Penundaan Jawaban Juga Membutuhkan Kesabaran

Ada kalanya Allah memberikan apa yang kita minta dengan cepat. Namun ada kalanya kita harus menunggu. Dan menunggu bukan berarti Allah tidak memperhatikan. Dalam kehidupan sehari-hari saja, kita memahami bahwa sesuatu yang baik tidak selalu datang dengan segera. Ada sesuatu yang membutuhkan proses, waktu, dan kesiapan. Begitu juga dengan doa.

Imam Al-Ghazali dalam pembahasan tentang adab doa menjelaskan pentingnya menjaga harapan kepada Allah dan tidak menjadikan keterlambatan jawaban sebagai alasan untuk meninggalkan doa.

وينبغي ألاَّ يستبطىءَ الإجابةَ؛ لقولِهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ: (( يستجابُ لأحدِكُمْ ما لمْ يعجلْ فيقولَ: دعوتُ فلمْ يستجبْ لي)» فإذا دعوتَ .. فاسْألِ اللهَ كثيراً ؛ فإنَّكَ تدعو كريماً .

Artinya: “Hendaknya seseorang tidak menganggap lambat terkabulnya doa, berdasarkan sabda beliau ﷺ: “Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata: ‘Aku telah berdoa, tetapi doaku belum dikabulkan.’” Maka apabila engkau berdoa, mintalah kepada Allah dengan banyak, karena sesungguhnya engkau berdoa kepada Dzat Yang Mahamulia.”

Maka, ketika doa belum kunjung dikabulkan, hendaknya seorang hamba tetap memperbanyak istighfar, memperbaiki amal, menjaga adab, dan terus berdoa. Bukan karena kita memaksa Allah untuk memberikan apa yang kita inginkan. Tetapi karena kita percaya bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Lalu Apa yang Harus Kita Lakukan?

Jika sampai sekarang ada doa yang belum kunjung dikabulkan, maka setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

Pertama, tetap berdoa.

Jangan berhenti hanya karena jawaban belum terlihat.

Kedua, lakukan muhasabah.

Periksa kembali hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia. Tinggalkan dosa, perbanyak istighfar, dan selesaikan hak-hak orang lain.

BACA JUGA :  Khidmah Kepada Kiai

Ketiga, perbaiki adab dalam berdoa.

Awali dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Berdoalah dengan hati yang rendah dan penuh harap.

Keempat, pilih waktu-waktu yang dianjurkan untuk berdoa.

Di antaranya ketika sujud, pada waktu-waktu tertentu di malam hari, setelah azan, dan waktu-waktu mustajab lainnya yang disebutkan dalam banyak hadis Nabi.

Kelima, jangan menentukan bentuk jawaban Allah.

Tugas kita adalah meminta. Adapun bagaimana Allah memberikan jawaban, itu adalah hak Allah.

Kesimpulan

Kesimpulan yang kita dapat dari pembahasan ini adalah bahwa doa yang belum kunjung dikabulkan tidak boleh langsung dipahami sebagai doa yang ditolak. Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa Allah dekat dengan hamba-Nya dan menjawab doa orang yang berdoa kepada-Nya. Hadis Nabi ﷺ juga mengingatkan agar seorang hamba tidak tergesa-gesa hanya karena jawaban doanya belum terlihat. Maka ketika sebuah doa belum terwujud, ada baiknya kita tidak hanya melihat ke arah langit sambil bertanya, “Kapan Allah akan memberikan apa yang saya minta?” Tetapi sesekali kita juga perlu melihat ke dalam diri dan bertanya:

“Apa yang sedang Allah ajarkan kepada saya melalui penantian ini?”

Bisa jadi penundaan tersebut mengajarkan kita sabar. Bisa jadi ia mengajarkan kita tawakkal. Bisa jadi Allah sedang membersihkan hati kita. Bisa jadi Allah sedang menghindarkan kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui. Atau bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada apa yang selama ini kita minta.

Karena itu, jangan berhenti berdoa hanya karena belum melihat jawaban. Tetaplah mengetuk pintu-Nya. Sebab seorang hamba tidak pernah rugi ketika memilih untuk terus kembali kepada Allah.

Wallahua’lam..

1
2
3
4
Artikulli paraprakHukum Pelestarian Candi dan Penggalian Situs Sejarah Menurut Pandangan Fiqih

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini