Rasulullah SAW Suri Tauladan yang Sempurna
Syaikh Yasir dalam mauidhohnya menyampaikan bagaimana mencontoh Baginda Rasulullah SAW secara menyeluruh dan bagaimana agar istiqomah, karena istiqomah adalah sejatinya kemuliaan.
Ahlullah, para wali Allah itu berusaha sebisa mungkin untuk mengikuti Nabi. Terlebih para sahabat – sebagai orang-orang terdekat Nabi – mereka tidaklah main-main dalam hal mengikuti Nabi.

Semisal Sahabat Abdullah bin Umar, beliau ketika tahu bahwa Rasulullah menyukai labu – obat yang Nabi Yunus gunakan untuk mengobati luka karena efek setelah keluar dari perut ikan paus – maka Ibnu Umar pun menyukainya.
Ibnu Umar seperti itu karena firman Allah dalam Surat Al-Ahzab Ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا ٱللهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلأخِرَ وَذَكَرَ ٱللهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Ayat tersebut tidak menjelaskan spesifik ‘Dalam hal apa Rasulullah menjadi suri tauladan’ agar kita bisa mengikuti semua, makan dan minum, bagaimana berinteraksi dengan keluarga, sahabat, musuh, dll.
Beliau berpesan kepada para santri, “Kita sebagai ummat Rasulullah harus mencintai Rasulullah melebihi apapun. Dan mulai detik ini kita jadikan sunnah Nabi sebagai target utama kita. Allah mengangkat derajat Masyayikh kita tidak lain karena mereka mengedepankan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.”
Terakhir, acara ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh Syaikh Yasir Al-Qadmani.


