Jangan Terburu-buru Mengatakan Doa Tidak Dikabulkan
Rasulullah ﷺ mengingatkan umatnya agar tidak tergesa-gesa dalam menunggu jawaban doa.
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
Artinya: “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan mengatakan: ‘Aku telah berdoa, tetapi doaku belum juga dikabulkan.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibarot hadis di atas sebenarnya sangat dekat dengan problem yang sering kita alami. Kita berdoa hari ini, berharap besok mendapatkan jawaban. Ketika belum mendapatkannya, kita mulai gelisah. Setelah beberapa hari, kita mulai mengurangi doa. Dan ketika waktu berjalan semakin lama, akhirnya muncul ucapan dalam hati, “Saya sudah berdoa berkali-kali, tetapi kok belum dikabulkan?” Padahal, justru sikap semacam inilah yang diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ.
Problemnya bukan karena Allah tidak mendengar doa kita. Problemnya adalah karena kita terlalu cepat menentukan kapan Allah harus menjawab doa kita.
Apakah Doa yang Belum Dikabulkan Berarti Ditolak?
Dalam pembahasan para ulama, doa seorang mukmin tidak selalu harus dipahami dengan ukuran “terkabul atau tidak terkabul”. Ada keadaan ketika seseorang mendapatkan apa yang dimintanya secara langsung. Ada pula keadaan ketika Allah menunda pemberiannya. Bahkan, ada kemungkinan Allah memberikan sesuatu yang berbeda dari apa yang diminta karena hal tersebut lebih baik bagi hamba-Nya.
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ، قَالَ: اللَّهُ أَكْثَرُ.
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim berdoa dengan suatu doa yang di dalamnya tidak terdapat dosa dan tidak pula memutus silaturahmi, melainkan Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal: adakalanya doanya segera dikabulkan, atau disimpan untuknya di akhirat, atau dengan doa tersebut Allah menghindarkan darinya keburukan yang semisal dengannya.” Para sahabat berkata, “Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.” Beliau ﷺ bersabda, “Allah lebih banyak (pemberian-Nya).” (Musnad Ahmad, no. 11133, dari Abu Sa‘id al-Khudri رضي الله عنه )
Disebutkan bahwa doa seorang Muslim tidaklah sia-sia. Jawabannya bisa berupa dikabulkannya permintaan, disimpannya pahala untuk akhirat, atau dihindarkannya suatu keburukan dari dirinya. Maka, ketika seseorang berdoa meminta sesuatu kemudian belum mendapatkannya, bukan berarti doanya hilang begitu saja. Inilah bagian yang terkadang sulit dipahami oleh manusia. Kita hanya melihat apa yang terjadi di depan mata, sedangkan Allah mengetahui apa yang akan terjadi setelahnya.
Bisa Jadi yang Kita Minta Bukan yang Terbaik
Salah satu hal yang perlu kita sadari ketika berdoa adalah bahwa kita sering kali hanya mengetahui apa yang kita inginkan, tetapi tidak mengetahui apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Allah ﷻ berfirman:
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Redaksi وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ menjadi salah satu kunci dalam memahami problem ini. Kita tidak mengetahui seluruh akibat dari sesuatu yang kita minta. Kita mungkin meminta seseorang untuk hadir dalam hidup kita, tetapi Allah mengetahui bahwa kehadirannya justru akan membawa mudarat. Kita mungkin meminta suatu pekerjaan, tetapi Allah mengetahui bahwa pekerjaan tersebut akan menjauhkan kita dari keluarga atau agama. Dan kita mungkin meminta agar sebuah keinginan segera terwujud, sementara Allah mengetahui bahwa kita belum siap menerimanya.


