RANGKAIAN ACARA
Acara dimulai sekitar pukul 20.00 WIB bertempat di bagian selatan Musholla Pondok Pesantren Al-Anwar (Musholla K. Zubair Dahlan). Pembawa Acara pada kesempatan ini adalah sdr. Sholahuddin Al-Ayyubi. Susunan acara meliputi, Pertama Pembukaan, dilanjutkan dengan Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an oleh sdr. Ahmad Farid kemudian dilanjutkan dengan sambutan atas nama Panitia Harlah Ke-59 oleh Ust. M. Fatichul Haikal sekaligus Pengumuman Libur Maulud, yakni mulai hari Selasa, 9 Rabi’ul Awal 1447 H./2 September 2025 M. sampai hari Jumat, 19 Rabi’ul Awal 1447 H./12 September 2025 M.
Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Al-Diba’i dan Salawat yang dipimpin oleh HMA Al-Anwar (Hadroh Marawis Al-Anwar) dan Do’a Maulid oleh Syaikhina KH. Abdurro’uf MZ. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Tahlil yang dipimpin oleh KH. Ahmad Wafi MZ dan Do’a Tahlil oleh Syaikhina KH. Abdul Ghofur MZ. Kemudian dilanjutkan acara puncak yaitu Mauidhoh Hasanah dan Doa oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar 1 beliau Syaikhina KH. Muhammad Najih Maimoen.
Pada kesempatan ini, Beliau mengingatkan kepada santri agar berangkat ke pondok tepat waktu. Kebanyakan orang sukses adalah orang yang tepat waktu, tidak ada waktu yang terbuang untuk hal-hal yang tidak berguna. Datang ke Pondok tepat waktu juga menunjukkan bahwa niat sesorang santri memang betul-betul untuk tholabul ilmi. Keberhasilan, Kesuksesan, dan Kemuliaan kuncinya adalah tepat waktu.
“Wong seng ora tepat waktu gak ono potongan sugeh”.
Adapun bagi santri yang tidak pulang, Beliau berpesan agar diniati untuk menjaga pondok. Beliau juga menyampaikan bahwa Mbah Mad pernah berdo’a;
“Sopo Wonge seng mondok gak muleh 8 tahun tak dongakno nek ora ngalim yo sugeh”.
Syaikhina KH. Muhammad Najih Maimoen juga menyampaikan bahwa Nabi Muhammad Saw, adalah Nabi yang paling sempurna Kerasulannya. Tapi kita tidak boleh yang sampai merendahkan Nabi-Nabi yang lain. Umat Nabi Muhammad adalah umat yang paling banyak. Nur Nabi Muhammad di sulbinya Nabi-Nabi terdahulu membawa keberjkahan bagi mereka, seperti Nabi Ibrahim yang selamat dari Api dan Nabi Nuh yang selamat dari Banjir Bah, serta Nabi-nabi yang lainnya, seperti yang tertera di Maulid Al-Diba’i.
Beliau juga menyampaikan bahwa hakikat kita merayakan maulidurrosul adalah kita harus mengingat semua sejarah Nabi, mulai dari lahirnya Nabi bahkan sebelum lahirnya Nabi sampai Nabi wafat, bukan hanya memperingati lahirnya saja, karena banyak sekali peristiwa sebelum lahirnya Nabi sebagai tanda-tanda bahwa Khotimul Al-Anbiya’ akan lahir.
Yang terakhir, Beliau berpesan agar jangan hanya larut dan hanyut dalam keutamaan Nabi saja, tapi kita juga harus mengikuti Sunnah Nabi (tindak lampahnya).


