Satu bangsa 

Lalu pada dawuh Mbah Moen “satu bangsa” beliau ingin merujuk pada kesadaran identitas dan rasa persaudaraan sebagai satu ikatan kebangsaan Indonesia yang mencakup berbagai ragam perbedaan, baik suku, ras, etnis, dan agama. “Satu bangsa” adalah pilar kebahagiaan yang mengaitkan jiwa seluruh rakyat, di mana ikatan kedaerahan yang tadinya terpisah-pisah seperti Jawa, Sunda, Batak, Bugis, hingga Papua dilebur menjadi satu takdir perjuangan yang sama.

Hal ini tak lepas dari firman Allah SWT. dalam surat Al-Hujurat ayat 13 : 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Makna “satu bangsa” ini tentunya lahir dari kesadaran bersama para pemuda dan kaum santri saat mengikrarkan Sumpah Pemuda 1928, yang menyadarkan bahwa perlawanan terhadap penjajahan tidak akan berhasil jika masyarakat bergerak sendiri-sendiri. Dengan memeluk rasa “satu bangsa”, rakyat Indonesia tidak lagi memandang perbedaan sebagai alasan untuk berkonflik, melainkan sebagai kekayaan yang disatukan oleh rasa saling mengasihi, toleransi, dan cita-cita bersama untuk hidup berdampingan secara rukun, damai, serta bermartabat di tanah airnya sendiri.

Satu bahasa

Kata “satu bahasa” merujuk pada pentingnya bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi pemersatu yang mampu menjembatani serta menyatukan ratusan suku dan bahasa daerah di seluruh Nusantara. Bagi Mbah Moen, “satu bahasa” merupakan salah satu pilar utama kebahagiaan berbangsa karena bahasa persatuan inilah yang memungkinkan terjadinya pemahaman, rasa saling mengerti, dan ikatan emosional sesama masyarakat yang memiliki berbagai latar belakang.

BACA JUGA :  ILA KULLI FATATIN TU'MINU BILLAH Bag. 1

 

keragaman bahasa adalah salah satu tanda kebersaran Allah seperti pada ayat : 

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

Artinya: “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berilmu.” (QS. Ar-Rum [30]: 22)

Dan di Indonesia, keberagaman bahasa tersebut dapat disatukan menjadi satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.

Secara historis dan keagamaan, sebelumnya, pilar ini sudah memiliki akar yang sangat kuat dalam tradisi literasi dan dakwah di lingkungan pesantren. Bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia sudah lama dipergunakan oleh para ulama dan santri sebagai bahasa pengantar dalam mengajar, menulis naskah kitab (seperti penggunaan aksara Pegon), dan menyebarkan nilai-nilai kedamaian. Ketika para pemuda menjunjung tinggi bahasa Indonesia dalam Sumpah Pemuda 1928, pilar ini tidak hanya menjadi simbol politik, melainkan sarana ampuh untuk menguatkan persatuan nasional yang memudahkan perjuangan bersama menuju kemerdekaan.

1
2
3
4
Artikulli paraprakSHOLAWAT & MAU’IDZOH DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI SANTRI NASIONAL 2026 M.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini