Tanggal 28 Oktober 1928 adalah momentum sejarah yang agung. Saat itu, para pemuda dari berbagai suku dan daerah mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Ikrar inilah yang memantik semangat para pemuda diseluruh indonesia untuk berjuang merebut negeri dari tangan para penjajah yang saat itu sedang menguasai Indonesia.
Dibalik bulan Oktober yang menjadi bulan paling disukai KH. Maimoen Zubair (Mbah Mun) karena beliau pernah berkata bahwa Nabi Muhammad SAW. hijrah dibulan oktober, bangsa Indonesia dipersatukan dibulan oktober, dan Mbah mun dilahirkan dibulan oktober. Ada satu pesan yang sangat mendalam tentang sumpah pemuda yang disampaikan oleh Mbah Mun. Dalam satu kesempatan pada perayaan hari sumpah pemuda beliau berpesan bahwa :
“Bangsa Indonesia bisa mempunyai empat ucapan pilar kebahagiaan: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, dan satu negara. Itu dimulai Sumpah Pemuda.
Jadi, Sumpah Pemuda itu rujukan gerak daripada bangsa ini mengantarkan pada proklamasi.
Hadistnya itu sangat cocok, Ada hadis…
…subbanul yaum rijalul ghad (anak-anak muda yang sekarang, nanti yang mengantarkan bangsa ini).”
Dawuh beliau ini begitu mengena dan begitu pas jika kita sandingkan dengan kemerdekaan yang diraih oleh bangsa indonesia. Dalam mauidzoh tersebut beliau menjelaskan bahwa bangsa Indonesia mempunyai empat pilar kebahagiaan: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, dan satu negara. Dan itu dimulai dari Sumpah Pemuda.
Beliau manambahkan satu pondasi untuk menyempurnakan pilar dari sumpah pemuda yadengan sempurnanitu satu negara. Dan ya empat pilar dari sumpah pemuda, ikrar ini mampu mengantarkan indonesia sampai pada titik proklamasi ditahun 1945.
Sama seperti sumpah pemuda, beliau juga menyampaikan pada saat haul KH. Wahab Hasbullah ke-46 di Tambakberas, Jombang bahwa Indonesia juga harus memiliki memiliki empat pilar, yaitu UUD 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Satu nusa
Dalam dawuh Mbah Moen, “satu nusa” merujuk pada ikatan kesatuan tanah air atau wilayah geografis Nusantara yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Bagi Mbah Moen, “satu nusa” adalah pilar fondasi pertama dari kebahagiaan berbangsa, di mana seluruh daratan dan lautan yang ada di wilayah Indonesia dipandang bukan sebagai sekadar bentang alam yang terpisah oleh selat dan samudera, melainkan sebagai satu kesatuan tempat hidup (tanah air) yang dianugerahkan oleh Tuhan bagi seluruh rakyatnya.
Lebih jauh lagi, pemaknaan “satu nusa” ini memiliki pijakan historis dan spiritual yang sangat kuat bagi kaum santri dan para pemuda. Melalui ikrar Sumpah Pemuda 1928, para pejuang tanah air berhasil melebur batas-batas kedaerahan yang selama ini menjadi celah bagi penjajah untuk memecah belah bangsa. Dengan menyadari bahwa kita berdiri di atas nusa yang sama, seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang kedaerahan maupun suku memiliki rasa kepemilikan dan tanggung jawab moral yang sama untuk menjaga, membela, dan memelihara keutuhan wilayah Indonesia sebagai tempat bernaung yang aman, damai, dan membawa keberkahan bagi bersama.


