَّ رَكَعَاتٍ لَمْ يَتَكَلَّمْ فِيْمَا بَيْنَهُنَّ بِسُوْءٍ عُدِلْنَ بِعِبَادَةِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً

“Barang siapa yang mengerjakan sholat enam rakaat seusai sholat maghrib dan dia tidak berbicara atau membicarakan hal buruk, maka dia diganjar samahalnya dengan beribadah selama duabelas tahun”

– HR. Abu Hurairah –

 

        Lailatul Qadr terdapat pada hari-hari ganjil di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, antara malam 21, 23, 25, 27, atau 29. Tidak ada yang tahu di malam keberapa tepatnya Lailatul Qadr akan tiba.

 

Banyak ulama yang berupaya menafsiri ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW untuk mengidentifikasi kapan jatuhnya Lailatul Qadr. Ada yang melalui pendekatan hitungan ‘Abajadun’, Jumlah huruf atau kalimat pada Surah al-Qadr, atau dengan cara ketetapan jatuhnya awal Ramadhan pada hari tertentu.

 

Yang paling masyhur adalah tanggal 17 Ramadhan seperti yang diriwayatkan Ibnu Abbas, yakni dimana pada saat itu terjadi perang badar, yang pada saat itu pula Allah SWT menurunkan bala bantuan para malaikat bagi kaum muslimin. Sebagian ulama juga ada yang berpendapat bahwa jatuhnya Lailatul Qadr pada malam ke-27, dengan berlandaskan isyarat pada huruf لَيْلَةُ الْقَدْرِ yang berjumlah 9 huruf. Dan lafadz tersebut diulang-ulang sebanyak 3 kali dalam surah al-Qadr yang menghasilkan angka 27 yang berarti 9×3=27. Dari angka 27 inilah ulama meyakini bahwa Lailatul Qadr jatuh pada malam ke-27.

 

Ada juga ulama yang menetapkan jatuhnya Lailatul Qadr dengan cara melihat awal jatuhnya bulan Ramadhan. Menurut Imam Abul Hasan as-Syadzily apabila awal bulan Ramadhan jatuh pada hari Ahad, maka Lailatul Qadr jatuh pada malam ke-29, apabila hari Senin maka Lailatul Qadr jatuh pada malam ke-21, apabila hari Selasa maka pada malam ke-27, apabila hari Rabu maka pada malam ke-29, apabila hari Kamis maka pada malam ke-25, apabila pada hari Jumat maka pada malam ke-17, dan apabila awal bulan Ramadhan jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadr jatuh pada malam ke-23.

 

Allah merahasiakan Lailatul Qadr agar para hambanya senantiasa semangat mencari ridha-Nya dan berlomba-lomba mendapatkan Lailatul Qadr. Andai saja malam Lailatul Qadr tidak dirahasiakan oleh Allah, niscaya para hambanya hanya akan totalitas beribadah pada waktu itu saja dan meremehkan ibadah di hari-hari biasa.

 

  1. Turunnya al-Qur’an

 

Pada bulan suci ini juga Allah memberi karunia yang amat sangat besar pada Baginda Nabi SAW dan umatnya, yakni al-Qur’an al-Karim yang juga merupakan mu’jizat paling agung yang diberikan Allah SWT pada Nabi Agung Muhammad SAW.

 

Allah berfirman :

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai pembeda (antara yang benar dan yang batil).”

 

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah dengan mengutus malaikat Jibril. Malaikat Jibril membawanya dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia pada malam ke-24 bulan Ramadhan.

 

Selama kurang lebih 23 tahun al-Qur’an ditempatkan oleh Allah di tempat yang bernama Baitul Izzah di langit dunia. Selama kurun waktu itu juga al-Qur’an diturunkan kepada baginda Rasulullah SAW secara berangsur-angsur sesuai kondisi yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW.

 

Rasulullah SAW menerima wahyu pertama kalinya pada malam ke-17 bulan Ramadhan di gua Hira’. Wahyu yang pertama kali adalah penggalan surah al-‘Alaq dari ayat pertama hingga ayat ke-5. KH Maimoen Zubair pada salah satu pengajiannya pernah menjelaskan tentang keistimewaan kemerdekaan Indonesia yang ada hubungannya dengan Nuzulul Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa malam 17 Ramadhan bertepatan dengan tanggal 8 Agustus. Beliau juga menambahkan bahwa Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 juga bertepatan dengan tanggal 8 Ramadhan.

 

Adapun hikmah dibalik turunnya al-Qur’an dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia selama kurang lebih 23 tahun, dan juga diturunkannya al-Qur’an kepada Rasululllah SAW secara berangsur-angsur adalah, karena langit dunia merupakan pembatas antara alam ’Ulwi’ (atas) dan alam ‘Sufli’ (bawah/dunia). Sebab, andai saja al-Qur’an langsung diturunkan dari Lauhil Mahfudz ke alam dunia atau alam ‘Sufli’ tentu saja dunia ini akan hancur lebur seperti yang difirmankan Allah SWT dalam al-Qur’an surah al-Hasyr ayat 21, Allah berfirman :

 

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Andaikan saja Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya (gunung itu) tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.

 

  1. KESIMPULAN

 

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh ampunan, dimana pada bulan ini dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah. Selain pengampunan dosa yang dijanjikan oleh Allah pada bulan Ramadhan, bulan Ramadhan juga merupakan bulan dimana amal baik akan dilipatgandakan berkali-kali lipat daripada hari biasanya. Pada bulan suci ini juga Allah menyisipkan lailatul qadar dan menurunkan al-Qur’an al-Karim.

Dari sini, seharusnya kita tidak melalaikan dan tidak menyia-nyiakan bulan Ramadhan, dan harusnya kita lebih semangat lagi dalam menjalankan amal ibadah pada bulan tersebut. Sebab amal ibadah kita sebenarnya sangat tidak layak untuk kita jadikan dalih mendapatkan rahmat dan pengampunan-Nya. Satu contoh saja sholat seperti uraian di atas.

 

Tentu kita patut bersyukur kepada nikmat besar yang diberikan oleh Allah SWT yang telah menjadikan kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW dan diberikan bulan Ramadhan dimana amal kita dilipatgandakan berkali-kali lipat oleh Allah SWT.

 

  1. PENUTUP

 

Sebenarnya masih sangat banyak keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan, seperti keutamaan sholat tarawih di setiap malamnya, keutamaan ‘Qiyamul Lail’, keutamaan tadarrus al-Qur’an, dan masih banyak lagi. Semoga dari sedikit pemaparan tentang sekelumit bulan Ramadhan ini, kita bisa memaksimalkan momentum ini dengan penuh ketaatan dan ketabahan. Dan semoga diberi kesehatan dan umur panjang yang berkah agar bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadhan yang selanjutnya. Amin Ya Rabbal Alamin.

Artikulli paraprakBALAGH RAMADLAN 1443 H PP. AL-ANWAR 1
Artikulli tjetërTahlil & Kirim Do’a Peringatan Haul ke-53 KH. Zubair Dahlan Sarang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini